I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 39 Menjenguk Ibu



Di dapur rumah kontrakan Danang, seorang gadis cantik tengah menangis. Dia Rayana, pagi buta bukannya tidur dan menikmati waktu libur praktik, tapi Danang menariknya ke dapur, membuat sarapan. Lantaran kepala Maya masih sedikit pusing, akibat obat tidur yang diminumnya cukup banyak.


“Kenapa jadi begini? Aku lagi yang kena. Dasar Aji tidak berguna.” Kesal Rayana melempar potongan kentang ke dalam air mendidih, dan terciprat ke tangan mulusnya. “Panas … harusnya pesan makanan bukan repot masak, duh tangan aku.” Wanita cantik ini mengacungkan sendok sayur, rasanya ingin memukuli panci dan kawan-kawannya yang seakan menertawakan Rayana.


“Boleh juga ide kamu, tapi uang Bapak menipis. Beli lah sesekali, traktir Bapak dan Ibu.” Celetuk Danang, tiba-tiba masuk dapur, menuang air hangat untuk Maya.


Demi menemani istrinya di rumah, Danang terpaksa menutup coffee shop satu atau dua hari, tidak bisa mempercayakan Maya kepada Rayana. Putri sulungnya ini terlampau acuh, mementingkan diri sendiri.


“Kalau sudah selesai, periksa Ibu kamu, tulis resep, nanti Bapak yang tebus obatnya.” Tukas Danang sebelum pergi dari dapur.


“Iya Pak iya, berapa kali Bapak bilang itu, bosan aku dengarnya Pak.” Mendengus sebal, nasibnya sial dari semalam Ibu Aji selalu menerornya tanpa henti.


Selesai masak, Rayana memeriksa Ibunya yang terbaring lemas di ranjang. Dipikir rencana Aji akan berhasil ternyata berakhir mengenaskan, malah menambah masalah baru yang tidak berujung.


Rayana menuliskan resep pada secarik kertas, memberinya kepada Danang. Enggan mengurus atau menemani Maya di kamar, lebih baik kembali melanjutkan tidur yang sempat tertunda.


“Pak minta Ajeng datang ke sini ya Ibu kangen.” Alasan tak jelas Maya, kemarin dia gagal mendapat simpatik juga uang dari anaknya. Hari ini akan dimanfaatkan dengan sangat baik. “Mau ketemu menantu kaya susahnya minta ampun.” Batinnya mengeluh dan menangis.


“Tidak bisa Bu, Aksa mana mungkin kasih izin. Ajeng juga trauma atas kelakuan Aji. Bapak berangkat dulu Bu.” Danang mengabaikan keinginan Maya yang memiliki tujuan tertentu, cukup di masa lalu menjadi pengaruh buruk untuk anak dan menantunya. Dia tidak ingin Ajeng turut menderita, terlalu banyak tekanan batin yang diterima putri bungsunya.


Menggunakan angkutan umum, Danang setia hilir mudik mencari obat di beberapa apotek besar, semua demi Maya. Kalau masih sakit, mana bisa membuka coffee shop.


Kakinya yang mulai kesakitan, tidak diambil pusing, karena selain dirinya siapa lagi yang dimintai tolong, Rayana? Atau Ajeng?


Danang menyebrang, tertatih di ditengah jalan, untung seorang juru parkir membantunya melintasi jalanan. Pria paruh baya ini menunggu angkutan umum, sedikit kosong supaya kakinya bisa diluruskan.


Kebetulan dan keberuntungan, Lexus LS 500 berwarna putih berhenti tepat di depannya. Sebuah senyum merekah, bahagia, cantik, menentramkan jiwa terpatri dari bibir merah muda putri bungsunya.


Ajeng khawatir keadaan Maya. Dia


memaksa, memohon izin menjenguk . Mulanya Aksara tidak setuju lantaran rumah kontrakan itu istrinya mejadi trauma dan sakit.


Sekali lagi Aksa luluh, dia pun mendampingi kemana Ajeng pergi. Belajar dari pengalaman pahit, memperketat pengamanan.


“Pak, pulang bareng Ajeng ya dan Aksa.” Ajeng begitu merendah mengucap nama suaminya, terlalu sungkan. Bayang-bayang masa lalu tak akan pernah bisa dilupakan. Dia melirik ke samping, tujuannya apalagi kalau bukan menunggu persetujuan Aksara.


“Ya” Aksa tidak mau berdebat di pinggir jalan terpaksa memberi tumpangan untuk ayah mertua. Sesekali melirik pada spion, wajahnya tampak menahan sesuatu. “Kenapa Pak? Tidak nyaman? Boleh turun di sini!” rasa sakit hati Aksara menjadikannya sosok yang dingin dan tidak peduli, tapi jauh di dalam lubuk hati, dia Aksa yang sama, hangat dan penyayang.


“Oh bukan, Aksa. Kaki Bapak sakit. Asam urat, maklum sudah tua.” Jawab Danang menghindari kontak mata melalui spion.


Karena sekeliling rumah ini dibatasi pagar kecil dan cukup terbuka, mengundang perhatian orang banyak terutama tetangga, begitu penasaran siapa tamu di rumah Danang.


“Mari Aksa, Ajeng masuk. Ibu ada di kamar, kepalanya masih pusing.” Tutur Danang lebih dulu ke dalam, membuat dua cangkir teh hangat.


Aksa memperhatikan setiap sudut rumah, kecil tapi masih sangat layak huni dan nyaman. Dia tidak menyangka mertuanya bisa menjalani kehidupan sederhana, merubah sikap yang dulu boros menjadi hemat.


Dia juga menoleh, ke samping. Ajeng menunduk, tidak kuasa menatap dinding di depannya. Di mana Aji mendorong dan mencekik leher sangat kuat.


“Apa di sini dia melakukannya? Jangan takut sayang, mulai sekarang kamu aman.” Aksa merangkul Ajeng, mengusap pelan pundak istrinya.


Mengetahui kedatangan tamu agung nan penting, Maya sengaja membuat gaduh. Hatinya senang, menantu kaya rayanya datang, artinya masih peduli.


Awal yang baik untuk menjadi seorang lintah. “Lima puluh juta atau seratus juta setiap bulan bukan masalah kan Aksa?” tanya Maya dalam hati, tertawa membayangkan hidupnya bergelimang materi. Bisa pindah rumah, menggunakan mobil mewah serta pengawal gagah di kanan dan kirinya.


“Ajeng kamu ke sini nak?” teriak Maya dari dalam kamar, menghitung mundur sembari memejamkan mata.


“Ibu sakit apa?” sesuai dugaan, anaknya langsung ke kamar, memeriksa denyut nadi, dan suhu tubuh.


“Oh kurang tidur, mungkin sesak Ajeng, di rumah ini plafonnya terlalu pendek. Tidak cocok dengan ibu, Ajeng …” Maya menggantung kalimatnya. Kepala yang masih berdenyut itu memasang kedua mata waspada. Maya mendekati putrinya, lebih tepatnya bagian telinga Ajeng.


Wanita paru baya ini tertawa dalam hati, dia yakin Ajeng menurut, semua keinginannya terkabul dalam waktu singkat. Punya menantu kaya raya harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Bukan merampas harta, hanya saja ingin hidup enak dan membanggakan diri kepada semua orang.


“Ajeng … ibu minta rumah, atau bayar semua hutang Bapak dan Ibu, tebus rumah lama kita, mau kan nak? Kamu bisa tinggal dengan Ibu, bagaimana? Sekarang Ibu yakin uang kamu melimpah. Berapa banyak uang bulanan kamu dari Aksa?” selidik Maya, ya perkiraannya 200 sampai 500 juta satu bulan. Bukan masalah kalau Ajeng menyumbangkan lebih dari setengah, harta suaminya juga tidak akan habis.


“IBU!” seru Ajeng, tidak habis pikir, kenapa isi kepala Maya hanya berpusat pada uang. “Memangnya Ibu masih punya muka? Ibu lupa, penderitaan apa yang Aksa alami, cukup Bu. Suamiku masih mengizinkan Ibu, Bapak dan kakak hidup layak tidak kekurangan apapun, daripada …” Ajeng menangis dalam hati, Maya tidak berubah. Menelan menelan saliva, sekarang Aksa bisa melakukan apapun hanya dengan satu kali perintah.


Ya, terbukti Rudi dan Aji, termasuk Danang. Usahanya jatuh bangun, berguling-guling itu semua karena Aksa


TBC


***


terima kasih atas dukungannya


🙏🙏🙏🙏