
...Mau promo boleh ya...
...siapa tau ada yang kasian 😅 mampir, sampai akhirnya ketagihan....
🌹Kali ini mengikuti event TERJERAT BENANG MERAH🌹
Baru muncul hari ini, boleh klik ava aku ya untuk menemukan novelnya
...Terima kasih bagi yang berkenan mampir dan lanjuuuuut. Bagi yang belum mampir artinya kita belum berjodoh 😪...
“H-hamil?” seorang wanita menjatuhkan testpack dari tangannya. Dia menyandar pada dinginnya dinding kamar mandi. Sejenak termenung, tatapannya lurus ke depan, teringat pedihnya tragedi satu bulan yang lalu.
Kristal bening menetes dari dua sudut mata. Bagi banyak orang kehamilan merupakan anugerah indah tak ternilai, tapi menurut Emilia ini adalah musibah.
Emilia Anette Putri mengandung benih dari seorang pria bejat di Spanyol. Semua bermula dari ayah sambungnya, menjual Emilia kepada seorang bandar judi terbesar serta memiliki banyak bisnis ilegal sebagai penyokong keuangannya.
Malam tragis itu berlangsung sangat cepat, Emilia diseret paksa oleh ayah sambungnya. Diberikan obat hingga setengah tak sadarkan diri, samar-samar dia mengingat bagaimana pria bejat itu merenggut paksa kesuciannya sangat kasar.
“A-aku hamil anak Tuan Mirano? Tidak, ini pasti salah.” Mata Emilia terpejam, menggelengkan kepala, menolak kenyataan yang tertulis.
Tiba-tiba saja perutnya bergejolak, seolah sebuah benda asing mengaduk lambungnya, hingga rasa mual begitu kuat terasa.
Emilia memuntahkan cairan bening dan kuning ke wastafel. Belakangan ini dirinya memang mual dan lemas tapi tak pernah tersirat sedikitpun bahwa ia sedang hamil.
Emilia kembali terkejut, pintu kamar mandi terbuka sangat keras, kasar dan lebar. Rupanya Alvarez, ayah sambungnya mendengar suara muntah Emilia. Pria paruh baya itu yakin bahwa Emilia hamil.
“Ikut aku! Kita ke rumah sakit sekarang.” Memanggul Emilia layaknya karung. Alvarez tidak memedulikan penampilan Emilia yang berantakan.
“Tidak, jangan Papa. Aku bisa berangkat sendiri. Aku tidak sakit. Lepaskan aku Papa.” Berontak Emilia. Naasnya, tenaga Alvarez sangat kuat, tidak goyah sedikitpun.
**
Rumah Sakit
“Turun! Ku bilang turun sekarang juga. Emilia di mana telingamu, hah? Cepat!” Alvarez menarik tangan putri sambungnya, dia tersenyum karena sebentar lagi memiliki cucu. Ya cucu miliarder, bayang-bayang berendam di lautan uang sangat dinantikan.
“Papa, aku tidak sakit.” Cicit Emilia, tak berdaya, pergelangan tangannya berdenyut nyeri dalam cengkeraman Alvarez.
“Sssttt kau berisik sekali. Kau itu hamil, Emilia putri kesayanganku. Akhirnya berguna juga.” Seringai Alvarez menatap perut rata Emilia di balik piyama berwarna coklat susu.
Ayah dan anak itu mengantre cukup lama, Alvarez hampir mengamuk karena dia tidak menyukai bisingnya rumah sakit serta para manusia yang berlalu lalang mengeluh segala macam penyakit. Ditambah bau obat menusuk indra penciuman.
Setelah 30 menit menunggu, Emilia dan Alvarez memasuki ruang spesialis obgyn. Dalam ruangan, Emilia segera berbaring mengikuti instruksi dokter. Tubuhnya tersentak ketika gel bening menyentuh kulit perut.
Kedua mata Emilia melebar ketika melihat sesuatu pada layar besar, berbentuk bulat. Seketika badannya gemetar. Dia tidak percaya semua ini nyata, “Aku tidak mungkin hamil, ini salah.” Emilia membatin.
Usai pemeriksaan, Alvarez membawa putrinya pulang, tanpa menebus vitamin yang diresepkan dokter, menurut Alvarez yang terpenting mengamankan Emilia. Kemudian bernegosiasi dengan Mirano, menjual bayi dalam kandungan Emilia.
“Aku akan menghubungi Tuan Mirano Jose, kau harus menjaganya Emilia, jangan mengacaukan rencanaku!” ancam Alvarez mengacungkan pisau lipat ke leher Emilia.
Mendengar nama pria bejat yang menghamilinya, Emilia bergidik ngeri, trauma mendalam terpatri kuat dalam jiwa serta raga. “Aku tidak mau melahirkan anak ini.” Jawab Emilia begitu lugas tanpa keraguan.
Seandainya saja rumah tinggal mereka tidak jatuh ke tangan Alvarez, pasti Emilia meninggalkan ayah sambungnya.
Tapi pria itu licik, dia merampas harta peninggalan mendiang ibu kandung Emilia, baik uang tunai atau aset tetap. Emilia harus memperjuangkan haknya, banyak kenangan indah bersama mamanya di rumah itu.
“Apa kau bilang? Tidak mau melahirkannya? Jangan gila Emilia!” Alvarez mengemudi seperti orang kesetanan, menginjak pedal gas sangat kuat.
Tapi Emilia tidak gentar. Merasa menjijikan sekali mengandung benih pria kejam. Emilia mengutarakan keinginannya kepada Alvarez. “Aku akan mengugurkan bakal janin ini. Aku tidak mau hamil tanpa suami, aku tidak mau anakku diperdaya oleh Papa dan Tuan Mirano.”
“APA?” seketika mobil terhenti. Alvarez menampar pipi Emilia hingga tanda kelima jari tercetak jelas.
“Kau harus membayar balas budi, aku yang membiayai mu dari kecil sampai lulus kuliah keguruan. Aku juga merawat ibumu, kau tahu berapa uangku yang habis karena kalian berdua?”
Mendengar suara rintihan Emilia membuat Alvarez semakin menggila. Dia menarik rambut panjang Emilia hingga panas menjalar ke kepala. “Kalau kau berani menggugurkannya, aku pastikan karirmu sebagai guru hancur dalam satu menit. Kau lihat ini Emilia, buka kedua matamu dengan lebar, bodoh!”