
“Pertama kali selama bertahun-tahun Aku mengenal Reza, baru kali ini Aku melihat dirinya begitu bersemangat mengejar wanita yang diinginkannya.” Danil menolehkan wajahnya, menatap Galuh sesaat lamanya sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.
Galuh mengerutkan keningnya, bukan karena apa yang baru saja didengarnya. Tapi lebih pada cara Danil yang menatapnya, seolah lelaki itu sedang menilai dirinya dan hal itu membuatnya tak nyaman.
“Aku tidak pernah berkhayal menjadi wanita itu apalagi bermimpi untuk jadi pasangan hidupnya. Semua terjadi begitu saja, tanpa rencana dan tiba-tiba saja memintaku untuk menjadi istrinya.”
“Kamu pasti begitu istimewa di matanya, pertama kali kami melihatnya turun di tengah hujan hanya untuk mengajakmu ikut bersamanya dan Kamu menolaknya.”
“Dari situ Aku tahu kalau dia sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu, dia terus berusaha mencari tahu dan melakukan berbagai cara supaya bisa menarik perhatianmu. Meski pada akhirnya Kamu marah dan mungkin sangat membencinya karena sudah membuatmu malu dan menangis di hadapan orang banyak waktu itu.”
“Andai Kamu tahu bagaimana dia meminta kami untuk membantunya agar bisa dekat denganmu.” Danil tersenyum kecil, “Dia sahabatku, dan sudah seperti saudara bagiku. Aku tidak ingin melihatnya kecewa apalagi terluka untuk yang kedua kalinya.”
Danil mencengkeram setir mobilnya. Rahangnya tiba-tiba mengeras dan tanpa sadar ia memukulkan tangannya keras, dan hal itu tentu saja mengejutkan Galuh yang berada di sebelahnya.
“Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Kamu terlihat begitu emosi?” tanyanya penasaran.
“Hanya cerita masa lalu yang sedikit menyakitkan, tapi Aku rasa lebih baik Kamu tidak perlu mengetahuinya.”
“Aah, jangan buat Aku makin penasaran! Aku baru saja memutuskan akan menerima lamarannya, dan Aku tidak ingin ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Meski pahit kedengarannya, tapi akan lebih baik jika Aku mengetahuinya dari sekarang. Sebelum kami benar-benar menjalani hubungan ke arah yang lebih serius lagi.”
Galuh memasang wajah kesal, karena dibuat penasaran dan tidak suka harus dibuat menebak-nebak apa yang sudah terjadi sebelumnya pada Reza.
Danil tertawa mendengarnya, emosinya mendadak cair melihat cara Galuh menanggapi ucapannya.
“Bukan sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan, karena semua hanya masa lalu dan tidak akan mengganggu hubungan kalian nantinya. Percayalah, Kamu adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat seorang Fahreza Raka Mahendra jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini adalah segera meminangmu untuk menjadi istrinya.”
“Apa kalian sedekat itu, hingga hal pribadi sekalipun harus kalian tahu juga?”
“Ya, sudah kukatakan dari awal, Reza bukan hanya sekedar sahabat. Tapi seperti keluarga sesungguhnya buatku. Tidak ada rahasia di antara kami bertiga, sampai hal paling kecil sekalipun.”
“Kalau begitu, Kamu pasti tahu soal sakit yang dialami Reza tadi.” Galuh menunggu reaksi Danil, tapi laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Reza lelaki yang sehat, selama ini dia tidak punya riwayat penyakit yang mematikan. Dia selalu bugar, mungkin benar seperti ucapannya tadi kalau dia kecapaian.”
“Kelelahan fisik karena bekerja terlalu keras, ditandai dengan tubuh terserang demam disertai hidung yang mengeluarkan darah segar. Apa itu sesuatu yang wajar terjadi?” selidik Galuh.
“Aku juga baru melihat hal itu terjadi pada Reza, hari ini. Dan Aku tidak punya jawaban atas pertanyaanmu sebelum mendengar langsung keterangan dari dokter Haris yang memeriksa kesehatan Reza. Dia dokter pribadi yang selama ini menangani masalah kesehatan keluarga Mahendra,” terang Danil.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, karena memang itu bukan salahmu. Reza sudah menceritakannya padaku tadi,” sahut Danil menenangkan.
“Tetap saja Aku merasa itu salahku, gara-gara Aku dia jadi telat makan.”
“Kamu harus percaya apa kata Reza. Dia hanya kelelahan bekerja, itu saja. Tidak ada sakit yang serius dan hal yang perlu dikhawatirkan. Kalau Kamu ragu, Kamu bisa telpon dia sekarang.”
“Aku sudah coba hubungi dari tadi, telponnya aktif tapi gak diangkat.” Galuh menghela napas berat. “Apa dia gak tahu kalau Aku khawatir dibuatnya.”
Danil meringis, bingung mau jawab apa karena memang dia sendiri tidak pernah mengetahui sakit apa yang diderita sahabatnya itu. Karena selama ini Reza selalu terlihat bugar dan baik-baik saja. Jika tiba-tiba saja lelaki itu drop, tentunya mengejutkan semua orang yang kenal dekat dengannya.
Mobil yang dikendarainya sudah sampai di depan rumah Galuh, wanita itu bergegas turun dan mengucapkan terima kasih. “Kalau pulang nanti, dan Kamu bertemu dia. Tolong segera hubungi Aku,” pinta Galuh pada Danil yang mengangguk mengiyakan.
“Sudah malam, sebaiknya Kamu cepat istirahat. Jangan sampai Kamu jatuh sakit, Reza pasti gak mau itu terjadi.”
Galuh hanya mengangguk, menunggu sejenak Danil berlalu pergi dari hadapannya lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan tubuh letih dan kepala yang terus dipenuhi bayangan wajah Reza.
Rasanya waktu berjalan begitu lambat menunggu esok hari tiba. Sepanjang malam Galuh sulit untuk memejamkan mata, terus menunggu Reza menghubunginya.
Namun kabar yang ditunggu pun tak jua diterima, hingga dini hari Galuh baru bisa memejamkan mata. Dan keesokan harinya, Galuh terbangun dengan tubuh lesu dan kantung mata dan garis hitam yang menghias wajahnya.
Air dingin yang mengguyur tubuhnya sedikit banyak membuat tubuhnya jauh lebih segar, meski tak membuat garis di bawah matanya menghilang begitu saja. Pagi itu Galuh bersiap-siap untuk berangkat bekerja seperti biasanya, namun kali ini ketika ia membuka pintu rumahnya ada seseorang yang sudah menunggunya di teras rumahnya.
Galuh terpekik kaget, dan tanpa sadar langsung berhambur memeluk Reza yang terkekeh melihatnya. “Kenapa gak angkat telpon Aku, Abang tahu gimana khawatirnya Aku semalaman gak bisa tidur nunggu kabar dari Abang?”
“Maafkan Aku, sayang. Maaf, sudah buat Kamu khawatir.” Reza menangkup wajah Galuh, mengusap pipinya lembut. Matanya lekat menatap wanita di hadapannya itu, wajah cantik itu terlihat kurang tidur dan tampak lesu. Tapi kini mata itu terlihat bercahaya dan wajahnya kembali berseri.
Ternyata cinta membuat suasana menjadi ceria. Reza pun menyadari, semakin lama ia semakin menyukai wanita itu dan rasa cintanya semakin bertambah saat melihat bagaimana reaksi Galuh saat melihatnya pagi itu.
“Kita berangkat sekarang,” ajak Galuh lalu menggamit lengan Reza, tak sungkan lagi menunjukkan rasa sayangnya pada Reza yang tentu saja senang menerima perlakuan mesra Galuh padanya.
“Sebentar, Aku punya sesuatu untukmu. Harusnya semalam Aku memberikannya padamu,” ucap Reza seraya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak kecil beludru warna biru.
“A-pa ini?” Galuh menautkan alisnya ketika Reza meraih tangannya dan memasangkan cincin di jari manisnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎