I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 62 Keputusan Rayana



“Aksa, kamu mau bawa aku ke mana? Makan yah?” tanya Ajeng sangat sumringah, semenjak hamil memang paling menyukai makanan. Rasa laparnya selalu berlebihan padahal Aksa telah mengatur menu dengan gizi seimbang.


“Iya nanti kita makan.” Aksara membawa istrinya ke suatu tempat, dikhususkan untuk Ajeng.


“Jalan ini? Bukannya ke tanah kebun Bapak ya?” Ajeng kebingungan sendiri. Dia pun melirik penampilannya yang tidak sesuai. Salah kostum, pikir Ajeng pergi ke kebun.


Namun tidak menunggu lama keduanya tiba di depan sebuah gedung bertingkat. Ajeng terperangah, lebih mirip rumah sakit. Kepalanya menelisik suasana sekitar, sama sekali tidak asing. Dia pernah ke sini beberapa kali, rasanya berbeda.


“Kamu cari apa sayang?” Aksa meraih jemari Ajeng, menuntunnya masuk ke dalam bangunan yang dalam tahap penyelesaian. Menemui arsitek rekanan Cwell Group.


“Aksa? Ini tanah kebun Bapak kan yang kamu beli?” tunjuk Ajeng ke bawah, lalu pandangannya terpusat ke atas, melirik tajam


“Iya sayang, ini rumah sakit ibu dan anak. Rencananya sebelum kamu melahirkan sudah selesai tapi masih ada beberapa kendala. Kamu suka? Ini hadiah untuk kamu Ajeng.” Aksara memberi kejutan berlebihan, Ajeng membuka mulutnya, tidak percaya.


“Aku pikir tanah ini masih ditanami rumput dan pohon, tapi berubah jadi rumah sakit.” Menyeka air mata yang turun akibat terharu.


“Mana mungkin. Lebih baik dimanfaatkan untuk banyak orang. Sekarang kita lihat ke dalam ya.” Aksa membimbing istrinya mengelilingi rumah sakit ini.


**


Berbulan-bulan Rayana mencari pekerjaan, tidak juga ada satu tempat yang memberi kesempatan. Sebab reputasinya yang sudah rusak, baik apotek atau klinik kecil tidak menerima latar belakang buruk seseorang. Sulitnya mencari kerja, membuat Rayana putus asa lalu menangis setiap malam.


Hidupnya, benar-benar mengandalkan uang Andres, memang masih sangat banyak dan cukup tapi jika digunakan terus menerus tanpa ada pemasukan, pasti habis. Selain Itu, bagaimana jika Maya mengendus uang senilai satu milyar lebih di rekeningnya, sudah pasti menengadahkan tangan.


“Apa aku sewa toko baju di pasar ya? hah tapi mahal 30 juta satu tahun. Belum belanja awal pakaian, semua perlengkapan. Mau usaha kok Pusing.” Keluh Rayana, membuka laci, mencari obat pereda sakit kepala yang menjadi sahabatnya.


“Kenapa susah cari kerja? Aku ini bukan pembunuh, Bapak masih sehat dan hidup. Kenapa semua oang beranggapan beda, huh.” Rayana hanya bisa menatap gelapnya malam, yang setia menjadi pendengar segala ketidakadilan dunia.


“Beruntung banget Ajeng bisa menikah dengan Aksa, aku dan Andres berakhir sial. Ke mana lagi ya cari uang?” Rayana menggulir layar ponsel, semua rekan satu angkatan serempak menjauh, tidak ingin tertular pengaruh negatif.


Senior dan juniornya tak sekalipun menanggapi permohonan Rayana, mereka bersikap baik di depan tetapi sangat busuk di belakang. Membicarakan dirinya yang selalu dijadikan topik hangat buah bibir.


Seakan semua terbalas, dulu ulahnya menyebar kabar miring tentang Ajeng, sampai adiknya itu mengalami stress mendengar caci maki. Beberapa bulan ini Rayana dijadikan daftar hitam, tidak boleh mengunjungi rumah sakit, ketua organisasi kedokteran di rumah sakit melarang siapapun berinteraksi dengannya.


Sikap Rayana keterlaluan, meracuni ayahnya sendiri hingga lumpuh.


“Apa yang lagi kakak pikirkan? Aku lihat selalu bengong.” Ajeng turut bergabung bersama Rayana di ruang makan. Menyantap cemilan ringan.


Rayana tidak menjawab, pandangannya turun ke perut besar Ajeng. Dia sedih dan mendadak histeris. “Ajeng … Ajeng kakak minta maaf ya, sering kasar dan keterlaluan membenci kamu juga Aksa. Padahal kalian berjasa banget. Kamu benar, Aksa masih memiliki belas kasih, kalau dia tega pasti kami bertiga sudah terkubur.” Ujar Rayana, lalu menyentuh keponakannya di dalam sana.


Sekilas rekam ingatan berputar, pertama kali menolak kehadiran keponakannya. Saat itu Maya memegangi kedua tangan Ajeng, dengan gerakan cepat Rayana menyuntik obat kontrasepsi. Dia menghasut Ajeng agar berpisah dari suaminya.


“Kamu mau kan Ajeng? Kakak benar-benar banyak salah.” Permohonan maaf Rayana memang tulus, tetapi dia berharap kehidupannya berubah menyenangkan setelah Ajeng menerima permintaan maafnya.


Kedua bersaudara itu saling memeluk satu sama lain. Menepuk punggung secara perlahan.


Pemandangan langka yang Aksara saksikan melalui layar MacBook di dalam kamar.


Kembali ke ruang makan


“Ajeng, di mana Aksa? Kakak mau diskusi dan minta pendapatnya, boleh kan?” Rayana membantu Ajeng berdiri, memapahnya menuju kamar tidur.


Rayana putuskan untuk membuka toko pakaian di pasar, tentu saja dia bukanlah wanita rumahan yang terbiasa menghabiskan waktu seharian di rumah. Rayana pun enggan merawat Danang yang hanya bisa melakukan segala hal di atas ranjang.


Ditemani Ajeng, mantan dokter cantik itu mendiskusikan segala sesuatu dengan Aksara. Dari pemaparan cukup meyakinkan, walau masih terselip keraguan, takut merugi.


“Ya aku setuju, memang sebaiknya kakak ipar jangan berdiam diri di rumah, memiliki kegiatan positif sangat bagus. Siapa tahu Ibu mulai terbuka juga jalan pikirannya. Tapi ... kakak, ini bukan alasan menghindari Bapak yang sakit kan?” sarkas Aksa seakan tahu isi kepala Rayana.


“Heh mana mungkin Aksa. Jangan bawa masa lalu, sekarang aku berubah, aku juga menyesal kok.” Bibir Rayana menampik, kendati hatinya membenarkan 100%.


“Setelah Ajeng melahirkan, pindah lah keluar dari sini. Kalian harus hidup mandiri, jangan ketergantungan. Tahu kan kalau kami akan tinggal di Swiss? Titip Bapak dan Ibu, sebagai anak sulung harus bertanggung jawab.” Aksara berdiri, kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat ambigu. Hingga orang lain yang mendengar berpikir buruk, menilainya tidak memiliki rasa hormat kepada kedua mertua.


“Ajeng? Apa maksud suami kamu? Dia mengusir kakak dan Ibu? Kamu kenapa diam saja? Bukan bela keluarga.” Serang Rayana, tidak menyangka adik iparnya setega itu. Walaupun Rayana tahu, suatu hari nanti Aksara pasti akan menendangnya keluar dari kediaman megah ini.


“Aku tidak tahu kak. Jangan salahkan Aksa juga, dia pasti memiliki rencana baik yang lain.” Ajeng lebih membela suaminya, sebab tidak mungkin Aksa bertindak kejam disaat Rayana serta Danang telah berubah.


“Dasar ya orang banyak uang seenaknya saja. Untung dia berjasa, sombong banget kamu Aksa.” Rayana yang kesal bergegas keluar kamar, meninggalkan adiknya dalam kebingungan.


Malam harinya Aksara dan Ajeng menikmati makan malam bersama Maya juga Rayana kecuali Danang. Sebab pria yang sekarang sedikit kurus itu tidak bisa bergerak kemanapun.


Maya memperhatikan cara putri bungsunya melayani suami, “Ajeng, dulu sewaktu miskin, mana mau kamu begini. Sekarang sudah kaya raya lupa sama Ibu.” Sinis Maya dalam hati.


“Aksa mau makan sama apa lagi?” Ajeng merubah sikap ketusnya dan mulai menjalani peran sebagai istri yang baik sejak kembali bertemu dengan Aksara.


“Cukup, kamu juga makan ya sayang.” Aksa tersenyum hangat sembari menyentuh punggung tangan wanitanya.


Ajeng duduk menyantap semua masakan enak yang disiapkan koki khusus, sesekali terhenti sebab merasakan tidak nyaman di sekitar tulang ekor merambat ke perut bawah.


TBC


**


ditunggu dukungannya ya kakak😍🙏terima kasih