I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 55 Mudah Terprovokasi



Dua hari di ruang ICU dan dua hari pemulihan, Aksara diizinkan pulang, dengan catatan satu minggu kembali check up. Sama halnya dengan Elang, pria itu memaksa mengikuti Bosnya, lama di rumah sakit bukannya sehat tapi menderita, lebih baik istirahat di rumah.


Kondisi Ajeng dan bayinya sehat, selama ibu hamil mematuhi sejumlah aturan dokter maka tidak terjadi sesuatu dikemudian hari.


Terpisah empat hari, tidak tidur di ranjang yang sama, Aksara sedikit merepotkan istrinya. Dalam mobil memilih tidur di atas paha Ajeng, menekuk lutut, dengan kepala menghadap perut buncit.


“Apa anak ini merindukan Papahnya? Kalau iya, kita sama. Nanti malam kita tidur bertiga. Maaf sayang, Papah belum bisa menjenguk kamu di dalam.” Ucap Aksa yang sedari tadi tidak berhenti bicara kepada calon anaknya.


“Aakh sakit Ajeng, kamu mau aku masuk rumah sakit lagi?” pekik Aksa, istrinya benar-benar keterlaluan menepuk tepat di bahu yang terkena peluru.


“Ah … ma-maaf Aksa, kamu juga ngapain bilang begitu? Memang  tidak malu, ada Elang dan sopir?” Ajeng melirik kaca spion di depan, tampak wajah sopir menegang.


“Oh, untuk apa malu. Tanya saja mereka! Pasti tidak mendengar apapun selain klakson mobil lain, benarkan?” Aksa sedikit merubah intonasi, lebih tegas dan dingin.


“Iya Tuan Muda, aku bahkan tertidur.” Ringannya jawaban Elang, tapi siapapun tahu dua orang di depannya ini mendengar jelas.


‘Iya Tuan, saya selalu fokus mengendarai mobil tidak teralihkan pada hal lain.’


Usai mendengar jawaban, Aksa kembali bicara kepada buah hatinya. Mengadukan perbuatan Ajeng, sedikit melebih-lebihkan, lalu menyingkap Korean Blouse yang menutupi area perut. Mencium bertubi-tubi, “Terima kasih Baby, sudah hadir. Kamu tidak tahu ya, Papah menunggu sangat lama. Tetap sehat sayang.” Aksa bicara dalam hati.


Kelak anaknya ini akan menjadi sosok yang kuat dan Aksara berjanji mendampingi buah hati tumbuh dewasa. Suka atau tidak, bayi dalam kandungan Ajeng ditakdirkan menjadi pewaris Cwell Group. Mengemban tanggung jawab besar, dengan segala permasalahan.


Walaupun Andres telah meninggal dunia. Tetap saja selama hidup pasti mengalami beberapa kerikil tajam dalam perjalanannya, sekalipun jalan mulus tidak menutup kemungkinan adanya hambatan di tengah atau bagian sisi.


“Kamu harus kuat, bantu Papah melindungi Mamah, Ok baby. Ngomong-ngomong, aku belum tahu dia perempuan atau laki-laki? Dokter tidak bilang jenis kelaminnya.” Kepala Aksa bergerak menghadap Ajeng, dia penasaran cantik atau tampan anaknya.


“Oh belum terlihat, kamu dengar sendiri kan tadi. Kemungkinan pemeriksaan bulan depan dia mau menunjukannya.” Senyum Ajeng meneduhkan Aksara, satu tangannya membelai rambut coklat suaminya. “Aku harap kita terus seperti ini Aksa, jangan ada masalah lagi.” Batin Ajeng, rasanya lelah terus hidup dalam ketakutan.


Ehem


“Tuan dan Nyonya tidak tahu tempat. Huuh.” Elang menghela napas, mendengar suara keduanya yang selalu dimabuk cinta.


“Ada apa katakan! Tidak perlu basa-basi.” Ucap Aksa, terganggu atas sikap Elang yang mengusiknya.


“Nona Catlin ada di rumah, beliau menunggu Anda. Menurut pelayan, Nona tidak berhenti menangis sejak mengetahui kabar Anda, Tuan.” Lanjut Elang, semula ragu menyampaikan pesan.


Tangan Ajeng berhenti bergerak, tidak memberikan belaian kepada suaminya. “Nona Catlin menangisi Aksa? Bukankah dia bilang tidak ada perasaan apapun selain teman?” Ajeng memberengut, hatinya panas.


Sebelum hamil memang perasaannya mudah terprovokasi, semenjak hamil semakin bertambah sensitif. Sudut matanya mengeluarkan bulir bening yang jatuh tepat di pipi Aksara.


Demi langit dan bumi, Ajeng tidak akan memberi ruang kepada wanita manapun merebut perhatian suaminya walaupun sangat kecil.


Ajeng menggelengkan kepala, menyusut air mata, menatap suaminya. Semakin histeris lah dalam kendaraan roda empat itu suara tangis wanita.


Aksa sendiri tidak mengerti sebab istrinya tak menjawab, malah menggeleng kepala, apa maksudnya itu?


Tiba di rumah, sikap Rahajeng semakin aneh, tidak mau lepas atau menjauh beberapa senti saja dari suaminya. Menempel erat kepada Aksa, “Jangan harap ya Nona Catlin bisa merebut suamiku.” Mempertegas statusnya, mengukuhkan diri untuk melawan Catlin Lucero.


Pintu terbuka lebar, pelayan menyambut kedatangan Tuannya dan tangisan Catlin menjadi pengiring.


Ajeng mengeratkan pelukan di lengan suaminya, sedikit menyandarkab kepala, sebab tatapan Catlin pertama tertuju kepada Aksa.


Wanita berambut pirang itu berlari, “Aksa syukurlah kamu sehat. Ayah khawatir.” Catlin masih menangis. Kemudian berpindah ke belakang, berjalan pelan, memeluk Elang.


“Aku dengar kamu baru siuman, kenapa sudah pulang? Tidak sayang badan sendiri ya? Ayo kembali ke rumah sakit, aku yang temani.” Catlin menarik tangan Elang. Dua pria dewasa ini adalah temannya, mana mungkin bisa tenang.


“Maaf Nona, saya baik-baik saja. Sebaiknya Anda istirahat! Terima kasih atas kepeduliannya.” Elang melepas tangan Catlin, menundukkan kepala, tidak berani menatap kedua mata putri dari Tuan Lucero.


“Aku itu khawatir Elang, jangan cuek! Kalau Aksa ada Ajeng, sementara kamu diperhatikan siapa? Angin? Atau hanya memandangi kemesraan mereka berdua?” Nona Muda Lucero marah, perhatian tulusnya sama sekali tidak dihargai oleh Elang. Tapi dia bukan wanita yang mahir menutupi perasaan, kembali menautkan jemari dan membawa Elang ke kamar.


Tidak segan membantu Asisten Pribadi Aksara berbaring di atas ranjang. “Aku buatkan bubur ya, kamu tunggu di sini! Jangan bergerak!” tegas Catlin segera keluar kamar.


“Nona tunggu, memangnya Anda bisa masak? Nanti tangan Anda terluka! Sebaiknya pelayan saja yang membuatnya.” Elang trauma makan masakan Catlin, rasanya aneh dan tidak layak konsumsi.


“Heh, kamu pikir aku tidak punya otak? Tentu saja koki di dapur yang masak. Kuku cantik ku nanti rusak kena pisau. Kamu diam saja di sini!” Catlin menutup pintu dengan keras, dia tahu Elang enggan makan hasil olahan tangannya.


“Bisa-bisanya beralasan nanti tanganku terluka, dasar payah!” gerutu Catlin menuju dapur, dia akan buktikan kalau selama enam tahun ini usahanya tidak sia-sia.


Sedangkan dalam kamar, Aksara tertawa terpingkal-pingkal, untung tidak ada luka sekitar perut.


Mendengar penjelasan istrinya sangat lucu dan sedikit tidak masuk akal, rupanya tangisan Ajeng karena cemburu. “Jangan marah ya sayang, kamu lihat sendiri kan sikap Catlin? Dia hanya khawatir tidak lebih.” Raut wajah Ajeng begitu menggemaskan dan Aksa senang melihatnya.


“Iya wajar kan? Istri mana yang tidak cemburu kalau suaminya mendapat perhatian dari perempuan lain? Tapi ternyata Nona Catlin lebih mencemaskan Elang.” Ajeng sedikit malu atas tingkahnya yang berlebihan. Dia menyesal membuat suaminya panik di dalam mobil.


“Rahajeng Prameswari memang tidak mau kehilangan suaminya ya? Ingat kan ikrar pernikahan kita? Hanya ada aku, kamu dan anak-anak kita. Jangan berprasangka buruk ya Ajeng, ibu hamil harus menjaga emosinya!” Aksa menasihati lemah lembut istrinya yang mudah terbawa perasaan ini.


TBC


**


terima kasih atas dukungannya 🙏😁