
Hari-hari berjalan cukup cepat, Aksara menunda jadwal kepulangannya. Dia terkejut, kakak sepupu secara mendadak menikahi Rayana, bahkan kedua orang itu menggelar perhelatan besar, sangat menunjukkan siapa jati diri Andres sebenarnya.
Aksa yakin di balik pernikahan Rayana dan Andres tersimpan rencana jahat keduanya, dan sepupu bastard itu sangat mahir memanipulasi keadaan. Dia dengan mudah masuk ke keluarga Danang dan mendapat restu. Apalagi Maya setelah mengetahui latar belakang suami Rayana, tergiur dengan uang dan harta.
Namun sudah berjalan beberapa minggu, Aksa belum menemukan hal berbahaya. Andres pun acuh kepadanya, tapi tidak untuk Ajeng.
Sepupu angkatnya sangat memperhatikan Ajeng, membuat Aksara harus waspada, mata, telinga, terpasang serta tubuh tidak berpaling sedikitpun.
“Apa yang kau pikirkan Aksara?” Elang menyadari apa yang dipikirkan Bosnya. Semenjak Rayana dikatakan menghilang dari desa, lalu Andres mendadak bertandang ke rumah mertua, menikahi Rayana. Begitu jelas ada banyak hal yang disembunyikan.
“Tak perlu aku jawab Elang, sudah pasti kan? Andres, siapa lagi?” tangan Aksa menutup map di atas meja dan menyimpannya di bagian sisi. “Ayo Elang, para investor menunggu di aula utama.” Aksara meraih jasnya dan keluar ruangan.
Menyingkirkan lebih dulu Andres dari kepala, sebab masih ada hal penting, menghadiri rapat umum pemegang saham. Para pemilik dana menunggu manajemen memaparkan kinerja tahunan dan rencana satu tahun ke depan.
Saham Cwell Group 55% di pegang oleh Aksara, 35% atas nama Andres, 10% beredar di publik, diperdagangkan pada bursa saham.
Sepengetahuan Andres, adik sepupunya hanya memiliki saham di Cwell Group. Dari segi jumlah kekayaan tidak berbeda jauh dari Andres Zotan Caldwell. Pria itu tidak tahu bahwa Henry Caldwell mewariskan ratusan juta lembar saham di berbagai sektor.
Nama Aksara Kaisar Caldwell tercatat dalam data Real-Time Billionaires dari Forbes dengan urutan nomor tiga, jumlah aset yang terdaftar hanya sebagian. Selebihnya banyak fixed asset seperti tanah, gedung dan surat berharga tidak ikut masuk dalam list.
Sementara Andres sendiri menduduki peringkat nomor tujuh. Hanya perlu meraih sedikit saja milik Aksara maka membuatnya menjadi raja di dunia.
**
Di rumah
Ajeng resmi mengajukan pengunduran diri satu minggu yang lalu, dia hanya mengambil beberapa jadwal sampai akhirnya surat keputusan keluar. Sebenarnya bisa saja dengan angkuh menghilang usai mengirim surat. Namun dia tidak mau namanya jelek apalagi Aksara ikut terseret di belakangnya.
Putri bungsu Danang lebih menghabiskan waktu di rumah, membuat beragam makanan, meskipun pada akhirnya berakhir ke perut para pengawal.
“Nyonya, apa ini tidak berlebihan? Sangat banyak.” Salah satu asisten rumah tangga bernama Dian, menatap pudding serta cupcake tertata rapi di meja.
“Pengawal kita juga banyak. Aksa tidak suka makanan manis, tapi belakangan ini aku suka manis, daripada masak sedikit lebih baik sekaligus banyak.” Tawa Ajeng sedikit membungkuk, membuka oven, mengeluarkan kue dari dalam. Walaupun bukan ahli setidaknya cita rasa masih aman terkendali.
“Aku titip ya, tolong beri topping, terserah apa saja.” Ajeng bergegas masuk ke kamar, membuka sesuatu yang dibelinya pagi tadi, dengan hati berdebar dia masuk ke dalam kamar mandi. Sesudahnya menghubungi Aksara, tapi sayang panggilan telepon tidak diterima.
“Ya ampun aku lupa kalau hari ini rapat umum pemegang saham, sudah pasti dia sibuk.” Ajeng langsung mengirimi suaminya pesan, dia tidak mau basa basi dan berbelit menyampaikan sesuatu.
“Sayang temui aku pukul lima di Well Coffee, usahakan jangan terlambat ya.”
Ajeng tersenyum sendiri setelah mengirim pesan, dia tidak sabar menunggu senja tiba.
**
Diantar sopir pribadi Rahajeng bergegas menuju rooftop Well Coffee.
“Perlu aku jemput, Nyonya?” teriak Aksa dari atas, dan mendapat jawaban berupa gelengan kepala.
Ajeng melangkah cepat, melewati satu per satu anak tangga. Entah kenapa auranya dua minggu ini begitu berbeda, dan tingkahnya sedikit aneh, menurut Aksa lebih manis dibanding sebelumnya.
“Apa Nyonya merindukan pria bernama Aksara, suami Anda?” Aksa memotong martabak telur dan menyuapi Ajeng. Dia juga memesan jus aneka buah beri untuk istrinya.
“Ah, padahal aku belum pesan apapun lho.” Ajeng membuka mulut, menguyah makanan perlahan sambil bergelayut manja di lengan suaminya. Ya aroma maskulin yang menguar dari tubuh Aksara menjadi obat pelepas lelah, serta obat tidur alami bagi Ajeng.
“Kamu mau kencan dengan suami, iya? Atau ada hal penting yang harus aku ketahui? Kabar Rayana?” sikap Aksa masih serius, khawatir Rayana meneror istrinya atas perintah Andres.
“Bisa kan Aksa, lupakan masalah itu hari ini? Antar aku ke rumah sakit mau?” tatapan memohon, dan jernihnya manik hitam Ajeng tak kuasa di tolak Aksara.
Sesudah menghabiskan makanan, Aksa dan Ajeng bergegas ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan pun Aksa selalu gelisah, takut terjadi sesuatu dengan istri, sebab Ajeng tidak menjawab pertanyaan suaminya.
Aksa selalu memperhatikan sikap istri, dari luar memang tampak baik-baik saja tapi kondisi tubuhnya siapa yang tahu. Tidak pernah ada keluhan apapun, atau menunjukkan rasa sakit. Sekarang mendadak ditemani ke rumah sakit, tentu saja Aksara tidak tenang jiwa raga.
Pria jangkung ini semakin tak karuan, ketika Ajeng memilih Poli Obgyn. Siapa juga yang tidak khawatir mendadak ke rumah sakit dengan tujuan Dokter Spesialis Kandungan? Pikiran Aksa melayang ke sana kemari, apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan Ajeng.
Menunggu dua puluh menit, sepasang suami istri yang berbeda isi kepala, melangkah masuk. Ajeng menyampaikan keluhannya, hanya terlambat datang bulan, tanpa mual dan muntah.
Tranducers mulai bergerak di atas kulit perut, dan kosong. Tidak ada apapun, hanya pemandangan hitam keabu-abuan.
Kekhawatiran Aksa semakin bertambah, “Apa Ajeng hamil? Tapi tidak mungkin jelas-jelas tidak ada bayi di layar.” Lirih Aksara dalam hatinya yang berdentum kuat.
Demi memperkuat dan mendukung hasil yang menunjang, dokter mengalihkan USG menjadi trans v. Ajeng sedikit tersentak ketika alat panjang itu mulai memeriksa bagian dalamnya.
Kening Aksara mengernyit melihat ada benda bulat dengan bulatan kecil di dalamnya. Hatinya senang sekaligus takut, karena dokter masih diam seribu bahasa.
“Apa istri saya baik-baik saja? Dia tidak sakit kan? Atau istri saya hamil?” Aksara meluncurkan beragam pertanyaan guna mengusir rasa penasaran.
“Selamat Bapak dan Ibu. Benar Pak, Bu Ajeng sedang hamil, usianya enam minggu, ukuran janin 3,5 milimeter.” Imbuh dokter, memberikan hasil cetak USG ke tangan Aksara. “Tolong di jaga ya Pak, masih sangat rawan, dan ibu sebaiknya kurangi kegiatan, seperlunya saja. Asupan nutrisi lebih diperhatikan lagi.” Tutur dokter.
Seketika kebahagiaan menjalar ke seluruh tubuh, Aksa menanti cukup lama kabar menyenangkan ini. Perlu waktu lebih dari tiga tahun dan sebentar lagi dirinya menjadi seorang ayah.
TBC
***
anaknya laki-laki atau perempuan ya?
besok lebaran ya?
Mohon maaf lahir dan batin 🙏