
Pagi yang mendung padahal Kota Zurich disinari cerahnya mentari. Ajeng yang tengah hamil muda menangis sesenggukan, niatnya memberi kejutan gagal sudah. Lantaran pagi ini Aksa harus berangkat ke Liverpool - Inggris, memeriksa projects besarnya di sana, tidak bisa begitu saja dilimpahkan kepada Elang.
“Sudah ya Ajeng jangan nangis, tiga hari lagi aku pulang.” Aksa kebingungan sejak semalam Ajeng selalu menangis, wajahnya yang cantik hilang karena terus cemberut.
“Nanti cantik kamu hilang, gemana? Memangnya rela semua pengorbanan skincare kamu sia-sia?” gurau Aksa, kesal tapi istrinya menggemaskan juga.
“Kamu jangan pergi, bisa kan? Atau aku ikut.” Ajeng merengek, menyusut ingusnya ke kemeja Aksara.
“Jorok. Ajeng kamu kenapa jadi aneh? Begini ya, Bryatta masih minum ASI, mana mungkin aku tega. Dia belum sekuat aku bisa jauh dari sumber nutrisinya. Tunggu di mansion ya sayang.” Tutur Aksa lemah lembut.
Ajeng yang memang tidak kehilangan akal, bertindak di luar prediksi. Wanita itu nekat membuka kancing kemeja Aksa satu per satu, tidak lupa ikat pinggang dan resleting celana. Membelai sesuatu yang tersembunyi di dalam sana.
Sama-sama termakan g@-!-r-4H, Aksa lupa tujuannya masuk ke ruang kerja untuk mengambil file penting. Dia lebih memilih kenikmatan yang membawanya terbang hingga langit ke tujuh, tidak masalah olahraga pagi dalam waktu singkat.
Usai mencapai pelepasan, Ajeng mendekap erat tubuh suaminya, mengucapkan sesuatu yang mampu membuat Aksa mematung. “Aku hamil lagi, sayang. Ini” Memberi amplop hasil USG, yang sebelumnya disimpan di atas meja.
“Bryatta punya adik? Aku masih kuat ternyata.” Kelakar Aksa, matanya mengembun, terharu. Sebab Ajeng kembali mengandung buah cintanya.
“Kalau gitu, pagi ini aku tetap berangkat tapi besok sore pulang, boleh ya sayang? Pertemuan dengan Perdana Menteri tidak bisa diwakilkan orang lain.” Aksa berusaha membujuk wanita yang selalu sensitif bila tersinggung sedikit.
Ajeng mengangguk cepat, menyetujui kesepakatan ini. Selama suaminya janji pulang besok.
**
Satu hari kemudian
Sore ini Aksa sudah siap ke bandara, sementara dia menunggu seseorang yang bertugas menemani Elang selama di Inggris. Pekerjaan serta mobilitas yang banyak tidak mungkin dikerjakan seorang diri.
“Memangnya kamu minta siapa yang ke sini? Carol? Lebih baik anak itu tunggu di mansion, Nyonya Ajeng lebih membutuhkannya dibanding aku.” Kesal Elang, pasalnya satu jam dia berdiri bersama Aksa menyambut orang itu.
“Seharusnya kamu tahu siapa orangnya. Dari perjanjian kerja sama juga sangat jelas kalau dia orangnya.” Dagu Aksa bergerak menunjuk dia yang mereka tunggu.
Seketika mata Elang melotot, mendesah lesu. Lagi-lagi harus bersama Catlin Lucero, perempuan manja, bar-bar dan ya cukup cerdas.
“Kenapa harus dia Aksa? Masih ada Arthur, bahkan lebih baik Carol saja yang kemari.” Elang menggerutu, setiap kali bersama Catlin pasti selalu tertimpa nasib buruk .
Sedangkan Elang bukan peramal yang bisa mengetahui masa depan.
“Aksa, Elang, maaf ya lama. Aku beli ini, bagus kan? Ini untuk kamu dan Ajeng, ini untuk Elang, kita semua kan teman jadi harus pakai gelang pertemanan ini. Setuju ya, sini aku bantu.” Tangan Catlin lancang menyentuh pergelangan tangan Elang.
Aksa mengulum bibir, menahan tawa atas reaksi Elang yang membeku.
“Selesai. Aksa jangan cemburu ya, kamu minta tolong sama Ajeng. Kalau Elang kasihan tidak punya pasangan. Hahaha. Aku juga ragu kamu itu menyukai wanita atau tidak. Ayo pergi ke hotel, aku mau tidur.” Catlin melengos begitu saja setelah menyindir sekaligus membuat Elang meradang.
“Ini namanya membunuh secara perlahan, aku bisa mati sebelum waktunya. Aksa keterlaluan.” Desis Elang seorang diri di tengah tangga. Bahkan Tuan Besar Caldwell sudah menghilang dengan kendaraannya.
“Awas kau Catlin Lucero, bisa-bisanya meragukan kejantananku.” Elang menatap tajam ke arah pintu hotel.