
Maya melirik menantunya yang teramat sangat berbeda, kurang dari satu tahun seorang Aksa berubah, menjelma menjadi sosok lain. Kalau sebelumnya, mertua ini terpaksa mengizinkan menantunya duduk bersama menikmati santapan, bahkan tega menghabiskan semua makanan.
Sekarang, Maya rela berbagi makanan dengan menantu yang dia puja bagai dewa. Sengaja mencari muka di depan Aksa dan Ajeng.
“Makan yang banyak Aksa.” Maya sedikit berdiri, menyerahkan satu sendok munjung ayam suwir ke piring menantu. “Pasti tenaga kamu banyak terkuras ya? jangan lupa juga Aksa makan buah dan sayur, nanti ibu ingatkan Ajeng untuk menyiapkan semuanya.” Maya tersenyum, Aksa masih sama, dulu diam sekarang lebih diam.
Hanya Ajeng dan Danang yang menyadari ketidaknyamanan Aksara. Berulang kali menarik napas panjang dan berdecak sebal. Dia kembali tertahan di rumah ini, dulu karena Ajeng, hari ini juga demi Ajeng melepas rindu bersama kedua orangtua.
“Terima kasih.” Jawab Aksa dingin, masih tahu tata karma. Lalu membalas semua yang Maya sampaikan, “Istriku tidak perlu repot mengatur makanan, semua tugas asisten.” Aksa menggenggam tangan Ajeng di atas meja. “Kami tidak lama di Indonesia, Ajeng sudah setuju ikut ke Swiss dan menetap di sana.” Telak Aksa, mengulas senyum hangat hanya untuk Rahajeng.
Maya dan Rayana membelalakkan kedua mata, berbeda dengan Danang. Sudah selayaknya memang Ajeng mengikuti kemana suaminya pergi.
“APA KAMU BILANG AKSA?” Maya hampir tersedak makanan, dia mengharapkan rumahnya akan kembali ramai dengan berkumpul bersama anak dan menantu.
“Heh enak banget Ajeng, dapat suami tajir, sekarang mau tinggal di luar negeri. Harusnya itu milik aku, kalah saing sama adik sendiri. Di mana lagi cari calon suami selevel dengan Aksa?” Rayana tampak berpikir keras, dia yang ingin hidup nyaman malah terbalik, harus terkurung di rumah kecil.
“Saya rasa cukup jelas. Mungkin Ajeng hanya pulang satu atau dua kali dalam setahun.” Aksa mengakhiri makan siangnya. Dia memilih keluar rumah, duduk di teras menikmati taman yang asri.
Segerombolan ibu-ibu dan remaja mengintip dari celah pagar serta tanaman yang merambat, bukan hal baru bagi Aksa. Sebelumnya di rumah lama, dia akan jadi bulan-bulanan warga sekitar sebab menjadi benalu. Saat ini mendengar samar kata-kata pujian dan haus penasaran.
Sedangkan di dalam rumah, Ajeng dibantu Danang menasihati Maya. Menjaga sikap kepada Aksa, apalagi Rayana sangat jelas menunjukan rasa tidak sukanya kepada adik ipar.
“Memangnya salah Ibu apa Pak? Wajar kan minta uang sama menantu. Aksa juga tidak rugi, kalian berdua berlebihan. Dia bisa bantu melunasi hutang Bapak.” Maya bersikukuh, mendadak kepalanya yang sakit hilang mencium bau uang di tangan anak dan menantu.
“Pokoknya kamu harus bantu ibu , Ajeng.” Mengiba, sorot matanya bahkan berkaca-kaca.
“Jangan berlagak jadi orang paling baik kamu Ajeng, kalau dia masih miskin pasti kamu minta cerai. Enak banget menikmati hartanya sendirian. Kamu lupa siapa keluarga kamu?” Rayana menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menurutnya, Ajeng terlalu naif, berubah drastis setelah mengetahui Aksa pewaris Cwell Group.
Rahajeng mendelik mendengar kata-kata kasar Rayana, memangnya kapan dia mau bercerai dari suami? Sewaktu memergoki Aksa tidur dengan wanita lain saja, itu karena cemburu, sakit hati dan kecewa. Selebihnya terkena hasut orangtua bukan kemauan sendiri.
“Aku mencintai dia apa adanya kak, bukan karena status apalagi harta. Kakak pikir atas dasar apa pernikahan kami bertahan selama dua tahun lebih? Kami memang menikah karena terpaksa, tapi setelah satu bulan berumah tangga, aku sadar Aksa memang lelaki yang baik. Sampai di tahun berikutnya kakak dan Ibu juga Bapak ...” Ajeng melirik satu per satu Rayana, Maya serta Danang, menarik napas dalam. Dia marah selama ini terlalu bodoh, menuruti semua perintah Maya dan Danang.
“Merusak rumah tangga kami dan …” tak kuasa melanjutkan kata-kata menyakitkan yang mengenang luka lama. Ajeng terduduk di atas lantai, menangis, membekap mulutnya kuat-kuat. Malu kepada suami, keluarganya bukan sungkan atau minta maaf tapi memanfaatkan keadaan.
“Munafik kamu.” Tunjuk Rayana tepat di kening adiknya sampai kepala Ajeng terdorong ke belakang.
“Rayana cukup, kalau Aksa tahu. Bapak yakin dia tidak akan tinggal diam, jangan ganggu adikmu, hidup kita sudah tenang!” Danang tidak kuasa menghalangi dan melindungi putri bungsunya, ketiga wanita ini memang gemar berseteru.
Ponsel Ajeng terjatuh di atas punggung kaki Rayana, dia nekat membuka, menempelkan ibu jari ke layar. Mendorong Ajeng yang berusaha meraih benda pribadi miliknya.
“Aku penasaran berapa saldo di m-banking kamu. Apa password-nya?” tanya Rayana dengan bodoh.
Ajeng menyeka air mata, merebut ponsel dari tangan Rayana. Aksi tarik menarik benda itu tak terhindarkan, Danang berusaha melerai sebelum keributan ini diketahui menantu.
“Rayana, Ajeng cukup! Rayana jaga sikap kamu.” Danang sakit kepala melihat dua putri bertengkar, Maya sama sekali tidak ada niatan membantu.
Tanpa sengaja entah jari siapa menyentuh ikon Gmail, hingga terbuka seluruh pesan dalam aplikasi itu. Rayana melotot membaca sekilas pengirim pesan. Dalam hatinya berkata, “Gila, sesuai dugaan.” Dengan sekali hentak mampu merebut benda pipih itu dari tangan Ajeng.
“Pintar juga kamu Ajeng menyembunyikan harta suami dalam bentuk lain.” Rayana membuka satu pesan, semakin panas hati dibuatnya. “Lihat ini Bu, dia itu manusia licik, sengaja tampil miskin mengelabui kita semua.” Menunjukkan semua pesan dalam email.
Maya sendiri bingung tidak mengerti, kata-kata yang tertulis, sangat asing tak mudah dicerna.
“Maksud kakak apa? Siapa yang licik?” Ajeng merampas ponsel dan membaca dengan seksama. Dia memang bukan pakar keuangan, sekolah pun jurusan kesehatan bukan manajemen, akuntansi apalagi bisnis.
“Aksa?” gumam Ajeng, kepalanya bergerak ke kiri mencari keberadaan suaminya.
“Nah kan lihat, suami kamu itu kaya raya Ajeng. Jangan bilang kalau selama ini kamu tidak tahu tentang hal ini? Bodoh kamu Ajeng.” Cibir Rayana, kenapa bisa memiliki adik seburuk Rahajeng Prameswari.
“Ada apa?” tanya Aksa, mengerutkan dahi. Memusatkan atensi pada Ajeng, matanya sembab. “Kamu nangis?” Aksa menangkup kedua pipi Ajeng, mencoba mencari kebenaran melalui sorot matanya. “Apa yang mereka lakukan sayang?”
“Aksa, kita pulang sekarang bisa? Aku … tidak enak badan.” Bohong Ajeng dan sayangnya tidak semudah itu membodohi suami.
Aksa keluar dari rumah, merangkul istrinya, dengan mata melirik tajam kepada Rayana.
TBC
**
terima kasih atas kebaikan jempolnya 🙏
TBC