
Catlin menganga mendengar perintah Elang. Kepalanya menggeleng, menolak harus menyayangi Carol.
Untuk apa? Memangnya siapa Carol? Dia tidak lebih dari asisten pribadi sekaligus pengasuh Bryatta. Seorang Nona Muda Lucero, tak akan membiarkan apa yang menjadi miliknya dirampas orang lain.
“Menyayangi? Aku tidak salah dengar? Dan kamu Elang, ternyata hanya pria br3n9s-3-k. Setelah meniduri aku malah menyukai wanita lain.” Suara Catlin cukup keras, karena dia marah dan tidak bisa mengontrol emosinya.
“Kalian …” Carol menunjuk Elang dan Catlin secara bergantian.
“Iya kita sudah menikah, mau apa kamu? Menginginkan jadi yang kedua? Maaf tidak bisa. Berkaca lah Carol, jangan merusak rumah tangga orang.” Catlin jengah sekali, cemburu buta lebih tepatnya.
Wanita ini juga sangat berani merangkul pinggang suaminya. “Dengar ya Carol. Kau itu bukan siapa-siapa. Aku dan Elang saling mencintai, sebaiknya kau menjauh. Sana!”
Sontak Elang menoleh kepada istrinya dan melebarkan kedua mata. “Mencintai apa? Bahkan ketika bersamanya aku selalu kesal.” Elang membatin.
“Ah iya Carol kami menikah. Mendadak di London. Kamu bisa panggil Nona Muda Lucero dengan kakak.” Tukas Elang, menggandeng tangan dua wanita itu ke dalam ruang tamu.
Catlin harus tahu yang sebenarnya, karena mulai saat ini hidupnya saling terikat satu sama lain. Elang tidak ingin ada rahasia.
Tapi Catlin menarik paksa tangan suaminya, menjauh dari Carol. “Ck, mau apa ke sini? Kamu memberi kesempatan wanita lain merusak pernikahan kita, iya?”
“Dengar ya Elang. Kalau kamu menyukai dia kenapa menerima aku sebagai istrimu? Kamu juga sudah melakukannya. Tidur denganku. Pria macam apa kamu.” Catlin berkacak pinggang, tidak terima nasibnya akan tragis di awal perjalanan rumah tangga.
Elang menunggu hingga bibir sensual itu berhenti mengoceh. Biarkan saja Catlin mengeluarkan semua isi hatinya.
“Sudah?” tanya Elang karena istrinya menjeda, bakan terengah-engah karena terus saja bicara tanpa henti seperti kereta cepat.
“Belum, kamu bawel, menyebalkan dan playboy. Aku membencimu Elang, keterlaluan.” Lanjut Catlin tak akan pernah puas mengeluarkan isi hati.
Namun bibir kenyal merah menyala itu terdiam, Elang menempelkan miliknya untuk membungkam Catlin. Menyesap sedikit, tentu saja Catlin mematung tak berdaya.
Semakin lama menempel tidak hanya diam, tapi berubah menjadi liar dan meningkatkan suhu. Elang membawa Catlin ke ruang kerja.
Melakukannya lagi di atas meja kerja, benda-benda yang tersimpan, rapi mulai berjatuhan akibat tangan Catlin yang tidak bisa diam.
**
Setelah meredam emosi dengan kegiatan panas, sepasang suami istri itu mulai bicara dari hati ke hati. Elang menyerahkan hasil tes DNA, membukanya lebar-lebar dan menempelkan di kening Catlin Lucero.
“Baca baik-baik!” Elang siap menunggu pertanyaan sang istri.
Usai membaca secara seksama, Catlin kehabisan kata-kata, jujur saja malu dan ya bila perlu sembunyi di bawah kasur.
“J-jadi dia, adikmu? Aku … aku tidak tahu kalau kamu memiliki adik perempuan. Paman juga tidak pernah mengatakan apapun.” Catlin merasa bersalah kepada Carol telah menuduhnya.
“Ya kami berbeda Ayah. Dia anak Ibu dengan suami keduanya. Tapi semua itu masa lalu, aku tidak mau mengingatnya lagi, karena sangat menyakitkan harus kehilangan kasih sayang seorang ibu di usia enam tahun.” Pandangan Elang lurus ke depan.
Ibunya pergi dari mansion sebab Ayah Elang terlalu sibuk dengan pekerjaan, sangat loyalitas kepada keluarga Caldwell. Dia memutuskan mencari lelaki lain yang bisa memberi cinta, perhatian dan waktu.
Catlin yang merasa tidak enak hati, segera keluar untuk menemui adik iparnya. Tidak peduli penampilan berantakan, yang paling penting meminta maaf karena ucapannya setengah jam yang lalu sangat menyakitkan.
“Carol?” Panggil Catlin, langsung berlari mendekat dan memeluk adik dari suaminya. “Maafkan aku.”
“Iya tidak apa. Nona.” Carol menepuk punggung kakak iparnya, dia senang memiliki kakak perempuan sebaik Catlin Lucero.
“Maaf aku keterlaluan dan menghina kamu.” Catlin benar-benar tulus meminta maaf kepada adik iparnya yang sangat cantik ini.
Mereka berpelukan, mulai menyayangi satu sama lain. Pastinya saling menjaga karena keluarga harus saling melindungi.
**
Memaksa Aksara lebih banyak melakukan kegiatannya di dalam mansion. Tidak boleh berjauhan, batas maksimal yang ditetapkan Ajeng hanya dua meter.
“Aksa jangan jauh-jauh.” Pinta Ajeng semakin bertambah manja dan ketergantungan kepada suaminya.
“Iya sayang iya, aku di sini.” Aksa bermain bersama Bryatta.
Sore ini juga Ajeng dijadwalkan check up, mendekati hari perkiraan lahir maka jadwal pemeriksaan lebih sering dilakukan.
“Aw mulas.” Ajeng memekik sembari membelai perut bulatnya.
Seketika Aksa panik dan meminta bantuan Carol menjaga Bryatta.
Namun belum sempat keduanya pergi ke rumah sakit, bayi dalam kandungan Ajeng sudah tidak sabar bertemu Ayah dan Ibunya.
Ajeng yang tidak sanggup lagi berjalan berhenti di ambang pintu, cairan bening pun merembes keluar melalui pangkal paha.
“Aksa?” teriak Ajeng.
“Sabar sayang.” Balas Aksara.
Tidak tega melihat istrinya kesakitan, Aksara memerintahkan Elang menghubungi dokter kandungan, serta spesialis anak untuk datang ke mansion. Melakukan prosedur persalinan.
Setelah menunggu kehadiran dokter dan mencapai pembukaan lengkap. Bayi kedua berjenis kelamin perempuan itu lahir dengan selamat ke dunia.
Aksa terus menciumi kening Ajeng yang banjir keringat. Hadiah luar biasa di tahun keenam rumah tangganya, semakin ramai dengan tangisan bayi.
Lagi-lagi anak kedua Aksa sangat mirip dengan dirinya, hanya bibir tipis yang diturunkan Ajeng kepada putrinya.
Sejumlah kerabat dekat mulai berdatangan, jajaran direksi serta komisaris Cwell Group, menjenguk Nyonya Caldwell dan bayi cantik yang diberi nama Alisha Eirene Rubiena Berlian Hilaire Caldwell.
Termasuk kehadiran Catlin yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya dengan Elang.
Banyak doa serta hadiah yang diberikan kepada Berlian.
“Terima kasih Ajeng.” Aksa duduk di sisi Rahajeng, menggendong bayi merah mungil itu.
***
_Tamat_
Beneran tamat ya ini
🙏Terima kasih atas dukungannya🙏
Terima kasih untuk Kakak Editor yang sabar menjawab kebawelan author, membimbing, menuntun, mengarahkan dan tidak bosan memberi semangat.
Terima kasih sudah meluangkan waktu dan jempolnya untuk mampir di sini 🙏
Semoga semuanya diberikan nikmat sehat dan lancar selalu rezekynya. 😇
Sampai jumpa di novelku yang lain 🤗