If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 62. Oma kritis



Reza mengantar kepulangan dokter Rendra sampai di depan pintu rumahnya, mereka berbincang sejenak sebelum lelaki berkaca mata minus itu beranjak memasuki mobilnya.


“Jaga baik-baik kandungan istrimu, jangan sampai ia stres dan kelelahan karena akan sangat berpengaruh pada kehamilannya. Usahakan untuk saat ini, jangan melakukan perjalanan jauh.” Pesan dokter Rendra.


Reza mengangguk, lalu menjabat tangan dokter Rendra. “Aku mengerti, Aku akan menjaga istriku dengan baik. Terima kasih.”


Dokter Rendra tersenyum dan balas menjabat tangan Reza, wajah laki-laki di hadapannya itu tampak tegang. “Kau juga harus tetap menjaga kesehatanmu sendiri. Dua bulan terakhir ini Kau jarang sekali melakukan kontrol kesehatan. Meski Kau merasa dirimu sehat, Kau tetap harus melakukannya Za.”


Reza menghela napas, tersenyum tipis menatap dokter Rendra. “Dua bulan terakhir ini Aku merasa diriku sangat sehat, dan Aku tidak merasakan keluhan itu lagi.”


“Tapi Aku harus tetap mengingatkanmu,” balas dokter Rendra.


“Aku akan mengingat semua ucapanmu, Dokter. Sekali lagi, terima kasih.”


Reza bergegas kembali ke kamarnya hendak bersiap-siap. Di ambang pintu ia berhenti sejenak, dilihatnya Galuh duduk di atas ranjang tertunduk menutup wajahnya.


“Yank,” panggil Reza, dengan suara bergetar.


Galuh menurunkan tangannya, wajahnya terangkat menatap Reza agak lama lalu melompat turun dari atas ranjang tak mengindahkan teriakan peringatan Reza padanya dan langsung berhambur memeluk tubuh suaminya itu.


“Yank! Kamu sadar apa yang Kamu lakukan barusan?!”


“Aku khawatir sekali dengan keadaan oma dan papa,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku takut ...”


Reza menggeleng kuat, “Mereka berdua akan baik-baik saja.”


Reza mengecup kening Galuh, dan mengusap rambutnya. Wanita itu mengetatkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Reza.


“Yank.” Reza menangkup wajah Galuh, mengusap sudut matanya yang berair. “Aku harus pergi siang ini juga untuk melihat keadaan oma dan papa. Kamu harus tetap di rumah, tunggu kabar dariku dan jangan lakukan hal apa pun yang akan membahayakan kehamilanmu.”


Galuh mengangguk, “Aku tahu itu.”


Reza tersenyum, ia mengecup mata yang basah itu. “Aku harus segera bersiap-siap.”


Reza melepaskan pelukan Galuh di tubuhnya, ia memutar tubuhnya dan berjalan keluar hendak mengambil koper miliknya.


“Aku ikut!” Galuh mencekal lengan Reza, menghadang langkahnya agar tetap berada di kamar mereka. Galuh yakin, ia akan baik-baik saja selama berada bersama dengan suaminya itu.


Reza menghentikan langkahnya, menatap Galuh untuk sesaat lamanya. Ia tidak mungkin membahayakan kesehatan istrinya itu, membuatnya kelelahan karena melakukan perjalanan jauh saat wanita itu tengah mengandung calon bayi mereka.


Ini bukan perjalanan bulan madu mereka, Reza tak ingin terjadi sesuatu dengan Galuh dan kandungannya. “Kau sedang tidak sehat, dan dokter melarangmu untuk bepergian jauh saat ini. Aku tidak ingin Kamu kelelahan. Akan sangat berisiko untuk kesehatan kandunganmu, yank.”


Reza memegang pinggang Galuh, ibu jarinya mengusap sisi perut yang masih rata itu. Matanya tiba-tiba menghangat, ada calon anaknya yang kini bersemayam di sana.


“Aku merasa sangat sehat sekarang.” Galuh meyakinkan Reza, ia tak bisa membayangkan mereka harus berjauhan saat ini. Reza harus berada di sisi oma dan papa, sementara ia harus menunggu di rumah dan berharap-harap cemas kabar dari suaminya itu. “Kami akan baik-baik saja selama kita bersama.”


Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba di bandara. Rasanya waktu berjalan lambat, Reza sangat khawatir dan sudah tak sabar lagi ingin segera bertemu dan melihat keadaan papa juga omanya.


“Abang.” Galuh menggenggam erat jemari tangan Reza, ia sangat mengerti keresahan suaminya itu saat ini.


Reza menatap tangan yang menggenggam erat jemarinya itu lalu beralih menatap wajah Galuh, wanita itu tersenyum lembut padanya. Ia membawanya ke depan bibirnya dan mengecupnya lama. “Kamu tahu, Aku sangat-sangat mencintaimu.”


“Aku sangat-sangat tahu,” balas Galuh sambil menganggukkan kepala.


Galuh merasa lega begitu melihat sang dokter datang menghampiri mereka berdua. Papa dan oma ditempatkan di ruangan yang berbeda. Keadaan papa jauh lebih baik ketimbang oma. Saat Galuh dan Reza datang melihat, papa sedang tertidur setelah dokter memberinya obat.


Saat kecelakaan terjadi, papa duduk di kursi belakang sementara oma berada tepat di sisi kiri sopir. Ban depan sebelah kiri selip dan menabrak pembatas jalan. Sopir tidak bisa mengendalikan mobilnya, benturan itu sangat keras dan mobil itu terseret cukup jauh, berputar-putar sebelum akhirnya terbalik. Tak ada korban jiwa saat itu, karena ada mobil yang melintas di dekat mereka dan segera melakukan pertolongan.


“Tak ada luka serius di bagian tubuh luar orang tua Anda, tapi kita akan terus memantau kesehatan tuan Mahendra.” Kata dokter yang menangani papa.


“Lakukan yang terbaik untuk papa Saya, dokter.” Kata Reza sambil terus menatap papanya.


Dokter itu mengangguk, mereka lalu berpindah ruangan untuk melihat keadaan oma. Galuh terus menggenggam tangan Reza, ia merasakan ketakutan yang tidak biasa saat berada di depan pintu kamar oma dirawat.


Dokter membuka pintu perlahan, di dalam ada seorang perawat yang baru selesai memasang infus. Dia berbicara sejenak pada sang dokter sebelum berpamitan keluar kamar.


Dokter itu mengucapkan sesuatu pada Reza, dan laki-laki itu mengangguk. Reza menggandeng tangan Galuh, berjalan mendekati omanya sementara sang dokter berdiri di dekat pintu mengawasi.


Jantung Galuh seakan berhenti berdetak begitu melihat keadaan oma. Reza melepas genggaman tangannya dan merendahkan tubuhnya, ia mencium kedua pipi oma lalu mengusap-usap jemari oma yang berada di sisi tubuhnya.


Galuh berdiam diri, berdiri sedikit menjauh dari keduanya. Membiarkan Reza terlebih dahulu melihat dan bicara pada omanya sebelum lelaki itu memberikan waktu padanya dan berjalan mendekati dokter kembali.


Oma terlihat begitu rapuh dengan selang-selang infus yang menempel di tubuhnya. Oma masih setengah sadar tapi terjaga cukup lama ketika tiba giliran Galuh datang mendekat dan mencium pipinya yang pucat.


“Apa kabar Oma,” tanya Galuh sambil tersenyum, setengah mati menahan air matanya.


Oma tersenyum dan menggenggam erat tangan Galuh, “Oma senang melihatmu datang, Oma pikir tak akan bisa melihat kalian lagi.”


Galuh memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya, ia melihat Reza berbicara dengan sang dokter di samping meja periksa sambil sesekali menatapnya dan oma.


Sejenak tatapan mereka bertemu, Galuh bisa melihat kesedihan terpancar di raut wajah tampan itu. Tapi Reza tetap berusaha terlihat tenang, ia tersenyum dan mengangguk padanya.


“Oma jangan bicara seperti itu. Oma pasti sehat kembali dan kita akan bersama-sama lagi.” Galuh berbisik di telinga oma, dan wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang berair.


“Selamat sayang, Oma bahagia mendengarnya. Jaga baik-baik cicit Oma.” Oma mengusap perut Galuh, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara.


Oma kembali tertidur tak lama kemudian, Galuh duduk menemaninya hingga beberapa saat lamanya. Dokter yang bersama mereka pun berpamitan karena harus melihat pasiennya yang lain.


“Aku mau cari makanan dulu di bawah. Kamu mau makan apa, yank. Aku lihat dari tadi siang Kamu belum makan?” Reza memeluk bahu Galuh, wanitanya itu sedari tadi terus saja menggenggam tangan oma.


“Roti aja, Aku lagi gak pengen makan nasi.” Sahut Galuh.


“Ya udah, tunggu sebentar ya. Aku gak akan lama,” kata Reza lalu mengecup pucuk kepala Galuh.


“Hati-hati, Bang.”


Galuh memalingkan wajahnya, melihat sejenak pada Reza yang berjalan keluar kamar lalu menutup pintu di belakangnya lagi.


Belum lama rasanya, masih hitungan menit Galuh merasakan tangan dalam genggamannya mengencang. Tak lama kemudian terdengar bunyi napas seperti orang tersedak. Galuh terkesiap menyadari oma membuka matanya lebar dan napas di dadanya tersengal-sengal.


“Oma!” pegangan tangan oma makin mengencang, Galuh panik tapi masih bisa berpikir cepat. Ia segera memencet tombol yang ada di atas kepala oma dan tak lama kemudian terdengar bunyi langkah kaki berlarian di dekatnya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎