
Satu hari sebelumnya
Carol berhasil masuk ke kamar Elang, bangunan ini tampak sepi karena semua penghuninya sedang lelap tertidur. Mengandalkan kemampuan IT serta kekuasaan Nyonya Caldwell, mempermudah jalan Carol tanpa dicurigai.
Perempuan cerdas itu mengambil pisau cukur dan sikat gigi milik Elang. “Akhirnya, sebentar lagi semua terungkap.” Carol memasukan dua benda itu ke dalam kantung.
Kesepakatan Carol dan Ajeng, jika Elang memang kakak kandungnya maka Carol tetap bertahan di mansion. Tapi kalau terbukti tidak benar, maka perempuan itu harus siap dipindah tugasnya ke tempat lain, tentunya sangat terpencil.
Pagi harinya Carol mengunjungi rumah sakit dengan membawa sampel. Dia terpaksa harus sabar menunggu satu hari untuk mengetahui hasil yang akurat.
Sebelum pulang ke mansion. Carol mengunjungi area pemakaman. Ditatapnya pusara sang ibu dengan kesedihan dalam dada.
Dia mengeluarkan foto lusuh dari dalam saku jaket kulit. Memandangi seorang ibu yang tengah menggendong bocah laki-laki, Carol sangat yakin dia adalah Elang.
Latar belakang Mansion Caldwell begitu jelas dalam gambar.
“Ibu. Sebentar lagi aku bisa mengatakan hal yang sebenarnya.” Kata Carol menitikkan air mata.
Pulang ke mansion, Carol menjadi kurang fokus dalam menjalani tugas. Lebih banyak melamun dan cemas akan hasil tes DNA.
**
Akhirnya setelah menunggu selama kurang lebih 20 jam, Carol menerima email dari rumah sakit, segera dia buka isi pesan itu.
Betapa terkejutnya Carol akan hasil tes DNA. Elang memang kakak kandungnya walaupun mereka berbeda ayah, tetap saja sekarang Elang satu-satunya keluarga yang dimiliki.
Sebelum bekerja, Carol mengambil hasil asli di rumah sakit. Akan dia gunakan untuk menunjukkan jati dirinya. Stempel rumah sakit tidak mungkin bohong dan bukan hasil rekayasa.
“Kak Elang.” Carol menangis, kakak yang dia jumpai setelah 25 tahun. Ibunya memang tidak pernah mengatakan apapun. Tapi Carol menemukan foto itu di dalam koper milik mendiang ibunya.
“Usahaku tidak sia-sia.” Kata Carol.
Tiba di mansion. Wanita ini mendapat kabar bahagia dari para maid yang gemar bergosip. Bahwa asisten rupawan Tuan Caldwell segera pulang.
Carol tak sabar memeluk kakaknya. Dia juga takut Elang tidak bisa menerima statusnya, mengingat alasan ibu mereka kabur, meninggalkan Ayah Elang di sini.
“Kenapa belum datang.” Keluh Carol dari pagi hingga sore hari.
Memastikan Bryatta terlelap tidur, Carol menemui Elang di bangunan khusus asisten pribadi.
Kedua kakinya mendapat kekuatan super. Berjalan sangat cepat padahal jarak dari bangunan utama sangatlah jauh.
“Kakak?” panggil Carol, kedua matanya tidak bisa melihat jelas karena air mata sudah membanjiri bagian dalam.
Tentu saja Elang mengerutkan dahi, “Kakak? Tidak biasanya kau bersikap sopan dan ramah.”
GREP
Carol memeluk Elang sangat Erat, '‘Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Aku tahu kakak pasti tidak pernah tahu keberadaan ku, benar kan?” Carol sesenggukan.
Melepas pelukan, dia menyerahkan hasil tes DNA kepda Elang.
Elang membukanya tanpa banyak bertanya. “Kita? Kau adikku? Bagaimana bisa?” lirih Elang bertanya-tanya.
Elang tahu memiliki adik beda ayah. Tapi usai malam kebakaran di desa, dia mencari keberadaan ibu serta adiknya. Namun yang ditemukan hanya jasad yang telah gosong tidak teridentifikasi. Elang yakin ibu serta adiknya meninggal dunia.
Beberapa tahun mencari Carol dan Ibunya tetap tidak membuahkan hasil. Elang pun mengubur semua kenangan serta harapan, dia lebih baik fokus berlatih untuk mendampingi Aksara dikemudian hari.
“Apa bukti lain kalau kau adikku, Carol?” Elang yang tak pernah menunjukkan kesedihan, saat ini wajahnya mengatakan tidak baik-baik saja.
“Ini kakak, benar kan?” memberikan foto hitam putih itu ke tangan Elang.
Sontak Elang mematung, foto ini selalu disimpan dalam dompet dan sekarang Elang melihat salinannya. “Kau benar-benar adikku? Aku lama mencari mu, Carol.” Elang memeluk Carol, begitupun sebaliknya.
“Aku mohon jangan pergi lagi. Tetap di sini.” Suara Elang bergetar, Kristal bening pun membasahi pakaian Carol.
“Pasti kak, mulai sekarang aku akan selalu di samping kakak.” Carol mengeratkan pelukannya.
****
jempolnya boleh ya 🤗🙏