I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 32 Menantu?



Sepasang suami istri yang baru saja melepas rindu, kini berada dalam kendaraan roda empat. Dibalik kemudi, Aksara menebar senyum, waktu dua jam cukup bagi keduanya bicara dari hati ke hati.


Sepanjang perjalanan, Ajeng menegang dan gugup, merasa canggung berduaan dengan suaminya. Sosok Aksa sangat berbeda, hanya penampilannya saja memang, dia tetap Aksa yang selalu menyayangi Ajeng apa adanya, tapi tidak jika wanita itu mendua.


Ajeng melirik interior kendaraan, dadanya berdegup kencang. Dirinya tidak menyangka semua milik suaminya. Sekaligus takut, ingat akan video yang beredar, itu semua asli bukan hasil edit. Ajeng takut suaminya tergoda pada perempuan lain.


“Umm. Aksa, perempuan di video itu siapa? Kalian terlihat akrab.” Tanya Ajeng lebih hati-hati menggunakan kosakata dan intonasi.


Sebelum menjawab, Aksara mengusap rambut panjang istrinya yang masih setengah kering, terkekeh pelan dan melengkungkan senyum. “Dia Catlin Lucero, ayahnya mendukung aku. Itu semua gosip sayang. Paparazi di sana kejam, anggap saja angin lalu. Satu lagi, itu Rachel Adams, Kakeknya sahabat Kakek kita. Beliau pengusaha, salah satu pendukung suamimu juga.” Jawab Aksa panjang lebar, namun ada satu hal yang tidak disampaikan pada Ajeng tentang masa lalu Aksa dan Catlin.


“Oh” sahut Ajeng, dia tidak mengerti apapun tentang bisnis. Mungkin Ajeng harus membaca atau menonton siaran berita bisnis dan keuangan.


“Jangan berpikir negatif, di sana sangat bebas. Tapi percaya suamimu ini bisa menjaga hati dan tubuhnya.” Imbuh Aksa tetap fokus melihat ke arah jalan.


Karena jalan kosan Ajeng tidak cukup untuk mobil, jadi Aksa menyimpan kendaraannya di area parkir rumah sakit.


Sementara Ajeng lebih dulu turun menuju kos-kosannya, mengambil semua barang penting. Sebab mulai hari ini l, Aksa dan Ajeng tinggal bersama, sudah cukup bagi Aksa berjauhan. Bayangkan saja hampir satu tahun, suami mana yang kuat bertahan selama itu?


Sebelum menyusul istrinya, Aksa membeli jus alpukat di warung pinggir jalan, masih ingat jus kesukaan Ajeng. Tersenyum melihat blender hijau, dahulu sekali ketika akhir bulan, Ajeng dan Aksa belum menerima gaji, hanya tersisa uang dua puluh ribu rupiah di dalam tas istri, mereka memesan satu gelas jus. Menikmatinya berdua, lalu sisa uang digunakan untuk membeli bensin.


Aksa pun menyusul istrinya, kali ini tetap sama membeli satu gelas. Anggaplah Tuan Muda Caldwell sedang berhemat, dia sengaja ingin mengulang momen indah yang menyedihkan itu.


Bersiul menyusuri jalan sejauh 500 meter, tanpa terduga pemandangan tak diinginkan sedang berlangsung di depan sana.


Maya dan Rayana, dua manusia yang sangat menyebalkan bagi Aksara. Maya menangis, memeluk putri bungsunya, memohon agar Ajeng kembali tinggal bersama mereka.


“Ck, buaya betina sedang akting.” Ucap Aksa menatap jijik pada dua wanita yang berdiri mengapit Ajeng.


Ehem


“Sayang, kamu belum masuk ke kamar?” suara tegas pria, sengaja sedikit meninggikan intonasi membuat warga sekitar memperhatikan Aksa.


“I-iya Aksa, ini mau.” Ajeng melirik kedua lengannya yang dicengkeram kuat oleh Maya. Wanita itu masih sedikit tak terbiasa melawan orangtua. Apalagi sampai melepas kasar tangannya, tapi Ajeng sudah janji, patuh dan menuruti semua perintah Aksara.


Berat hati wanita muda itu melepas tangan Maya, dan berjalan masuk ke dalam kos-kosan.


“Menantu, apa kabar?” suara menjijikan yang membuat Aksa ingin muntah. Sejak kapan ibu mertua itu memiliki senyuman? Apa sebelum ini ikut kelas drama?


Aksa tersenyum kecut, dirinya bukan menantu siapapun. Statusnya saat ini hanya suami dari Rahajeng Prameswari. Dan tunggu, mendadak dalam kepala muncul sebuah ide, bagaimana jika mengikuti permainan murahan Maya?


Aksa masih memiliki dendam sendiri pada ketiganya, sekalipun Danang telah berubah, tetap saja pria itu turut andil dalam penjebakan hina. Sampai Ajeng kehilangan kepercayaan kepada suami.


“Aksa?” panggil Rayana, dokter tak memiliki tata krama. “Aksa kamu hebat, semakin ganteng, badanmu juga bagus.” Bukan pujian, melainkan salah satu senjata seorang penjilat handal.


Maya mendekat, hendak memeluk menantu yang sangat dirindukan, sekaligus harapan keluarga untuk merubah nasib. Sebentar … bukan keluarga, tapi Maya. Dia ingin kehidupan sosialitanya kembali, disegani oleh anggota dan ketua kelompok arisan, betapa menyenangkan baginya.


Tapi Aksa menghindar, mengibaskan tangan, bermain sedikit saja. “Kalian belum mandi?” Aksara menelisik penampilan Maya dan Rayana.


Sontak empat pasang mata hitam itu melebar dan menciumi diri sendiri, rasanya sebelum berangkat mereka mandi dan menggunakan parfum sejuta umat.


“Oh ibu sudah mandi Aksa, ya sekarang tinggal di rumah kontrakan kecil. Terkadang airnya mati, ibu kesusahan.” Maya mengiba di hadapan menantunya, tidak ada pantang mundur atau takut. Harus terus berjuang demi tas, berlian dan mobil mewah, satu lagi dihormati banyak orang karena memiliki menantu miliarder. Ibu mertua ini akan memanfaatkan perasaan Aksa pada Ajeng, berharap putri bungsunya itu bisa diajak kerja sama.


“Oh” Aksa mengangguk paham, melewati Maya. Dia harus membantu istrinya berkemas lebih cepat. Tapi tepat di depan pagar Rayana menghadang, bahkan tangannya hampir menyentuh dada bidang terbungkus kaos putih.


Aksa menggerakkan kepala, seketika beberapa pengawal membawa Rayana pergi dari hadapan Tuan mereka.


‘Anda tidak boleh menyentuh Tuan sembarangan.’


“APA? SEMBARANGAN? Aku ini kakak iparnya, kami terbiasa hidup bersama selama dua tahun, kenapa mendadak tidak boleh menyentuh? Lepas!” seru Rayana, tidak terima di seret paksa menjauhi bangunan kos-kosan tingkat dua.


“Aduh Rayana, seharusnya main cantik, jangan seperti itu. Bagaimana bisa untung kalau begini?” keluh Maya tetap menunggu di luar pagar, apapun akan dilakukan selama mendapatkan hati seorang Aksara.


**


Setelah selesai berkemas, Ajeng dan Aksa menyambangi rumah sakit. Menjenguk Elang, dokter bilang asisten tampan rupawan itu menderita asam lambung.


Ajeng membawa suaminya memutar jalan ke belakang rumah sakit, menghindari Maya. Ajeng tidak tega melihat ibunya mengemis demi materi.


“Sayang, kamu kenapa? Jangan takut, Elang itu asisten sekaligus sahabatku, kami tumbuh bersama sejak kecil. Mukanya saja yang menyeramkan tapi hatinya sangat baik.” Aksa menoleh, tersenyum dan mencium punggung tangan Ajeng.


Pemandangan yang membuat semua rekan kerja iri sekaligus harap-harap cemas. Mereka takut dipindah ke pelosok atau dipaksa mengundurkan diri, menyesal telah menghina seorang Aksa dan menyindir Ajeng.


Apalagi Dokter Rizwan, pupus sudah harapannya bersanding dengan Ajeng, semoga Aksa tidak mengetahui tindakannya bersama Rayana menyebarkan rumor di rumah sakit.


Aksa membuka pintu kamar ruang perawatan, disambut oleh tiga orang pengawal yang langsung berjaga di depan pintu.


“Aksa, kau dari mana saja? Tega sekali. Maaf aku tidak bisa menyelesaikan tugas darimu, tapi ini laporannya berhasil aku dapatkan.” Elang menyerahkan map dan iPad. Semua laporan tentang penjebakan Aksa ada di dalam sana.


“Oh, Hi Nyonya Caldwell, salam kenal. Aku Elang, ya panggil saja Elang, kau wanita beruntung Nyonya.” Ucap Elang menyambut istri dari bosnya.


“Kalau sakit sebaiknya istirahat, atau aku akan menyuntik obat bius untuk mu.” Ancam Aksa tidak suka Elang terlalu dekat dengan Ajeng.


“Nyonya, bisa anda menjinakkan Tuan Muda? Terlalu galak.” Bisik Elang mengundang senyum Rahajeng, ditambah tatapan dari bosnya. “Aku sudah reservasi tempat, selamat menikmati pertunjukan Nyonya Caldwell.” Lanjut Elang tertawa puas membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.


TBC


**


hari ini dua ya🙏


terima kasih atas dukungannya


🙏