
“Terima kasih, Nyonya.” Ucap Elang merasa sungkan, sebab pagi ini Ajeng membantunya memeriksa infus, tekanan darah, kadar gula darah dan mengambil sampel darah Elang.
Elang juga tidak bisa menolak, memang sudah menjadi tugas Ajeng, setiap pagi berkeliling bersama perawat lainnya. Tapi asisten pribadi itu takut pada Bosnya, sebab kulitnya bersentuhan dengan Ajeng, bahkan memegang tangan. Tahu sendiri Aksa sangat posesif, aneh memang padahal pekerjaan ini memang membutuhkan sentuhan fisik.
Menarik napas dalam, melirik pada jemari Ajeng yang menyentuh pergelangan tangannya, Elang berucap, “Nyonya sebaiknya jaga jarak.” Takut sekali Aksara datang dan mendorongnya dari atas bangsal.
“Oh, sebentar lagi selesai.” Ringannya jawaban Ajeng, mulai merapikan alat-alat kesehatan. Sejenak mengintip gawai yang bergetar dalam saku, karena professional Ajeng mengabaikan, memilih menjawab telepon setelah keluar dari ruang rawat.
“Kalau hasil tes lab-nya bagus, siang ini juga Pak Elang bisa pulang.” Formal Ajeng, dia belum terbiasa akrab kepada asisten rupawan ini, usianya pun jauh lebih tua.
“Umm … Ok Nyonya, sebaiknya cepat terima telepon, aku khawatir Bos mengamuk.” Kekeh Elang, dia ingat satu minggu pertama Aksa berjauhan dari istrinya, pria itu terlihat sakit jiwa raga kendati menerima perlakuan kurang menyenangkan.
“Ya” Ajeng keluar, mendorong troli berisi peralatan. Keningnya sedikit mengkerut, “Tumben, ada apa ya?” tanya dalam hati, memandangi ponsel.
“Iya bu?”
“Huaaaa huaaa. Ajeng ... Kaki Ibu sakit, kamu bisa ke sini? Bapakmu berangkat ke coffee shop, Rayana ada di rumah sakit, tolong ibu ya nak.”
Rahajeng mematung, otaknya tidak sebodoh Maya kira. Biasanya juga tidak pernah memohon bantuannya. “Kenapa tidak menghubungi kakak saja?” batinnya menolak, dia tahu perubahan drastis ini tidak baik.
“Ajeng. Ke sini ya, jangan lupa ajak Aksa. Siapa tahu mau menjenguk Ibu.”
Huh, Ajeng membuang napas kasar. Benar kan ternyata Maya memiliki maksud dan tujuan tertentu. Ajeng tidak akan pernah membawa Aksa kembali ke sana. Malu, masih diizinkan bernapas dan tidak mengalami kejadian menyeramkan seperti Rudi saja sudah untung.
“Ini Ibu mau minta jantung Aksa? Tak akan ku berikan, semua juga demi Ibu, Bapak dan … Rayana, kalau Aksa nekat bagaimana?” gumam Ajeng terus mendorong troli.
Pukul dua siang, Ajeng mengunjungi rumah kontrakan Danang usai mendapat izin dari suaminya. Karena Maya sangat mengganggu dan rewel, gawai tak berhenti bergetar serta banyaknya pesan masuk.
Menggunakan angkutan umum, Ajeng tiba di depan rumah sederhana yang tampak asri. Membuka pagar perlahan, khawatir mengganggu ibunya.
“Ibu Ajeng datang.”
Mendadak pintu terbuka dan Maya memeluk putri bungsunya, membelai rambut serta punggung Ajeng. Berlebihan memang, tapi ya namanya juga mencari simpatik.
Mata Maya mencari sosok yang diimpikan, bahkan membuka pagar menunggu menantu idamannya. Nanti setelah Aksa tiba, secepatnya Maya harus bersandiwara, iya setelah semalam berpikir, akhirnya diputuskan bahwa dia bekerja sendirian, Danang sama sekali tidak mau membantunya.
“Aksa tidak ke sini Bu, sibuk di kantor cabang. Ibu bisa jalan? Katanya kaki ibu sakit?” Ajeng perhatikan tidak ada luka apapun, lebam juga tidak.
“Heh, kurang ajar itu anak, bukannya ajak menantuku ke sini. Ya iyalah aku bisa jalan, memangnya aku lumpuh.” Umpat Maya dalam hati, kecewa berat, gagal rencananya menarik perhatian apalagi uang menantu.
Brak
Maya mendaratkan bokong di atas kursi kayu cukup keras, tidak bisa menutupi rasa kesalnya. “Kamu punya suami sultan kok masih kerja? Harusnya minta istana, perhiasan.” Maya mencibir putrinya yang tidak bisa diandalkan, menelisik penampilan Ajeng, hanya ada anting mas putih, tas yang digunakan pun tidak menunjukkan dia istri Bos. Hanya sepatu saja yang terlihat mahal.
“Mobil kamu mana? Ke sini juga tangan kosong. Mau jenguk orangtua sakit itu bawa oleh-oleh. Memangnya Aksa tidak kasih uang?” lanjut Maya, tidak tahu diri, masih meluncurkan kata-kata hina.
“IBU! Aku ke sini karena cemas, aku bawa buah. Itu di meja.” Tunjuk Ajeng pada kantung plastik putih berisi jeruk dan apel.
Maya mengintip dan berdecak sebal, tidak sesuai harapan. “Sudah lah masuk, ibu belum makan siang, lapar.” Membawa buah tangan dari Ajeng dan meninggalkan putrinya sendirian.
“Hi calon adik ipar. Kamu semakin cantik, umm … masih cantik calon istriku.” Dusta Aji. Tersenyum menunjukkan deret gigi yang sudah tanggal beberapa. Dia sengaja datang ke rumah atas perintah Rayana, merusak hubungan sepasang suami istri. Selain itu pemuda ompong ini penasaran akan gosip tentang Aksa.
Menghindari tatapan mata nakal, Ajeng melangkah masuk sembari mengusir calon kakak iparnya, “Oh … kakak belum pulang. Silahkan kembali lagi sore atau temui di rumah sakit.”
Namun Ajeng kesulitan menutup pintu, Aji menghalangi dengan satu kaki terjepit, “Di rumah tidak ada Bapak, tamu laki-laki tidak boleh masuk.” Sengit Ajeng sama sekali tak gentar, lagipula suaminya sudah kembali ke sisinya.
“Duh. Adik ipar galak banget. Santai Ajeng, Jangan kasar!” tawa Aji begitu damai, tidak jera nyaris masuk ICU. Bahkan dia mendorong kuat pintu sampai Rahajeng membentur dinding, meringis kesakitan. Memanfaatkan kondisi, menarik kuat tangan kecil Ajeng sampai masuk dalam pelukan Aji.
Aji menyeringai, mendekatkan wajahnya dengan Ajeng. “Sebenarnya kamu ini lebih baik dari Rayana, tapi sayang menolak. Apa harus main kasar ya?” mengunci pergerakan Ajeng.
“Satu ciuman, boleh ya? Si gembel eh maksudnya Tuan Muda Caldwell juga tidak akan marah, dia jauh kan? Tenang Ajeng jangan berisik, aku janji hanya satu ciuman atau satu permainan.”
Ajeng membelot mengeluarkan seluruh tenaga, berharap ibunya datang membantu. Tapi Maya seolah menghilang, suara napasnya saja tidak terdengar.
Mengandalkan anggota tubuh yang bebas bergerak, Ajeng membentur kepalanya pada hidung Aji. Seketika darah mengucur, bukannya kesakitan, dia tersenyum.
“Kamu agresif ya. Aku jadi penasaran. Berani juga kamu Ajeng, percuma minta tolong, ibumu lagi tidur, pulas sekali. Sedikit obat tidur bukan masalah.” Semakin menggila, kehilangan akal sehat.
“Tolong.” Teriak Ajeng di sela isak tangisnya. Masih tidak menyerah, mencoba melakukan lagi perlawanan. Tapi tenaga Aji sedikit lebih kuat, bahkan mencekik leher Ajeng.
“Apa kurangnya aku hah? Sampai berani menolak dan memilih gembel itu? Semua bisa aku berikan Ajeng. Kamu tahu? Aku maunya kamu bukan Rayana, ya tapi tidak apa menikah dengan Rayana, ku pastikan merebut kamu dari Aksa.” Aji melempar tubuh wanita pujaannya sampai menghantam keras lantai keramik.
Tak membuang kesempatan, Ajeng keluar rumah. Hari masih sangat siang pasti banyak orang di luar sana.
“Heh jangan kabur kamu.” Aji tidak mengejar sendiri, dia memerintahkan pemuda lain membawa paksa Ajeng ke tempat yang sudah di tentukan.
Ajeng terus berlari hingga ujung jalan, dia masuk ke coffee shop Danang, penampilannya kacau balau, keringat membanjiri tubuhnya, “Aku yakin ini rencana kakak, jahat kamu Rayana.” Napasnya begitu berat, rasa takut masih menyerang dan melemahkan langkah kaki.
“Pak, tolong Ajeng.” Menghambur memeluk Danang yang baru saja menyelesaikan kopi pelanggan.
TBC
***
ditunggu dukungannya kakak semua🙏
Aku usahakan up setiap hari ya 😅min 2 lah kalau 3 kadang kepala aku ngelag🤣 maklum kekurangan ion. Tapi lebaran izin satu hari ya
semangat puasanya jangan kendor, jaga kondisi, jangan sakit menjelang hari raya.
untuk adegan tertentu sengaja aku cut😅, menghormati bulan suci.
mohon maaf bila tidak sesuai ekspektasi 🙏
enaknya kasih hukuman apa untuk Aji?