
Hari yang teramat sial bagi Rayana, perut kelaparan tidak stok makanan, kemarin membawa bekal roti, pagi ini dia harus berjalan sejauh dua kilometer mendatangi balai desa hanya untuk mengambil bahan mentah.
“Apa-apaan ini? Hah, apa tidak ada cafe atau restoran cepat saji?” keluhnya dalam hati, dia pikir desa yang dimaksud masih memiliki akses kota, ternyata jauh di pedalaman. Jalan setapak, melintasi sawah, perkebunan, dan semak, hanya ada beberapa rumah warga di pinggir jalan. Melirik ke bawah dan berkata, “Semoga tidak ada ular.”
Tiba di balai desa, Rayana hanya menelan ludah, antrian panjang berkelok-kelok, dan semuanya tenaga yang diperbantukan. Ada beberapa rekan dokter, perawat, bidan, guru dan pegawai bangunan.
“GILA, mau makan saja ribetnya minta ampun. Keterlaluan Aksa, bisa-bisanya kirim aku ke tempat kumuh begini.” Umpat Rayana dalam hati, dia tidak mengerti disaat rekan lainnya dimutasi karena menghina Ajeng, masih mendapat tempat layak, kenapa dirinya jauh lebih mengenaskan?
Desa ini menjadi salah satu tempat yang sedang dibangun banyak infrastruktur, baik kesehatan, pendidikan, jalan, dan penampungan air bersih, serta rumah layak huni bagi warga membutuhkan, semua proyek diawasi oleh Cwell Group.
‘Hi … kamu dokter baru ya? siang nanti kita berkeliling desa, memeriksa apa masih ada warga yang sakit tapi tidak mau berobat. Jangan terlambat datang ke klinik’
“Hah? Berkeliling? Tidak salah? Aku biasa diam di atas kursi empuk bukan mencari pasien.” Gerutu Rayana dalam hati, tanpa menjawab apalagi tersenyum, hanya ada tatapan terkejut dari kedua bola mata hitamnya.
Usai mengantre hampir tiga puluh menit, Rayana segera kembali ke rumah kecilnya, berjalan bolak balik empat kilometer sangat menguras tenaga dan waktu. Kakinya bengkak, akibat tidak membawa alas kaki yang sesuai dengan medan.
Dia menangis memandangi perapian kecil di sudut ruangan, seumur hidup belum pernah melihat alat sangat tradisional. “Argh … aku mau makan.” Tangisnya pecah, menggema dalam ruangan tanpa lantai keramik ini.
Berulang kali mencoba selalu gagal menyalakan api, keringat mengucur deras akibat kelelahan, perut yang terus berteriak serta wajahnya dipenuhi debu.
“Ajeng semua ini gara-gara kamu.” Melempar korek api ke atas perapian dan menyala. “Akhirnya aku bisa makan.” Isak tangis Rayana mulai memasak nasi, juga menggoreng telur.
“Nasi dan telur, tanpa sayur dan buah? Aku bisa sembelit.” Menatap nanar sepiring nasi dan telur mata sapi dia atas piring kaleng. Kepalanya menoleh ke atas meja kayu dengan kaki-kaki keropos dimakan rayap, pembagian bahan makanan hanya beras, telur dan ikan kemasan kaleng.
Penderitaannya belum berakhir, harus mandi dengan mengumpulkan air lebih dulu, perutnya yang sudah terisi pun kosong lagi. “Aku pasti pulang dan membalas dendam, terutama kamu Ajeng. Curang! Menghabiskan uang Aksa sendirian, dasar kacang lupa pada kulitnya.” Rayana terus menggerutu sampai air memenuhi bak mandi.
Hari dan waktu sangat lambat bergerak, Rayana Prameswari terus berkeliling dari satu rumah ke rumah lain. Belum lagi mendapat penolakan warga, sikapnya tidak ramah, memeriksa pasien sangat kasar. Tidak ada pembayaran berupa uang, tapi Rayana mendapatkan caci maki dari keluarga pasien dibumbui dengan sumpah serapah.
“Manusia tidak tahu terima kasih.” Menggenggam stetoskop dan membanting tas ke atas tanah basah.
‘Sabar dokter, lain waktu cobalah tersenyum sedikit. Ngomong-ngomong tas peralatan dokter basah, apa alat di dalamnya tidak rusak?’
“Ah sial, kenapa aku ceroboh.” Naasnya ketika meraih tas, kaki Rayana terpeleset dan terjatuh dalam kubangan lumpur. “AKSARA, AJENG” teriak Rayana dalam hati sungguh membenci sepasang suami istri itu.
**
Di tempat berbeda Ajeng melamun setelah mengetahui dua hari lagi suaminya pergi, dia kecewa. Bukan kah janji, untuk membawa Ajeng kemanapun? Tapi sudah ingkar.
“Maaf sayang, ini murni masalah pekerjaan dan …” Aksa menarik napas lalu membuka kaosnya dan melempar asal, memeluk dari belakang, menyandarkan dagu pada bahu Ajeng.
“Dan apa? Jadi itu alasan kamu meminta Nona Catlin tinggal denganku? Kamu mau dia menjaga aku?” Ajeng mulai menangis, perasaannya tidak enak, hatinya berteriak melarang Aksa pergi jauh.
“Tapi Aksa, bagaimana kalau dia melakukan sesuatu dan kamu …” Ajeng menelan saliva, satu kata itu tersangkut di tenggorokan. Dia tidak mau kehilangan Aksa untuk kedua kalinya.
Andres Zotan Caldwell sepupu angkat Aksara Kaisar Caldwell, menorehkan luka teramat dalam. Malam itu Aksa remaja melihat dengan dua mata, Andres menuangkan arsenik pada ramuan herbal obat milik kakeknya. Setelah tidak sadarkan diri, menusukkan belati tepat di dada kiri Henry Caldwell. Semua tuduhan ditujukan pada Ayah Elang.
Semua orang kepercayaan Henry Caldwell diusir dari mansion, bahkan namanya menjadi daftar hitam di Swiss. Andres muda dipercaya memimpin Cwell Group selama beberapa tahun sebelum pengacara keluarga mendepaknya dari posisi Presiden Direktur. Dia lari dan menetap di New York, menunggu sang pewaris asli kembali menduduki singgasana.
“Tenang sayang, aku bukan Aksa pengecut. Doakan saja suamimu ini pulang dalam keadaan selamat.” Ringannya Aksa bicara sembari tertawa, mencairkan suasana, tapi bagi Ajeng sama sekali tidak lucu.
Andres tidak bisa disingkirkan dengan mudah, sebab memiliki 35% saham di Cwell Group, pendukungnya pun cukup banyak setara dengan Aksara. Pria itu bertekad akan merebut Cwell dari tangan sang pewaris sesungguhnya.
Kekuatannya cukup besar, Andres mendanai pasokan senjata api ke sejumlah negara, untuk itu Aksa perlu hati-hati. Dia juga sengaja tidak mengumumkan siapa istrinya, lebih baik gosip di luar beranggapan bahwa pasangannya Catlin atau Rachel, dua wanita itu memiliki pengamanan tingkat tinggi, tak tersentuh sebab latar belakang keluarga yang kuat di pemerintahan dan perekonomian.
“Selama aku pergi, menurut lah dengan Catlin, kalian pasti bisa berteman dengan baik. Jangan keluar rumah sendirian, minta semua pengawal mengantar. Walaupun Catlin kuat, dia juga wanita. Patuhi suami kamu, ingat kan janji kita?” Aksa mengeratkan pelukannya, menghidu aroma dari tengkuk Ajeng.
“Iya Aksa, kamu janji pulang dengan selamat ya? Apa Tuan Elang juga ikut?” Ajeng menegang, sangat ketakutan. Hidup berbulan-bulan tanpa suami sangat berat, apalagi sekarang mengetahui jika belahan jiwanya akan pergi menantang maut.
“Tentu saja, burung itu harus ikut. Elang memiliki dendam tersendiri, keluarganya dituduh penghianat mana bisa diam saja.” Aksa menjelaskan dengan nada bercanda, sengaja dia lakukan agar istrinya tak larut dalam rasa cemas berlebihan.
“Ajeng? Kalau aku tidak kembali, berjanjilah hidup dengan baik dan aman, gunakan semua uang yang kamu miliki. Jangan hidup dalam kesusahan dan jangan menikah lagi.” Aksa menghela napas, memejamkan mata. Kata-kata itu hanya mampu diucapkan dalam hati.
“Apa Aksa? Kenapa? Jangan ada rahasia lagi ya!” Ajeng melepaskan kedua tangan suami di atas perutnya. Dia memutar tubuh sampai kedua mata bertemu dan saling menatap dalam.
“Kita pergi berlibur sayang, mau ya?” dua hari ini Aksa manfaatkan untuk menghabiskan waktu dengan wanitanya jauh dari pekerjaan.
TBC
***
jangan lupa tekan tanda jempol ya. Ga komen gapapa koq tapi like-nya boleh ya 🙏 terima kasih.
5 teraktif dipilih setelah novel tamat
terima kasih atas dukungannya