I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 54 Seharusnya



Sarapan, makan siang dan malam, Danang setia mendampingi putri bungsunya. Memastikan asupan nutrisi bagi calon buah cucu, sedangkan Maya menemani Rayana. Keduanya berbagi tugas sampai putri mereka sembuh.


Danang memperlakukan Ajeng sangat baik, mencurahkan segala perhatian, menghibur ibu hamil itu dengan menceritakan kejadian lucu di coffee shop. Tapi sayang senyum yang terukir begitu berat dan kaku. Pikiran Ajeng tertuju kepada Aksa, suaminya hampir 48 jam belum juga membuka kedua mata.


“Pak? Bisa antar Ajeng ke ICU, mau tahu kondisi Aksa. Apa Elang juga masih sama belum bangun?” tatapan Ajeng begitu memohon, memegang kedua tangan Danang, mencium punggung tangan ayahnya, menitikkan air mata.


Untuk saat ini hanya Danang yang bisa membantu, karena rekan sesama perawat jelas menolak membawa Ajeng ke ICU.


Ruangan itu tak akan bisa ditembus, lagipula kondisi Ajeng terlalu lemah pasca kontraksi dini.


“Nak, dengarkan Bapak sekali lagi. Percaya kepada dokter dan Aksa, kalau kondisinya sudah memungkinkan pasti orang pertama yang ditemui ya kamu, bukan orang lain. Sekarang kamu istirahat, jangan menambah beban pikiran. Ingat pesan dokter apa? Ibu stres sangat berpengaruh dengan bayinya.” Danang membelai surai panjang coklat milik putri bungsu yang menutupi wajah.


Ajeng merebahkan diri setelah minum suplemen. Memunggungi ayahnya yang masih di samping brankar. Satu tangannya bergerak aktif membuka ponsel, kedua mata tertuju pada satu aplikasi sekuritas, Ajeng perlahan menekan kombinasi alfanumerik sebagai password.


Bulir bening memenuhi pelupuk mata, jumlah saham tercatat di kustodian efek atas nama Rahajeng Prameswari diberikan Aksara sebagai hadiah. Dia masih tetap menangisi suaminya, “Kenapa kamu kasih semua ini untuk aku? Lebih baik hidup bersama Aksa, jangan pergi lagi.” Bantal yang digunakan basah. Ajeng meratapi nasib pernikahan, seolah semesta tidak merestui kebahagiaan hadir di kehidupannya.


Klek


Pintu terbuka dan tertutup kembali, Ajeng bergeming, sudah pasti Danang keluar, mungkin menyangka putrinya telah lelap.


Tapi belaian di kepala, lalu sepanjang tulang punggung mengusik wanita hamil yang sedang melamun. “Sayang, kok diam? Kamu belum tidur kan?” suara serak khas bangun tidur seorang Aksara.


Sontak Ajeng membalik tubuhnya menghadap sumber suara, berharap bukan mimpi atau halusinasi.


“Aksa? Ini beneran kamu? Bapak …” kalimat Ajeng terpotong, dia melirik Danang yang duduk di kursi roda mengupas buah apel. Berulang kali mengedipkan mata, memastikan kenyataan di depannya. Aksara Kaisar Caldwell berjalan normal tanpa bantuan perawat, padahal infus masih menancap di punggung tangan.


“Bapak lagi kupas buah, dokter bilang aku perlu makan makanan yang banyak mengandung vitamin dan jangan lupa tinggi protein. Istriku ini sakit apa? Anak kita sehat kan, sayang?” Aksa duduk di sisi ranjang, mengecup kening Ajeng, telapak tangannya mencurahkan kasih sayang di perut buncit yang tertutupi piyama.


“Hi … Baby. Papah sehat, tolong beri tahu Mamah ya, jangan sibuk dengan pikirannya sendiri!” Aksa tersenyum seakan tidak terjadi sesuatu.


Tapi rasa khawatir menyelimuti Rahajeng, dia memeriksa punggung Aksara, hanya ingin tahu luka tembaknya. Ajeng yang mudah larut dalam keadaan, histeris karena kasa tebal menutupi bagian belakang tubuh suaminya.


“Pasti sakit ya? Maaf Aksa, seharusnya aku diam di rumah. Jadi rompi anti peluru itu tetap kamu pakai.” Ajeng membungkam mulut dengan kedua tangan. Dia akui semua salahnya, merusak rencana suami dan keselamatan keduanya dipertaruhkan.


“Kalau aku jawab tidak sakit, bohong ya? Aku ini manusia normal, sakit lah. Kamu nakal Ajeng, kenapa ya gemar membantah suami?” Aksa sengaja melayangkan tatapan tajamnya, mengintimidasi istri yang memang perlu mendapat hukuman, akibat tidak menjalankan perintah suami.


“Menghukum kamu lah, apa lagi? Tapi bukan di rumah sakit, setelah sehat baru aku pikirkan jenis hukuman apa yang cocok. Sudah ya sayang, aku kembali ke kamar, bahaya kalau dokter tahu, suamimu ini kabur.” Aksara terkekeh pelan, dia menggunakan kekuasaannya untuk keluar kamar selama satu jam dengan catatan kembali sebelum pukul sepuluh malam.


Aksara menyempatkan diri menyambangi Elang. Wajah sahabatnya tampak putih pucat, peralatan penunjang kesehatan melekat di tubuh Elang.


“Cepat sembuh Elang. Aku memiliki banyak hutang nyawa. Apapun aku lakukan agar kau tetap hidup.” Aksa mengukuhkan dalam hati, Elang adalah sahabat, rekan kerja sekaligus kakaknya, mana mungkin diam saja ketika keluarga sakit.


Menemukan dokter dan perawatan terbaik akan dilakukan selama membuat Elang selamat.


“Kau harus kuat kawan, ku tunggu sampai besok, kalau masih tidur. Ku tinggal pulang dan sendirian di rumah sakit.” Gurau Aksa, padahal dalam hatinya pedih menatap Elang masih nyenyak di atas ranjang.


Di ruangan lain.


Maya menatap jengah sekaligus tidak suka, uang yang banyak dia keluarkan, habis percuma. Rayana menerima surat pemberitahuan pencabutan izin praktik dan tidak bisa mengajukan untuk selamanya. Sebab melanggar kode etik profesi, membuat Danang sakit hingga kedua kakinya tidak berjalan.


Sia-sia sudah Maya dan Danang membiayai kuliah kedokteran Rayana, “Kamu itu ceroboh, kenapa bisa begini Rayana? Sekarang Andres meninggal, kamu jadi pengangguran, mau makan apa? Mengandalkan coffee shop Bapak? Itu semua jatah ibu ya.” Tegas Maya bicara tepat di depan wajah putri sulungnya.


“Iya Bu, maaf. Aku pikir bakalan untung besar. Tapi Ibu tenang, aku masih punya tanah dan rumah, tinggal jual itu semua untuk modal usaha. Aku perlu ke bank mengambil surat-surat tanah.” Tukas Rayana selalu ingin menjadi yang terbaik dan nomor satu dinilai orang.


“Oh kamu berhasil mengambil harta Andres? Sekarang kamu istri sahnya jadi semua harta mendiang suami kamu jadi milik Rayana Prameswari, kita berhutang ke Aksa. Ibu bangga sama kamu Rayana, jangan lupa bagi dua sama Ibu, ingat jasa Ibu besar.” Maya membayangkan dirinya jauh lebih kaya raya dibanding teman komplek perumahan.


“Pasti mereka semua iri, karena aku punya menantu dan anak yang luar biasa, ibu-ibu arisan itu bukan tandingan.” Dalam hati tertawa puas, ya tidak apa surat izin praktik Rayana di cabut, setimpal dengan aset yang dimilikinya kelak.


Namun, keraguan pada diri Rayana. Dia pun bingung, karena tanah dan bangunan berada di luar negeri, untuk posisi jelasnya saja tidak tahu. “Semoga Elang bisa bantu. Eh tapi apa Elang dan adik ipar masih hidup?” Rayana hanya ingat kejadian sebelum tertusuk pisau. Selebihnya tidak tahu apa saja yang menimpa Aksa, Elang dan Andres.


“Semoga mereka baik-baik saja, aku perlu bantuannya. Tidak masalah semua aset lain Andres jadi milik orang, tanah dan bangunan yang aku ambil lebih dari cukup.” lirih Rayana dalam hati, menghindari pertanyaan Maya.


TBC


***


ditunggu dukungannya 🙏😁