
“Hi istriku Rahajeng Prameswari.” Sapa Aksa dengan ciri khas senyum yang sangat dirindukan oleh Ajeng.
Wanita berambut hitam, dengan bola mata senada bergeming, hanya deru napas berat yang sampai ke telinga Aksa. Ajeng mematung, benar-benar dibuat bingung entah apa yang harus dilakukannya, memeluk Aksa? Ya tapi semua kabar tentang suaminya melekat erat dalam kepala, menghalangi.
Kalau Aksa sudah menikah lagi kenapa masih datang ke sini? Ah iya Ajeng lupa tadi suaminya itu memapah Elang, lantas sekarang apa tujuan Aksa? Ingin berpisah kah atau membalas semua perbuatan Ajeng?
“Hey. Sayang, kenapa kamu diam? Kemari.” Membuka tangan lebar-lebar, berharap Ajeng langsung menghambur memeluk Aksa, tapi yang terjadi sebaliknya. Wanita itu menundukkan wajah, mengulas senyum singkat kemudian pergi sembari mengucap sesuatu.
“M-maaf Tuan. Permisi.” Cicit Ajeng. Rindu, marah, patah hati, menyesal semua bercampur menjadi satu.
Aksa menghalangi jalan istrinya, pria ini ingin melepas rindu tapi sambutan Ajeng diluar dugaan. Aksa meraih tubuh Ajeng yang terlihat kurus, mendekap sangat. “Ada apa?” tanya Aksa, masih belum menyadari dan memang tidak tahu alasan dari perubahan sikap Ajeng. Apa mungkin karena statusnya?
“Kamu … keterlaluan Aksa, jahat banget. Kamu pergi tanpa kabar, lalu … lalu kamu menikah lagi, benar kan? Pergi lah Aksa.” Ajeng mendongak, ditatapnya wajah Aksa yang sangat berbeda, ini bukan lagi suami miskinnya tapi Tuan Muda Caldwell, kepala Ajeng belum bisa berpikir jernih.
Pemandangan antara perawat dan Presiden Direktur Cwell Group menjadi tontonan pengunjung rumah sakit dan rekan kerja Ajeng. Semakin sungkan lah mereka terhadap Nyonya Caldwell, apalagi pernah membuat Ajeng menangis. Akibat cibiran betapa miskinnya seorang Aksa, hanya memiliki motor jelek dan tidak mampu membeli benda-benda mewah keinginan istrinya.
“Sayang. Ikut aku, kamu izin kerja hari ini.” Aksa menautkan jemari tangan dan membawa Ajeng pergi dari rumah sakit. Aksa juga tidak lupa memerintah anak buah lainnya menjaga Elang di rumah sakit. Saat ini penting baginya memberi penjelasan pada Ajeng.
“Mau kemana?” suara serak Ajeng menatap sekeliling jalan, semakin jauh dari rumah sakit.
“Hotel, kita perlu bicara.” Aksa menoleh, tersenyum dan membelai rambut hitam pekat Ajeng yang terikat rapi, memberi sedikit cubitan pada pipi mulus yang merah merona.
Sampai di hotel, Ajeng diam saja mengikuti langkah lebar suaminya, dalam hati bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan Aksa sampaikan? Sejujurnya Ajeng luar biasa takut, beragam pikiran buruk mulai menghasut.
Aksa membuka pintu kamar, mempersilahkan istrinya masuk lebih dulu, kemudian mengambil satu botol minuman. “Ini sayang, aku tahu kamu kaget. Minum dulu.” Perhatiannya Aksa, masih tetap sama, tapi semua berubah tidak lagi sama.
“Ajeng, sayang. Kamu bilang aku menikah lagi? Kabar darimana itu?” Aksa mengangkat dagu istrinya dengan ibu jari, menatap lekat-lekat sosok bidadari tersayangnya.
Tanpa banyak kata, Rahajeng menunjukkan tiga video yang beredar di dunia maya, dalam hati memanjatkan doa bahwa semua itu tidak benar. “Aksa, maaf. Maafkan aku. Sikapku sebelumnya memang pantas menerima hukuman, aku bukan istri yang baik.” Lirih Ajeng begitu malu mengucap kata istri. Ya malu, mungkin saja istri baru suaminya seribu kali lebih baik daripada dirinya.
Kekehan kecil keluar dari bibir Aksa, pria itu bahkan menghubungi sekretaris, untuk menghapus semua pemberitaan tidak benar mengenai statusnya saat ini.
"Kamu cemburu sayang? Itu semua ulah wartawan, biarkan saja, tidak perlu diambil pusing, yang jelas hanya kamu istri dari Aksara tidak berubah sampai kapanpun. Apa yang ingin kamu tanyakan?” aksa menghapus jejak air mata yang menodai pipi merona Ajeng.
Satu persatu pertanyaan mulai keluar dari bibir merah muda Rahajeng, riak di wajahnya begitu penasaran kenapa Aksa pergi sangat lama, keberadaannya sulit diketahui dan tidak memberi satu kabar apapun.
“Kamu marah? Tapi itu caraku memberi sedikit hadiah untuk Bapak dan Ibu.” Aksa berdiri memperhatikan lukisan abstrak yang terpatri pada dinding.
Sebagai anak, Aksa yakin, Ajeng tidak terima kedua orangtuanya dipermainkan seperti itu, tapi bola sudah bergulir, permainan telah dimulai bahkan melewati bagian puncaknya.
Ajeng menggeleng, sadar diri akan semua sikap kasar, penghinaan dari Maya dan Danang. Semua pantas mendapat balasan agar menjadi insan lebih baik. Terbukti, sikap Danang mulai berubah, tidak diperbudak uang dan keuntungan.
“Terima kasih Aksa. Karena kamu, Bapak lebih menghargai arti dalam hidup.” Ajeng berdiri tepat di belakang punggung Aksa, tidak ada alasan baginya untuk marah.
Pada mulanya Ajeng memang begitu membenci Presiden Direktur Cwell Group, tanpa sebab menjatuhkan usaha kedua orangtua, tapi setelah menyelidiki dan meresapi lebih dalam apalagi semua ini perbuatan Aksa, tidak ada kebencian yang menggantung.
Semua jelas, pria itu membalas satu per satu perbuatan menyakitkan yang diterima dahulu. Kini keadaan berbalik, Maya dan Danang menerima banyak caci maki dari para tetangga, rumah masa kecil Ajeng disita bank. Sekarang, atau nanti Ajeng harus siap mendapat hukuman dari suaminya, entah apa itu hanya Aksara Kaisar yang tahu.
“Apa kamu juga akan menghukum aku, Aksa?” suara Ajeng bergetar, tubuhnya gemetaran. Berulang kali menarik dan menghembuskan napas.
Aksa tertawa kecil mendengar pertanyaan Ajeng. Benar-benar tawanan murah hati, menyerahkan diri sendiri pada lawannya. Aksa merotasi tubuh saling berhadapan dengan Ajeng, sengaja menatap tajam, manik abu-abunya menusuk kedua mata Ajeng.
“Aksa” lirih Ajeng, hidup dan matinya berada di tangan Aksa.
“Kamu menginginkan hukuman? Aku sakit hati atas semua sikapmu satu tahun belakangan, tapi semua itu tidak seberapa dengan penolakan yang kamu berikan Ajeng.” Rahang tegas Aksa mengeras, sudut bibirnya berkedut tipis, mengangkat dagu memperlihatkan betapa berkuasa dirinya saat ini. Salah satu tangan yang berhiaskan jam tangan mewah, masuk ke dalam saku celana. Sementara satu lainnya mengetuk pelan dagu.
Sontak Ajeng menelan ludah yang begitu pekat, napasnya memburu, pikirannya berkelana pada sejumlah potongan adegan film aksi. Di mana para penjahat diikat, ditembak mati lalu dibuang ke laut atau dicambuk, diberi kejutan melalui sengatan listrik. Jangan-jangan Aksa ingin melihatnya melompat dari ketinggian gedung. Wanita ini bergidik ngeri membayangkan dirinya mengalami semua kekejaman seorang Aksa, keringat dingin pun mulai menjalar, kedua telapak tangan Ajeng basah.
“Apa yang kamu pikirkan sayang? Jangan bilang aku memintamu melompat dari gedung? Mana mungkin aku membunuh wanita yang aku cintai.” Aksa tertawa melihat ketegangan di wajah istrinya. Tidak menyangka pikiran Ajeng sejauh itu.
Ehem
“Sekarang aku punya banyak uang, kamu jangan takut kekurangan biaya. Apalagi sampai menolak kedua kalinya. Jangan gunakan alat kontrasepsi apapun, paham? Hiduplah di sisiku Ajeng, selamanya.” Tutur Aksa penuh keyakinan, lalu membenamkan mulut pada bibir merah muda Rahajeng.
Tbc
***
Terima kasih atas kebaikan jempol kakak semua .🙏