I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 27 Hancur



Semula Rayana pikir Danang memukul ibunya, ternyata salah. Melainkan Maya memukuli diri sendiri, lantaran merasa bersalah pada suami. Akibat terlalu banyak terlilit hutang arisan, semula memang uang pemberian Danang akan digunakan untuk membayar berlian dan tas mewah. Tapi Maya tidak kuasa lebih mementingkan mobil mewah yang diimpikannya.


“Maaf Pak, ibu salah. Hukum saja ibu Pak.” Tangis Maya, tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana, ditambah rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Uang lamaran Rayana tersisa setengahnya.


“Bu, usaha Bapak bangkrut. Mesin kopi baru hilang, semua biji kopi rusak. Seharusnya Bapak tetap pakai supplier lama. Semua ini karena Well Coffee, Bapak ingin untung banyak tapi malah buntung.” Danang depresi, duduk diam di salah satu anak tangga, menyugar rambut hitam dan putihnya.


“Pak, ibu tahu jalan satu-satunya. Kita harus menikahkan Rayana dengan Aji secepatnya Pak. Bagaimana menurut Bapak?” Maya bersimpuh di kedua kaki Danang, benar-benar takut hidup susah dan tidak bisa menikmati makanan enak. Masa bodo dengan semua tetangga, yang sudah menghinanya, terpaksa ia telan bulat-bulat semua rasa sakit hati.


“Ibu benar, bapak harus bertemu dengan orangtua Aji.” Tegas Danang, hanya putri sulung harapan keluarga, bisa menyelamatkan usaha, serta rumahnya dari Bank. Beruntunglah Danang tidak memiliki tunggakan dua bulan ini, dia hanya perlu mencari uang untuk membayar di bulan berikutnya.


Sementara Rayana menguping di balik pintu, tidak menyangka hari sialnya akan segera datang. Tapi sudahlah anggap saja pengorbanan sebelum menangkap ikan lebih besar. Lagipula diantara Rayana dan Aji telah sepakat, menikah hanya untuk bersatu membuat Ajeng berpisah secara hukum dari Aksa.


Rayana tidak bisa bekerja sendirian, begitupun dengan Aji, hanya penolakan diterima dari pujaan hatinya. Mereka berharap jika statusnya berubah, maka tidak ada lagi kecurigaan dari Ajeng. Sebab Aji menjadi kakak iparnya.


Liciknya rencana kedua orang itu.


Hubungan Rayana dan Aji simbiosis mutualisme. Masing-masing memperoleh asas manfaat, Rayana akan diuntungkan dengan uang yang mengalir deras dari suaminya. Bahkan Aji menjanjikan membiayai Rayana lulus kuliah spesialis, dengan imbalan membantu merebut hati Ajeng.


Pasca kejadian di kos-kosan, Rayana dan Rahajeng tidak saling bertegur sapa, dua bersaudara itu hanya bersikap baik di depan rekan kerja. Ajeng pun jarang pulang mengunjungi Maya dan Danang. Ajeng memilih lembur diakhir pekan, sabtu dan minggu bertugas di IGD.


Tapi rencana hanya mulus di atas kertas, perjalanannya menemui kerikil tajam, apalagi keluarga Aji mempertanyakan sejumlah uang yang mereka berikan, selanjutnya hanya mengirim sisa yang tidak seberapa.


Lagi-lagi Danang nyaris terkena serangan jantung, mengetahui istri tercinta menggunakan uang acara pernikahan putri mereka. Nasi sudah menjadi bubur, percuma saja dia marah tidak akan membuat uang itu bertambah dengan sendirinya.


“Pak, maafkan ibu. Sekarang bagaimana Pak? Kita jual mobil? Tapi masih kurang Pak. Belum lagi kebutuhan harian meningkat, Rayana tidak mau lagi bantu bayar listrik dan air.” Sedih Maya, merengek, memeluk bantal di atas ranjang.


“Sudah Bu, jangan minta maaf. Memangnya dengan minta maaf semua kesalahan ibu bisa selesai? Sekarang Bapak harus cari investor Buk. Siapa teman arisan ibu yang memiliki suami pengusaha besar?” Danang memijat kepala yang begitu pusing menghadapi tingkah istri tersayangnya.


“Ya semua pengusaha Pak. Restoran, Showroom Motor dan Mobil, Toko Perhiasan, dan kebanyakan pedagang pasar Pak. Mereka bisa bantu ya Pak?” polosnya Maya langsung menyulut api dalam diri seorang Danang.


“Duh ibu. Maksud Bapak. Pengusaha besar yang di kantor dan punya gedung bertingkat Bu. Kalau teman-teman itu sudah pasti kita harus mengembalikan uang dalam waktu singkat, Bapak mana sanggup.” Danang bangkit dan kembali mengandalkan Google.


Danang pun sering keluar rumah untuk bertanya pada teman-temannya, langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mendapat investor dengan cepat. Satu dari sepuluh orang masih memiliki hati, membantu Danang membuat proposal, dan memperkenalkannya dengan perusahaan nasional, bergerak di sektor telekomunikasi.


Apa berhasil? Tidak.


Mencari investor tidak semudah menemukan kesalahan orang lain. Danang beberapa hari keliling ibu kota, dari satu gedung ke gedung lain. Kakinya yang mengidap asam urat semakin parah, ia pun duduk di depan taman sebuah gedung estetik.


“Nasibmu Danang susah benar, punya istri dan anak tidak bisa diandalkan sama sekali. Apalagi Maya, hanya bisa tidur dan makan di rumah.” Semenjak toko baju tutup akibat tidak sanggup membayar sewa, Maya hanya menghabiskan waktu di rumah.


Danang kehausan, panas terik ibu kota membunuhnya. Ia bahkan tidak sanggup berdiri lagi. Sampai seorang wanita berparas cantik, mata bulat, kulit seputih susu dan tinggi semampai memberinya satu botol air mineral.


“Untuk Bapak. Sepertinya Bapak belum makan, mari ikut saya ke kantin kantor.” Merdunya alunan suara wanita cantik benar-benar membuat Danang terhipnotis, kaki yang semula sakit bisa ditahan.


Dibantu dua orang petugas keamanan, Danang berjalan masuk dan menikmati suasana segar nan harum lobi kantor.


**


‘Tuan ini ada laporan dari Indonesia.’


Seseorang mengirim email kepada Elang. Kabar yang memang sangat dinantikan oleh Aksara Kaisar.


Gegas Elang, memasuki ruang kerja Aksa di dalam mansion. Berjalan sembari bersiul senang, pekerjaan mereka telah selesai ditambah mendapat kabar baik dari orang kepercayaannya.


“Permisi Tuan Muda. Aku Elang. Boleh masuk?”


“Iya Elang silahkan. Kau ini tidak biasanya mengetuk pintu, kenapa sekarang berbeda? Salah makan apa?” kelakar Aksa, pandangannya masih fokus pada layar MacBook.


“Saya membawa kabar baik dari perusahaan cabang kita di Indonesia. Silahkan Tuan Muda lihat, semuanya sudah di kirim melalui email.” Tutur Elang masih berdiri di depan bosnya.


“Oya? Apa Manager Pengembangan dan Investasi langsung menyetujuinya? Ku harap jawabannya iya.” Aksa tidak sabar membuka informasi yang luar biasa.


“Mereka menunggu satu telepon saja untuk menandatangani surat kontrak perjanjian. Bagaimana? Ah iya. Mertua mu itu sakit kakinya, apa dia jalan kaki dari rumah?” Elang mengetuk dagu lancip dengan satu jari, berpikir keras.


“Dia memiliki mobil, cari tahu kemana kendaraannya? Dan perintahkan juga mereka untuk mengobati kaki ayah mertua. Aku tidak suka lawanku sakit, berhadapan dengan orang sehat lebih menyenangkan.” Telak Aksa menjentikkan jari sebagai perintah kepada Elang.


“Ok Bos. Kau memang beda Aksa, hati mu masih terlalu baik. Kalau aku, sudah ku biarkan saja mereka semua menderita perlahan.” Tawa Elang hanya di bibir, padahal hatinya meringis, membayangkan seperti apa sakit kakinya Danang sampai menerima laporan menyedihkan dari direktur keuangan perusahaan cabang.


“Elang, bagaimana pun mereka orangtua istriku. Mereka bukan lawan untuk pertumpahan darah.” Serius Aksa, menutup berkas dan MacBook di atas meja.


“Kau sangat baik seperti mendiang Tuan Besar. Oh iya Aksa, malam ini ada janji dengan kedua orangtua Catlin, jangan lupa itu.” Ucap Elang sebelum benar-benar pergi keluar ruangan.


TBC


Terlambat ya kemaren lupa


visual Aksa bawa motor 😎



tahu kan siapa yang kemarin bawa motor?


**


ditunggu jempol dan komentarnya. Vote dan gift juga. Bantu menonton iklan sama dengan memberi dukungan ya


terima kasih 🙏😁