
Satu minggu pasca melahirkan, Ajeng dan Aksa harus menunda rencana pulang ke Swiss, karena Danang sakit cukup parah, sempat tidak sadarkan diri. Selain itu Rayana telah memulai usahanya di pasar, membuka toko baju, ditemani Maya.
Aksa bolak balik rumah sakit mengawasi kondisi ayah mertua. Dia juga memerintahkan anak buahnya menjaga Danang.
Maya masih enggan merawat suaminya apalagi dia harus menginap, sangat anti, sebab mual mencium bau obat.
“Aksa terima kasih ya. Bapak banyak hutang budi sama kamu. Maaf atas sikap Bapak.” Bulir bening menetes jatuh, Danang memegang kedua tangan menantunya, di tempelkan di dada. Kata maaf saja rasanya tidak cukup untuk membayar semua kesalahan terdahulu.
“Bapak titip Ajeng. Kalian memang ditakdirkan bersama, maafkan Bapak pernah menjebak kamu. Saat itu terhasut nafsu dunia ingin memiliki banyak harta, sampai Bapak gelap mata.” Danang sesenggukan, dia sadar kini, pria yang selalu dihina, dicaci, dimaki bahkan tak sudi menjadikannya menantu, adalah sosok baik hati.
Aksa bagai malaikat dari langit yang di perintahkan untuk menjaga putrinya. Hanya Aksara paling peduli terhadap Danang disaat istri dan putri sulungnya sibuk dengan urusan dunia.
“Bapak, salah Aksa. Bapak selalu membandingkan kamu dengan Aji. Anak itu lebih tidak bermoral, bersama Rayana berencana menodai Ajeng. Atas nama Rayana, Bapak juga minta maaf sebesar-besarnya.”
Entahlah, Danang memiliki firasat bahwa usianya tidak akan lama lagi.
Selain stroke, pria tambun ini juga menderita komplikasi. Jantung, diabetes dan telah menyerang kedua organ ginjalnya.
Apakah Maya, Rayana dan Ajeng tahu? Tidak. Danang sengaja menutup informasi kesehatannya. Aksara pun baru saja mengetahui kebenaran beberapa jam lalu, setelah dokter menerangkan kondisi terburuk ayah mertua.
“Jujur, Saya tidak menyangka Bapak tega melakukan itu semua. Rasa benci Bapak terlalu berlebihan, selalu mengungkit kalau saya tidak layak memperistri Ajeng karena miskin.” Tutur Aksa meluapkan sakit hatinya.
“Maaf Aksa, Maafkan Bapak … terlalu silau duniawi.” Penglihatan Danang kabur, matanya memburam. Dia pun ingin menyampaikan sesuatu, tapi malu. Sangat malu.
Apa layak membebani Aksara untuk menjaga Rayana dan Maya? Ya setidaknya sampai Rayana mendapatkan suami yang cocok. Kata-kata permohonan itu tercekat di tenggorokan.
“Ibu, Rayana. Bapak harap kalian bisa hidup dengan baik. Berdamai pada situasi. Bersama Ajeng harus saling menyayangi.” Lirih Danang dalam hati.
“Terima kasih sudah menyayangi Ajeng, Kasih sayang kamu melebihi Bapak, jaga cucu Bapak ya Aksa. Siapa namanya?” senyum tipis terukir di kedua sudut bibir.
“Arjuna Bryatta Kreshnik Eberly Caldwell. Terserah Bapak mau panggil apa, bisa Juna atau Bryatta.” Aksa kasihan kepada mertuanya, menghabiskan hari tua di atas ranjang.
“Bagus ya namanya. Bapak mau gendong tapi susah. Baru lihat dari foto, mukanya mirip kamu Aksa.” Danang memejamkan mata membayangkan bayi mungil yang mewarnai rumah tangga putri bungsunya.
**
“Bryatta, Mama mau mandi. Sebentar ya sayang, lima menit aja, Mama janji sayang.” Penampilan Ajeng kacau balau, jasa pengasuh bayi sama sekali tidak terpakai.
Ajeng baru menyadari mengasuh anak sendiri lebih sulit dibanding merawat belasan bayi di rumah sakit.
“Aksa kapan pulang ya?” ucapnya sambil memijat pelipis. Memang Bryatta akan anteng ketika bersama Papa atau Mamanya.
Seolah mengerti tenaganya sangat dibutuhkan, Aksara membuka pintu kamar tepat waktu.
“Huaaa Aksa, akhirnya kamu pulang.” Ajeng menghambur memeluk suaminya. Bukan perkara mudah membesarkan bayi.
“Iya sayang, aku tahu kamu belum mandi kan? Baunya kucium.” Gurau Aksa, segera menggendong Bryatta yang sedang menangis.
“Memangnya aku bau ya? Aksa kamu jahat ah.” Bibir merah muda Rahajeng mengerucut, lalu berjalan masuk kamar mandi sembari mengendus aroma tubuhnya sendiri. “Masih wangi kok, Aksa kelewatan.”
Setelah selesai mandi, Ajeng tersenyum karena Aksa dan bayi kecilnya terlelap tidur. “Kamu memang anak Papah ya.” Sejenak bersantai menikmati waktu. Merawat diri.
Semenjak hamil melupakan diri sendiri, abai akan penampilan.
TBC
**
Maaf ya kesorean 🙏🙏🙏
Dukungannya
jempolnya ditunggu 😁