
Aksara menggiring temannya hingga ke depan mansion, daripada hanya mengintip dari balik semak. Lebih baik Catlin turut bergabung bersama Ajeng, Rayana dan Maya.
“Aksa jahat, kamu tahu berapa biaya yang aku gunakan untuk merawat kulit? Mahal Aksa.” Ketus Catlin mengerucutkan bibir tebalnya.
“Kamu sendiri tahu berapa biaya perdetik merawat tanaman ini? Mau pulang atau masuk?” tegas Aksa, heran akan sikap Catlin sangat jauh dari seorang Nona Muda.
“PULANG, puas kamu. Pinjam mobil ya Aksa. Atau aku minta tolong ke Ajeng, gemana?” Catlin memasang wajah memohon, memelas melebihi orang kesusahan.
“Bawalah! Cepat pergi sebelum pengawal Ayahmu ke sini.” Aksa mengusir Catlin yang selalu membuat onar. Namun sebelum wanita itu benar-benar keluar area taman, Catlin melihat sosok cantik yang tengah menggendong Bryatta, rasanya baru melihat pelayan secantik itu.
Mata Catlin menyipit, memerhatikan penampilan wanita itu, tidak terlihat seperti pelayan. Apalagi saudara Ajeng, dari wajahnya tampak jelas bahwa dia bukan keturunan Asia.
Interaksinya bersama Elang tidak canggung, bahkan sekilas seperti keluarga bahagia, dengan hadirnya Bryatta di tengah mereka.
Elang membawa Bryatta masuk ke dalam atas perintah Ajeng, karena bayi itu hanya mau bersama Carol ketika Ibunya sedang sibuk.
“Dia Carol, asisten sekaligus pengawal pribadi Ajeng. Kenapa?” tanya Aksa merasa ada yang tidak beres di dalam otak Catlin.
“Cantik. Umm … apa Ajeng tidak cemburu?” selidik Catlin merasa tersaingi, sebab Carol bukanlah perempuan biasa.
Meskipun sekadar pengawal, tapi pendidikannya tinggi dan dia menguasai lima bahasa, hingga Ajeng menyukainya karena mempermudah Nyonya Caldwell bila keluar mansion menghadiri pertemuan bisnis.
“Tidak. Sekarang, kamu pulang Cat!”
.
.
Untuk menetap sama sekali tidak boleh. Sebab Aksa yakin, meskipun Ibu mertua telah merubah sikap, tetap saja suatu saat dirinya pasti turut serta campur tangan, dalam kehidupan rumah tangga Aksara.
“Kamu baik-baik saja kan Ibu dan Rayana kembali pulang?” tanya Aksa karena melihat istrinya masih merindukan sosok Maya.
Ajeng menganggukkan kepala sebagai jawaban, sembari menatap wajah polos putranya yang sedang terlelap.
“Maaf ya sayang, bukannya aku kejam tapi sebaiknya kita menjalani kehidupan sendiri terpisah dari anggota keluarga lain.” Tutur Aksa merapikan rambut Ajeng yang berantakan akibat ulahnya pagi ini.
“Iya Aksa. Lagipula kalau Ibu dan kakak ikut tinggal di sini, rumah kita di Indonesia terbengkalai. Kakak juga baru mulai membuka usaha lagi. Aku juga tidak mau keluarga ku jadi beban kamu terus.” Mengulas senyum manis, meraih tangan Aksa di puncak kepalanya.
“Kalau kamu mau antar Ibu, silakan. Bebas sayang. Aku harus berangkat sekarang, atau kamu bosan boleh ikut ke kantor. Aku senang, tapi jangan bawa Bryatta biarkan dia di mansion bersama Carol.” Tukas Aksa masih setia memandangi wajah Ajeng yang sedikit berisi.
“Nanti aku pikir lagi. Belakang ini malas keluar, kalau terkena sinar matahari pasti langsung pusing. Mungkin kelelahan karena Bryatta semakin aktif.” Ajeng menghela napas dan meniup rambutnya yang jatuh tepat di depan hidung.
Bagaimana Ajeng tidak kelelahan kalau setiap pagi, siang, sore harus mengawasi putra yang mulai aktif bergerak ke sana kemari. Belum lagi sore dan malam, sudah pasti tubuhnya remuk akibat Aksara yang jarang absen menyentuhnya.
***
ditunggu jempolnya 😅
Jodohnya Elang siapa ya, Catlin, Carol, atau Rayana?