
Danang memicingkan kedua mata, tidak sabar menginterogasi istrinya. Dia penasaran untuk apa Maya masuk ke kamar Ajeng. Padahal sangat jelas, Aksara melarang mertuanya mendekati Ajeng dalam satu ruangan tanpa pengawasan.
“Bu? Ibu? Dari mana? Bilang apa sama Ajeng? Tidak takut sama menantu? Ibu lupa siapa Aksa? Sudahlah Bu, tujuan kita ke sini menjaga Ajeng selama Aksa pergi. Jangan cari masalah Bu!” Danang menghela napas, sangat sulit memberitahu Maya.
“Pak, Ibu Cuma memastikan keadaan Ajeng. Dia kan lagi hamil butuh perhatian lebih, mana tega ibu mengabaikan calon cucu.” Memutar bola mata, sengaja pergi dari hadapan suaminya, menghindari pertanyaan Danang.
“Memangnya salah kalau minta uang sama anak dan menantu sendiri? Bebanku bertambah banyak sejak ada Rayana.” Kesal Maya, hidupnya berantakan dan kacau balau dengan hadirnya Caldwell bersaudara.
Tapi di sisi lain dia bisa membanggakan Aksara, menantunya itu terpajang di majalah bisnis. Warga yang dahulu merendahkan, sekarang memuji Aksa, serta Maya dinilai sangat beruntung juga disegani. Beberapa kelompok arisan turut menawarkan keanggotan kembali.
Sedangkan dalam kamar, Ajeng mengirim pesan. Menceritakan kronologisnya. Wanita ini tidak mau kalau suaminya tahu dari orang lain. Tidak ada yang Ajeng tutupi, percuma pasti Aksa mengetahui dari CCTV atau laporan anak buahnya.
Ajeng menyimpan ponsel di atas meja nakas. Kemudian membuka brankas perhiasan di dalam walk in closet. Tersenyum sembari meraba setiap set benda berkilau yang diberikan suaminya. Dulu memiliki satu cincin saja hanya mimpi, sekarang setiap hari bisa ganti disesuaikan dengan dresscode.
“Makasih ya Aksa.” Ajeng tersenyum sembari berlinang air mata. Kehidupan awal pernikahannya sangat sulit, kini hanya penyesalan yang datang silih berganti. “Aku janji berubah menjadi lebih baik.” Menggenggam cincin pertama yang Aksa beli.
**
Di belahan benua lain, Aksara tampak serius membaca seluruh laporan yang diberikan. Terkejut mendapati financial statement yang diterima beberapa hari lalu, sangat berbeda dari hasil kunjungan auditor ke perusahaan Andres.
Aksa sengaja mengirim akuntan publik rekanan Cwell Group untuk memeriksa kondisi perusahaan secara keseluruhan. Dia tidak menyangka Andres menipu komisaris dan investor, dengan laporan palsu. Kenyataannya likuiditas yang dimiliki sangat buruk.
“Pandai sekali kau Andres, rekayasa laporan keuangan tahunan, semester hingga triwulan tidak terlihat sedikitpun. Kalau begitu rubah rancangan akuisisi, kita harus mendapatkannya jauh lebih rendah dari nilai wajar.” Perintah Aksa kepada Elang. Tujuan Aksa mengambil alih perusahaan untuk merubahnya lebih baik, karena nasib ratusan ribu pegawai menjadi taruhan.
Bayangkan saja, jika bangkrut maka angka pengangguran bertambah banyak, lalu tingkat kejahatan guna memenuhi kebutuhan ekonomi meningkat.
Aksara tidak peduli harus melunasi hutang Andres kepada Bank, selama bisa membangkitkan roda bisnis menuju puncak. Lagipula dia tidak kekurangan uang sama sekali.
‘Permisi Tuan, ini data yang Anda inginkan’
“Simpan di atas meja, kau keluarlah.” Aksa membuka map tebal, anak buahnya berhasil mengumpulkan data rahasia mengenai Andres dalam waktu kurang dari 48 jam.
Setiap lembar Aksa menemukan foto ayah dan ibunya, Aksa kecil pun tidak luput dari incaran. Wajahnya sangat jelas menjadi target utama, karena keturunan terakhir Caldwell.
“Kalian memang menginginkan nyawaku sejak bayi ya. Tapi itu dulu, sekarang tidak akan ada darah dari orang-orang yang tidak berdosa.” Sakit, itulah yang dirasakan. Jiwanya digerogoti sepi, tumbuh tanpa kehadiran dan kasih sayang orangtua.
“Aku hanya tahu wajah Papah dari fotonya saja, dan kalian sukses membuat hidup seorang Aksara menderita.” Aksa sama sekali tidak mengingat kedua orangtuanya selain dari gambar yang terpajang di mansion Caldwell.
“Tapi aku janji, semua itu tidak berlaku kepada anakku. Dia akan tumbuh dengan kasih sayang kedua orangtuanya. Siapapun jangan harap mencari masalah dengan keluarga kecilku.” Rahang Aksa mengetat, sebelah tangannya mengepal kuat. Bukti-bukti kejahatan terhadap kedua orangtua serta kakeknya terpampang nyata. Aksa menyesal tidak melawan sepupu angkatnya sejak muda, terlalu takut kepada Andres.
KLEK
“Permisi Tuan, perjanjian akuisisi telah selesai, sekarang ditunggu oleh pihak pemerintah untuk penyerahan perusahaan.” Elang masuk, sembari menunjukan kesepakatan baru yang disetujui banyak pihak.
“Ayo berangkat, pastikan juga Rayana mendapat sedikit haknya. Bagaimana pun dia memiliki andil dalam keberhasilan kita merebut saham Cwell dari tangan Andres.” Mana mungkin Aksara lupa, walaupun Rayana membahayakan Ajeng. Namun dibalik itu semua, keberaniannya mengambil data pribadi Andres patut diacungi jempol.
‘”Dimengerti Tuan. Tanah dan bangunan incaran Nona Rayana resmi milik pemerintah, namun Mendiang Tuan Andres masih menyimpan aset bergerak lain, dan saya rasa cukup sebagai modal awal kehidupan Nona Rayana yang lebih baik.” Tandas Elang, menyampaikan sesuatu yang diinginkan Aksara. Sebab negosiasi dengan pihak pemerintah terbilang alot.
Sisanya, Aksa menunggu Maya merubah sikap. Menghargai hidup, tidak memandang rendah orang sebelah mata. Mengakui status Ajeng sama seperti Rayana, tidak membedakan kasih sayang diantara dua bersaudara.
Aksa dan Elang segera menuju rapat bersama pemerintah US. Sedikit bermurah hati, bersedia menyerahkan perusahaan Andres kepada Aksa dengan perjanjian jual-beli.
Waktu dua hari ini, benar-benar Aksara habiskan untuk menyapu bersih sisa kekacauan akibat ulah Andres. Dia juga sengaja menunda lebih lama kembali ke Indonesia, sebab peresmian perusahaan yang baru bergabung di bawah Cwell Group.
Seluruh anak buah Andres yang selamat, tunduk di bawah kuasa Aksara, mengabdikan hidup dan matinya. Bersedia melayani Tuan Muda Caldwell, mereka merasakan adanya perbedaan signifikan antara kepemimpinan Aksa dan Andres. Jauh lebih sejahtera sekarang.
Selain itu Aksa dan Elang serta kepala pengawal, memastikan tidak ada organisasi penghianat di dalamnya. Karena hukuman yang diberikan tidak main-main, mereka akan dibinasakan, serta keturunan dan keluarganya akan mendapat kehidupan yang sulit hingga menyerah untuk bernapas.
Aksa yang sedang memimpin rapat terpaksa menunda kegiatannya, lantaran Nyonya Caldwell lebih dari 20 kali menghubungi.
“Tuan Muda, Nyonya Ajeng masih setia menelepon, sekarang menjadi panggilan video. Beliau menangis.” Bisik Elang, menyerahkan MacBook berisi wajah Rahajeng yang sembab.
“Rapat hari ini dilanjutkan oleh saudara Elang, harap dipahami, semua demi kebaikan kita.” Aksara melangkah keluar ruangan, diikuti seorang pengawal yang membawa MacBook.
Memilih ruang sepi untuk bebas berkomunikasi.
“Kenapa sayang? Kamu nangis, apa terjadi sesuatu?” suara lembut Aksa yang begitu perhatian, sebenarnya tanpa bertanya pun tahu alasan Ajeng mengeluarkan air mata.
“Kapan pulang? Kangen. Kamu bilang dua hari. Ini lebih dari seminggu Aksa. Bohong!”
Wajah manis istrinya berubah menyeramkan, Ajeng tidak dapat menahan kerinduan yang menumpuk. Bayangkan saja, dia bisa melihat suaminya ketika malam hari atau pagi, itu pun tanpa mempertimbangkan perbedaan waktu.
“Iya sayang, selesai peresmian kantor, aku langsung pulang ya. Mau oleh-oleh apa?”
“Maunya kamu ada di sini sekarang juga. Cepat pulang Aksa!”
Aksara tertawa, dia senang mendapat perhatian dari Ajeng meskipun istrinya berubah sangat menakutkan.
TBC
***
ditunggu dukungannya kakak semua.🙏😇
kira kira Ajeng kapan melahirkan, masih lama kah?
😁