
Reza sedang duduk menunggu pelayan menyajikan pesanannya di restoran cepat saji bersama kedua temannya, setelah berbincang cukup lama dengan salah satu anak buahnya di kantor tadi ia merasa perutnya lapar dan minta diisi.
“Za, Aku sudah keliling cari sepatu sesuai warna yang Kamu minta. Tapi gak dapet. Bisa pesan tapi harus nunggu satu bulan lagi baru barang dikirim. Stok yang mereka miliki sekarang hanya warna hitam dan merah,” jelas Aldy.
“Waktu kita gak banyak, pertandingannya hari Sabtu ini. Masih tersisa dua hari lagi.” Danil menimpali.
Reza mengedarkan pandangannya ke salah satu konter yang ada di depan tempat mereka memesan makanan, pandangannya lalu jatuh pada satu sosok wanita yang memakai seragam kerja warna abu muda dengan gaya rambut yang di gelung tinggi. Seringai tipis muncul di wajahnya, ia lalu mendorong kursinya ke belakang dan bergegas ke luar ruangan bertepatan dengan pelayan yang datang membawa pesanan makanannya.
“Za, Lo mau ke mana?” tanya Aldy yang hanya dijawab dengan lambaian tangan.
Danil meringis saat melihat Reza berjalan memasuki konter sepatu olahraga yang waktu lalu mereka datangi. “Masih penasaran aja itu bocah!”
Aldy mengikuti arah pandang Danil, lalu tak lama kemudian tawanya terdengar. “Heran Gue, konter lain banyak tapi kenapa Reza suka banget datang ke tempat itu.”
“Lo amnesia? Yang kerja di sono, cewek yang nolak diantar pulang Reza pas lagi kehujanan di pinggir jalan. Dan satu lagi, cewek itu juga yang bikin Reza ngambek sama Lo pas kedapatan lagi ada di konter pakaian dalam.”
“Ish, cewek itu toh. Gue ingat sekarang!” Aldy memandang makanan pesanan Reza sebelum ia menyantap makanannya, perkedel kentang dan semangkuk sup. “Heran Gue, Reza bisa kenyang cuman makan gitu doang.”
Danil hanya tertawa mendengarnya, “Udah biasa kali, emang kita makannya banyak.”
“Iya, sih. kalau Gue dah lemas dari kemarin-kemarin kalau kurang asupan protein,” sahut Aldy balas tertawa.
Sementara itu di konter sepatu tempat Galuh bekerja saat ini, ia menghela napas kasar karena harus bertemu dengan Reza kembali. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, lelaki itu duduk di kursi panjang sambil menyilangkan kaki mengarahkan telunjuknya ke arah rak di dinding yang memajang sepatu sport pilihannya.
“Aku butuh enam pasang sepatu bola sekarang. Tiga warna hitam, dua warna merah, dan satu warna biru!”
Galuh yang sedang berdiri membelakangi Reza, merapikan letak sepatu di rak pajang setelah beberapa pelanggan datang untuk mencoba memakainya, mengernyitkan dahinya. Ia membalikkan badan, menatap lelaki di hadapannya itu dengan muka masam.
“Apa Kamu tidak mendengar apa yang kukatakan padamu barusan?” Reza kembali mengulang pesanannya, kali ini dengan nada suara lamban tapi penuh penekanan.
Galuh mencoba untuk mempercayai apa yang baru saja didengarnya barusan, ia masih berdiri menunggu dengan wajah tegang. Bagaimana kalau lelaki ini benar-benar serius dengan ucapannya dan tidak sedang berniat untuk mengerjai dirinya lagi? Kemungkinan itu bisa saja terjadi, banyak yang melakukannya dan Galuh sudah sering berhadapan dengan pelanggan model lelaki di hadapannya itu.
Apalagi menilik sikap lelaki itu yang terlihat begitu santai saat mengatakan keinginannya, Galuh semakin yakin lelaki di hadapannya itu hanya ingin melihat-lihat saja tanpa berniat membeli. Ia tidak ingin terkecoh lagi seperti kejadian terakhir saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu.
“Silah kan memilih barang yang tersedia di rak dan mencobanya terlebih dahulu. Ada banyak pilihan warna seperti yang Tuan sebutkan barusan. Maaf, Saya juga harus melayani pelanggan lainnya!” sahut Galuh yang sukses membuat Reza menautkan alisnya.
“Sepertinya Aku harus bertemu dengan atasanmu, biar dia tahu bagaimana cara kerja anak buahnya dalam menghadapi pelanggannya!” ucap Reza bernada ancaman.
“Silah kan saja,” balas Galuh dengan nada menantang. “Lagi pula Saya toh tidak melakukan kesalahan. Silah kan Tuan pilih barang yang ada di rak dan mencobanya terlebih dahulu,” ucap Galuh mengulang ucapannya lagi. “Lagi pula si kumis tebal sedang tidak berada di kantornya saat ini.” Galuh bergumam pelan.
Tidak lama kemudian terdengar suara lelaki yang dikenalnya, datang tergopoh-gopoh memasuki konternya. Galuh terkesiap saat menyadari pak Susilo atasannya sudah berdiri di hadapannya dengan muka berang menatap ke arahnya.
“Galuh Nanda! Begini caramu melayani pelanggan?”
“Mak-sud Bapak?” Galuh menjawab dengan terbata-bata.
“Apa Kamu ingin dipecat? Cepat Kamu layani Tuan Reza, sediakan apa yang dia minta. Saya tidak ingin mendengar satu keluhan pun sampai di telinga Saya hari ini. Kamu paham Galuh Nanda?!”
“Paham, Pak.”
“Saya akan mengawasimu di sana sampai Kamu selesai mengerjakan tugasmu menyediakan apa yang jadi pesanan pelangganmu hari ini.”
“Siap, Pak!”
Galuh memalingkan wajahnya, menatap sebal pada Reza sebelum memulai menyediakan barang pesanannya.
“Mengapa menatapku seperti itu?” tanya Reza, “Santai saja. Kamu hanya perlu melakukan pekerjaanmu dengan baik, dan menyediakan barang sesuai yang kami minta. Aku jamin, si kumis tebal di luar sana tidak akan berani memecatmu.”
“Tidak bisa,” bisik Galuh, berusaha bersikap santai tapi yang ada ia malah kesulitan bernapas. Laki-laki itu ternyata mendengar ucapannya saat menyebut atasannya dengan nama lain.
Tapi bukan karena kehadiran pak Susilo yang berdiri tegak di depan pintu terus mengawasinya, hingga membuat napasnya tersendat. Bukan pula karena banyaknya pesanan laki-laki itu yang membuat wajahnya menegang tiba-tiba. Tapi kenyataan bahwa ia harus melakukan pekerjaannya seorang diri itu yang membuat dirinya berniat menghalau lelaki itu agar segera pergi dari hadapannya.
Membayangkan ia harus bolak-balik ke gudang mengambil barang yang diminta Reza membuatnya gerah. Tapi mau tidak mau ia harus melakukannya, meski hatinya kesal setengah mati.
Kening dan lehernya mulai basah keringat, kakinya pun terasa pegal karena harus turun naik tangga untuk mengambil barang yang ada di rak atas dalam gudang. Dan seperti dugaannya, enam sepatu yang diminta Reza, hanya satu saja yang dibelinya. Warna navy seperti permintaannya waktu lalu. Dengan wajah tanpa dosa, Reza keluar sambil bersiul menenteng kotak sepatu yang dibelinya.
Dengan wajah ditekuk, Galuh berjalan keluar melewati pak Susilo menuju konter tempat dua sahabatnya berada.
“Kamu mau ke mana? Ini masih jam kerja. Kamu gak lihat yang lain pada sibuk Kamu malah mau enak-enakan ke luar. Balik sana!” perintah pak Susilo tegas.
Galuh menyentakkan tangannya persis di hadapan atasannya itu, dengan wajah kesal ia berkata, “Bapak gak lihat apa ini sudah jam berapa? Saya lapar habis kerja rodi barusan!” sahut Galuh tak peduli, ia berlari cepat sambil menutup telinganya.
Di seberang konternya, Reza tertawa melihat tingkahnya yang berani melawan atasannya. Sambil melirik arlojinya tak henti ia tertawa, “Gadis yang menarik,” ucapnya sambil menatap kotak sepatu di tangannya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎