
Malam ini Aksara Kaisar Caldwell mengunjungi kediaman Lucero, sendiri tanpa Elang. Asisten pribadi yang selalu mengekor mendapat tugas penting dari Aksara.
Hanya tiga mobil SUV mengawal Tuan Muda Caldwell. Menjelang pengumuman resmi, Aksa harus mencari sekutu kuat untuk mendukungnya.
Ayah dari Catlin Lucero adalah salah satu orang yang berkuasa di pemerintahan, namanya tersohor di seluruh negeri sekalipun warga keturunan.
Dengan bantuan Ayah Elang, Lucero dan sekutunya akan berdiri di belakang Aksa memberi dukungan apapun, termasuk pengangkatannya sebagai Presiden Direktur Cwell Group yang sangat berpengaruh di Swiss, Eropa, Sebagian Amerika dan Asia.
Aksa disambut hangat oleh Catlin Lucero, putri sulung Lucero yang dikenal berparas bidadari seantero Swiss. “Hi Tuan Muda Caldwell yang sombong, tidak mau memberikan nomor teleponnya.” Sindir Catlin dengan bibir sedikit maju.
“Bukankah ada nomor Elang? Kamu bisa menghubunginya kapanpun.” Balas Aksa melirik tajam pada Catlin. Kemudian memekik kesakitan, sebab kakinya diinjak menggunakan heels, cukup keras. Ya Catlin adalah wanita yang tidak pernah menutupi semua sikapnya, selalu menampilkan apa adanya.
“Sakit Cat, kamu merusak sepatuku.” Geram Aksa membalas perbuatan Catlin tapi dengan lihai dan gesit, gadis itu menghindar, berjalan masuk lebih dulu menuju ruang makan.
Semula Aksa malas bertemu dan memberikan nomor ponselnya, tapi karena dukungan Lucero, anggap saja balas budi, dia terpaksa bersikap baik pada Catlin.
Hubungan keduanya pun di gadang-gadang sebagai pasangan terhebat sepanjang tahun. Banyak paparazi selalu mengincar berita keduanya, dan hal ini membuat para pria yang menggilai Catlin perlahan mundur, setelah tahu pesaingnya pewaris Cwell Group.
Aksa dan Catlin kerap pergi berdua menghadiri pertemuan penting, terkadang di dampingi Elang. Seperti siang ini ketiganya baru saja pulang dari undangan para petinggi negara.
“Jaga jarak Cat, jangan terlalu dekat!” perintah Aksa merasa risih berdekatan dengan Catlin.
“Ya ampun Aksa, pria di luar sana begitu ingin dekat bahkan mendapat sentuhan tanganku, tapi kamu sebaliknya. Sebentar … apa kamu normal?” Catlin menyipitkan kedua matanya dan melihat ke arah bawah mencari tahu sesuatu.
“Hey jaga pandanganmu Nona Muda Lucero. Atau kau aku turunkan di tengah jalan.” Aksa mendorong kepala gadis cantik itu hingga menempel pada kaca mobil.
“Ya lord, baru kali ini aku mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari pria. Aku ragu dia normal karena menolak pesona seorang Catlin.” Gerutu wanita berambut pirang dengan sejuta pesona itu.
“Aku normal.” Sahut Aksa tanpa melepas tangannya dari kepala Catlin.
**
Di belahan bumi lain, Danang mulai menata kembali Coffee Shop-nya, kali ini mendapat bimbingan dari Manager Perencanaan Cwell Group, atas perintah bos besar mereka.
Danang merasakan susahnya mencari investor yang berani menggelontorkan dana besar, benar-benar membantunya. Walaupun ia harus sabar menikmati hasil, tapi kali ini lebih tertata rapi. Dia pun tidak iri pada kesuksesan Well Coffee yang telah melambung tinggi. Bahkan menurut kabar, saat ini tengah membuka cabang ke dua dan ketiga di berbeda provinsi.
“Pak, akhirnya kita bisa hidup enak lagi.” Seru Maya melihat jumlah saldo dalam rekening Danang. Padahal jumlah yang terlihat belum semua, karena Manager menyerahkan investasi secara berkala, sesuai kebutuhan.
Maya masih penasaran siapa orang yang membantu suaminya, padahal banyak perusahaan besar menolak Danang karena dianggap rendahan. “Kalau ibu ketemu Pak Presiden Direktur itu, pasti ibu sujud Pak, karena beliau hidup kita mulai stabil.” Maya berangan-angan, melihat wajahnya dan berjabat tangan secara langsung, tanpa mereka ketahui dialah Aksara sang menantu yang dihina dan direndahkan.
“Iya Bu, hidup kita berhutang besar. Bapak hanya tahu kalau beliau adalah orang asing Bu. Pemilik sekaligus pemimpin Cwell Group. Menurut gosip Tuan Muda Caldwell menghilang cukup lama, sebentar lagi pengumuman resmi sebagai pewaris perusahaan keluarga. Semoga usaha Bapak menjadi besar ya Bu.” Wajah Danang berbinar, tidak apa hanya mimpi. Lagipula sekarang coffee shop berada di tangan yang tepat.
“Iya Pak, Ibu mau ikut arisan lagi ya Pak, boleh kan?” Maya merayu suaminya. Bagaimana pun kehidupan bertahun-tahun sebagai ibu-ibu sosialita tidak mudah dilepas begitu saja. Dalam diri seorang Maya masih terdapat keinginan kuat, membalas ketua kelompok arisan yang telah merendahkannya.
Namun tanggapan Danang di luar dugaan, pria tambun dengan rambut putih ini, melarang keras istrinya mengikuti kegiatan arisan yang menyesatkan dan hanya menjadi ajang mempertontonkan harta benda.
“Ibu lupa, masih ada tunggakan dari arisan sebelumnya? Semua siapa yang bayar? Bapak kan.” Tegas Danang, berusaha tidak lagi menyerahkan semua keuangan pada Maya. Wanita itu masih separuh hati menjalani kehidupan barunya tanpa kegiatan apapun.
Lambat laun usaha Danang kembali bangkit, walau konsep yang dijalani coffee shop sangat berbeda, tapi tidak menyesal, karena sasaran pengunjungnya ialah anak sekolah dan mahasiswa.
Dari pagi sampai malam Danang bekerja dibantu dua orang yang bertugas melayani pengunjung dan membersihkan coffee shop. Sedikit demi sedikit keuntungan dikumpulkan untuk mengganti uang lamaran Rayana, walaupun masih jauh dari kata cukup.
“Akibat ulah ibu, keuntungan Coffee Shop baru sedikit harus dibagi empat; karyawan, hutang arisan, hutang uang lamaran dan uang belanja dapur.” Keluh Danang sakit kepala menghadapi hidup penuh lilitan hutang. Nasib rumahnya pun diujung tanduk, tidak peduli lagi jika disita bank, yang penting tidak mati kelaparan. Toh Danang masih bisa sewa rumah kecil untuk tempat tinggalnya dengan Maya.
Merujuk pada kesepakatan bisnis yang berlangsung selama dua bulan, apabila terdapat perkembangan signifikan, maka pemiliki modal berhak menagih imbal hasil dari Danang. Tentu bukan berupa uang, melainkan peralihan kepemilikan coffee shop atas nama Cwell Group.
Awalnya Danang tidak setuju, karena ini merupakan sumber penghasilannya, tapi dalam surat perjanjian yang telah ditandatangani dia bersedia memberikan tanah dan bangunan coffee shop sebagai pembayaran. Salahkan saja Danang yang tidak membaca teliti surat kontrak kerja sama itu.
Namun setelah diskusi panjang dengan istri dan anaknya, Danang tidak lagi mempermasalahkan kontrak kerja sama, selama dia masih memiliki akses di coffee shop, dan bisa meraih keuntungan.
Sebagai mitra bisnis Cwell Group, Danang memperoleh keuntungan besar selain uang. Dia juga mendapat pelatihan khusus manajemen bisnis.
Sementara Rahajeng yang baru mengetahui kabar tentang kedua orangtuanya, kecewa sebab Maya dan Danang tidak melibatkan dirinya dalam pengambilan keputusan. Menurut Ajeng, Cwell Group hanya menjadikan ayahnya sebagai pegawai mereka dan ketergantungan di bawah perusahaan.
Tapi Maya dan Rayana bersikukuh bukan masalah selama uang tetap mengalir ke rekening. Ajeng yang putus asa menjelaskan pada keluarganya, diam-diam mulai menyelidiki siapa pemilik Cwell Group dan apa motifnya melakukan ini semua?
TBC
Update 1 atau 2 ya? 🙄
***
ditunggu dukungannya kakak kakak🙏