I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 59 Memperluas Sayap Bisnis



Perhelatan sederhana digelar tepat hari ke sepuluh, setelah perusahaan mendiang Andres resmi diakuisisi Cwell Group. Aksara merubah seluruh peraturan, dan menunjuk CEO baru, menggantikan pria muda sebelumnya yang turut merekayasa laporan keuangan.


Semula Aksa menetapkan Elang sebagai CEO, namun asisten pribadi rupawan itu menolak, sebab tidak tertarik sama sekali. Hidupnya akan selalu mendampingi Aksara di manapun, karena Elang diberi nasihat oleh Ayahnya, agar tidak tergiur materi.


“Kau yakin tidak mau? Pasti banyak wanita yang akan mengantre di luar sana setelah statusmu berubah menjadi CEO.” Tukas Aksa, duduk di kursi kebesarannya. Sebenarnya berat hati melepas Elang, itu artinya akan sibuk mencari pekerja baru yang loyal.


“Tidak. Kau pikir aku tidak laku karena pekerjaan saat ini? Salah, aku belum ingin menikah saja. Melihat rumah tanggamu membuat kepalaku pusing.” Elang menghembuskan napas, mengedikan bahu.


Dia meringis mengingat Bosnya setiap satu atau dua jam sekali diwajibkan memberi kabar kepada istrinya. Elang bukan tipe pria yang ingin direnggut kebebasannya.


“Mungkin mantan kekasihmu kembali lagi, buat saja dia menyesal memilih pria yang salah!” gurau Aksa sembari menghasut Elang.


“Hah, memangnya di dunia ini wanita hanya satu? Masih ada jutaan wanita cantik Aksa, untuk apa mengejar dia yang memilih pria lain, menjijikan sekali. Memangnya kamu, masih menjaga istrimu padahal perangainya buruk.” Elang membalas pernyataan Aksa, dia masih kurang menyukai Nyonya Muda Caldwell, karena bayang-bayang tersiksanya Aksa melekat erat.


Hahaha


Suara menggelegar dari tawa Aksara, memegangi perutnya. “Ya kau benar, cinta itu buta. Tapi jangan salah, kalaupun Ajeng mendua pasti ku ceraikan. Nyatanya? Tidak. Kami menjalani satu tahun pernikahan sangat manis dan tahun kedua mulai memanas karena hasutan mertua.” Menghela napas, menyadarkan kepala pada sandaran kursi.


“Kehidupan kami selalu kekurangan materi, ya sebagai istri dia menuntut supaya suaminya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Lupakanlah itu masa lalu yang harus dijadikan pembelajaran, bagaimana penjualan mobil Andres?” tanyanya berubah serius.


Hubungan antara keluarga Caldwell dan Elang telah terjalin beberapa generasi, tidak boleh terputus pada keturunan keempat.


Akhirnya Aksara memerintahkan salah satu COE anak perusahaan, untuk beralih tugas memimpin kantor di New York City.


Banyak pegawai pentingnya yang migrasi dari Swiss atau negara lain ke NYC. Semua dilakukan demi mempercepat jalannya roda bisnis, karena karyawan baru perlu penyesuaian dengan sistem kerja yang diterapkan Cwell Group.


“Misi selesai Tuan. Uangnya sudah ku transfer ke akun Nona Rayana, semoga penyihir muda itu bisa menerima dua milyar sebagai kompensasi.” Kalau saja tidak ingat jasa Rayana, Elang enggan memberikan apa yang wanita itu butuhkan.


“Terima kasih. Kapan pesawat siap? Paman pasti menunggu di mansion.” Aksa berdiri tapi sebelumnya menerima panggilan suara dari Ajeng yang sudah dua kali menelepon. “Huh, dia berubah sangat manis sekaligus membuat suaminya sebagai tahanan.” Kelakar Aksa dengan wajah sedikit layu.


Setelah masalah di US rampung 95%, Aksa tidak langsung pulang ke rumah istrinya, melainkan bertolak ke Swiss. Mengunjungi pusara Andres, bagaimanapun Andres tumbuh sejak kecil bersamanya.


“Hi istriku, ada apa? Lapor, satu jam lagi aku dan Elang ke Swiss. Mungkin dua hari lagi pulang ke Indonesia. Kau yakin tidak mau oleh-oleh? Tas atau jam tangan?” tanya Aksa sedikit memaksa, berharap perhatian Ajeng teralih pada benda-benda.


“Tidak mau, tas dan jam tangan banyak, tapi suami cuma satu. Aku maunya kamu. Lama banget dua hari lagi?”


Aksa menjauhkan ponsel dari daun telinga, wanita itu dalam suasana hati yang buruk dan selalu gemar merajuk .


“Iya sayang, janji dua hari lagi. Gemana kabar Bapak? Kakinya semakin sakit?” Aksara menerima informasi bahwa Danang kesulitan bergerak dan sudah dua kali keluar masuk IGD.


“Dua hari berubah satu minggu, lalu sepuluh hari dan sekarang 12 hari. Kamu bohong Aksa, huh. Aku mau ikut.”


Ajeng sangat kesal kepada suaminya, sebab Aksa terlihat sekali mementingkan pekerjaan.


“Iya kaki Bapak sakit, bengkak. Kadar lemak darahnya juga tinggi. Maaf ya sayang, Bapak dan Ibu jadi merepotkan. Terima kasih juga atas bantuan fasilitasnya. Aku berhutang banyak.”


Ajeng yang marah berubah melunak karena malu.


“Bayar lah hutang kamu, aku bukan dermawan yang memberi sarana gratis.” Selalu saja Aksa gemar menggoda Ajeng, membuat istrinya itu ketakutan dijatuhi hukuman mengerikan.


“Hah? Uang? Aku sekarang hidup bergantung sama kamu.”


“Jadilah istri yang patuh, menyayangi Aksara sampai menua. Lalu figur yang baik untuk anak-anak kita.” Ucap Aksa penuh penghayatan.


‘Permisi Tuan, laporan perkembangan Coffee Shop telah saya kirim melalui email’


“Sayang sudah dulu ya, aku ada pekerjaan, nanti setelah sampai di Swiss, pasti aku telepon.” Aksara menutup sambungan tanpa mendengar jawaban dari istrinya. Kemudian membuka email dari pengawas lapangan.


Aksara yang semakin gemar mengembangkan sayap, mendirikan Well Coffee di US, langkah awal telah selesai, memilah lokasi dan desain bangunan. Selanjutnya menyerahkan kepada pihak ketiga, arsitek dan perusahaan konstruksi miliknya.


Karena kecintaan terhadap minuman berkafein, membuatnya ingin membuka cabang Well Coffee di berbagai negara. Usahanya ini didedikasikan khusus kepada mendiang Nyonya Besar Caldwell. Aksa menyayangi ibunya, masih ingat cerita Henry bahwa wanita itu sangat menyukai meracik kopi, bahkan Ayah Aksara jatuh cinta karena keahlian istrinya.


“Tapi Ajeng tidak begitu menyukai kopi seperti mom. Setelah melahirkan, Ajeng harus ku ajak ke sini. Pasti dia suka.” Aksa tersenyum menatap gambar dalam email.


**


Setelah memakan waktu lama, Aksa tiba di mansion Caldwell. Dia bercengkrama bersama Ayah Elang dan bermalam lebih dulu sebelum pergi ke makam keluarga.


“Aku tidak akan menjadi pembunuh kalau dia mengakhiri dendamnya. Kakek, maaf Aksa terlalu berlebihan menangani Andres.” Aksa bicara pada foto Henry Caldwell yang selalu tersimpan rapi di atas meja.


Tidak bisa tidur, Aksara keluar kamar dan turun ke lantai satu, masuk perpustakaan. Memilah acak buku-buku, membacanya di ruangan luas dengan atap transparan, menampakan gugus rasi bintang di langit malam di Kota Zürich – Swiss.


Teleskop yang lama tidak digunakan masih berdiri pada tempatnya, Aksa kecil sering menikmati malam bersama Henry Caldwell di dalam ruangan ini.


Aksa berdiri, hendak menghampiri benda itu untuk mengenang masa kecil. Tapi dia tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku tebal milik ayahnya, dalam halaman yang terbuka tertulis sebuah kalimat; untukmu Arnold Caldwell.


“Siapa yang menulis ini? Mom? Aku bahkan tidak tahu tulisan tangan ibuku sendiri.” Aksa meraih buku dari atas karpet, rasa penasarannya semakin kuat karena menemukan sesuatu tepat di bagian belakang buku.


TBC


**


kira kira apa ya?


satu bab lagi menyusul ya


maklum dalam perjalanan menuju habitat🙏😁


terima kasih atas dukungannya