
Tiga puluh menit sebelumnya.
Elang kehilangan banyak darah, kaki kanan mulai kebas akibat peluru. Dia menghindari anak buah Andres, bersembunyi di belakang perangkat komputer.
Matanya menangkap jajaran bom yang tertanam pada lantai, Andres telah mengaktifkan peledak ini tepat sebelum keluar bunker. Waktu yang tersisa kurang dari lima menit.
Tidak ingin mati di tempat dengan sia-sia, Elang mencari cara untuk mengambil peluru di tubuhnya. Di saat belasan pria bersenjata mencarinya, membuka kabinet, menembaki meja dan kursi. Seolah memang takdir, satu pisau kecil menyusuri lantai, terhenti tepat di sisi paha kanan Elang.
Elang menyambar pisau itu, menahan kesakitan, merobek sedikit area kulit, kemudian mencongkel peluru di bahu dan paha kanan.
Sedikit beruntung sebab tidak terlalu dalam. Dia membuka kemeja, merobek menjadi beberapa lapis, mengikatnya di dua luka, untuk menghambat lebih banyak darah keluar.
“Aku yakin ada jalan keluar dari sini, tidak mungkin pria bodoh itu membuat ruangan tanpa akses jalan lain.” Elang yang memang terdidik untuk menjaga pewaris utama Caldwell, telah melalui pelatihan militer keras.
Netra tajamnya berusaha menemukan celah pada dinding atau plafon. Waktu tersisa satu menit, dan Elang berhasil menemukan titik renggang di tambok kiri, dengan kekuatan tersisa, dia bangkit menembaki lawannya.
Merusak dinding hingga terbuka, baru satu kakinya melangkah, detik pada bom terhenti. Kemudian ledakan besar menghancurkan dan menghanguskan seluruh nyawa dalam bunker. Elang berhasil keluar melewati jalan rahasia kecil di dalam dinding. Berjalan tertatih ruangan menuju lift utama.
“Tunggu aku, Tuan Muda Caldwell.” Lirih Elang, kakinya semakin sulit untuk bergerak. Darahnya banyak terbuang percuma, keringat sudah tak terhitung lagi memenuhi wajah serta badannya.
BRUK
Kenyataan memang sangat sulit, lebih menyakitkan daripada pelatihan yang dijalaninya selama enam tahun. Tubuhnya ambruk sebelum menggapai lift, Elang tidak sanggup naik ke atas dan memberi pelajaran kepada Andres. Lebih dari lima belas menit terkapar tak berdaya.
Jiwanya masih melekat pada raga, enggan pergi sebelum menuntaskan misi. Dengan penglihatan yang kurang jelas, Elang bangkit, menopang tubuh menggunakan kaki kiri.
“Arghh … tunggu aku Aksa.” Geram Elang, mulai memasuki lift, tepat pintu besi terbuka dia melihat Aksa yang terluka parah telah menguasai Andres.
Letusan senjata api menebus dada kiri kakak sepupu angkat Tuannya, Elang masih tidak habis pikir bahwa Andres kuat tersenyum.
Dor
Menggenggam erat dan menarik pelatuk dengan jari telunjuk. Satu peluru lepas dan menerjang angin, menembus leher Andres.
“Untuk Ayah dan keluargaku yang menjadi sasaran kemarahan publik.” Tukas Elang, seketika tubuhnya ambruk tepat di depan pintu lift.
**
Rahajeng menangis sesenggukan dalam ambulan, memegangi tangan Aksara yang basah akibat darah. “Aksa, tetap bersamaku di sini, jangan pergi!” membelai rambut dan menghapus peluh di sekitar dahi.
Napas Aksara tersendat, detak jantungnya melemah, bahkan denyut nadinya tidak dapat dirasakan.
Dengan tangan gemetaran, Ajeng menyambar peralatan di dalam lemari ambulan, memiringkan tubuh suaminya. Menyeka air mata yang bercucuran menghalangi pandangan. Mengandalkan kemampuannya sebagai perawat, mengeluarkan peluru di punggung Aksara.
Ajeng semakin histeris, sebab tidak bisa menghentikan pendarahan hanya dengan peralatan seadanya tanpa bantuan obat.
Menggulung kasa sangat tebal, menekan di sekitar luka. “Sayang, Aksa bertahan sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Ingat janji kamu, kita merawat dan membesarkan anak berdua, jangan lupa.” Bahu Ajeng berguncang kuat, menangis karena tak ada pergerakan apapun dari suaminya.
Setibanya di rumah sakit, dua brankar menuju ambulan. Masing-masing membawa Ajeng dan Aksara memasuki bangsal IGD serta ruang tindakan.
Sementara Elang dan Rayana menyusul di belakang.
Tapi sayang Andres, sepupu angkat itu meninggal dunia di tempat kejadian, peluru yang ditembakkan Aksara bersarang di bilik kiri jantung Andres. Selain itu lehernya bolong, lantaran timah panas hadiah dari Elang.
.
.
Aksara dan Elang ditempatkan di ruang ICU, berbeda dari Rayana yang dipulihkan di ruang rawat inap pasien. Ketiganya sama-sama kehilangan banyak darah, mendapat transfusi darah. Rayana siuman lebih awal tepat satu hari setelah mendapat penanganan.
Mentalnya terganggu, akibat perilaku Andres. Wanita itu trauma menjali hubungan bersama pria, setelah bangun selalu menangis di pelukan Danang dan Maya.
“Ibu tidak menyangka, Ibu pikir dia menantu idaman ternyata berbahaya. Maafkan Ibu y Rayana.” Maya juga menyesal telah mendorong putri sulungnya bertindak jauh nyaris kehilangan nyawa.
“Bapak mau menjenguk Ajeng, adikmu itu harus istirahat. Ayo Bu, Ajeng juga anak kita, dia sendirian.” Ajak Danang, walaupun menggunakan kursi roda, ayah dua anak ini harus berlaku adil kepada dua putrinya, tidak peduli bolak-balik memasuki ruangan Ajeng dan Rayana.
“Oh iya Pak Ibu lupa. Sudah ya Rayana, kamu tidur, nanti ibu balik lagi. Dalam perut Ajeng ada cucu yang harus lahir selamat, dengan itu kita bisa terus hidup menumpang kepada Aksa.” Tukas Maya, memperhatikan Rahajeng sekaligus calon cucunya, sebab dukungan materi yang mungkin akan Aksa berikan setelah putri bungsunya melahirkan.
Danang menggelengkan kepala, isi otak istrinya lagi-lagi uang. “Bu, tidak cukup karena uang hidup anak kita sengsara? Coba Ibu bayangkan Andres yang dinilai baik ternyata berniat membunuh Aksa dan juga Ajeng Bu, tidak menutup peluang Rayana juga dilenyapkan. Seharusnya Bapak tidak mengizinkan mereka menikah.” Danang mengoceh, merenungi keputusan yang salah, mengikuti istri dan anak.
“Ajeng. Bapak dan Ibu masuk ya.” Pintu di dorong pelan oleh Danang. Sakit sekali menatap dua putrinya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kondisi Ajeng juga lemah, kandungannya dalam pantauan dokter.
“Kamu belum makan?” tanya Danang melirik nampan masih terisi lengkap. “Bapak suapi mau ya? Bukan hanya kamu yang memerlukan makanan, tapi cucu Bapak di dalam sana harus diperhatikan!” Danang menghapus air mata di pipi Ajeng.
Wanita hamil ini selalu keras kepala ingin turun dari tempat tidur, menjenguk Aksara. Ajeng ketakutan jika suaminya pergi selamanya. Sungguh belum siap harus hidup sendiri, merawat dan membesarkan anaknya.
“Aksa, Pak. Apa belum ada kabar?” lirih Ajeng, satu hari ini juga tidak tidur, waktunya habis hanya untuk menangis dan menanti suaminya bangun.
“Percaya sama Bapak. Aksa itu pria yang kuat. Kamu sendiri yang bilang dia terkena tembakan tapi masih sanggup melawan sepupu jahatnya. Dia perlu waktu pemulihan, nak. Jangan khawatir, sekarang makan ya. Demi anakmu, memangnya Aksa tidak marah kalau tahu istri dan anaknya kelaparan?” Danang mengambil nampan berisi makanan, membuka penutupnya dan mulai menyuapi Ajeng.
“Heh, dasar manja Ajeng. Untung kamu lagi hamil, kalau bukan karena bayi itu, malas Ibu menginap di rumah sakit, bau obat.” Gerutu Maya dalam hati, masih tidak ikhlas waktunya habis mengurus tiga orang yang sakit, Danang, Rayana dan Rahajeng.
TBC
***
selamat berlibur dan bermacet ria😁