I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 30 Tranding Topic



Tubuhnya semakin menegang, Rahajeng Prameswari berpegangan erat pada sudut meja. Berulang kali mengatur napas, menetralkan rasa gugup. Kristal bening pun memenuhi manik jernihnya.


Seorang pria tampan, rupawan bagai Dewa Yunani semakin berjalan mendekati kamera. Semua pasang mata perawat, dokter yang sedang istirahat, tertuju pada televisi berukuran besar itu. Dan ya wajah seseorang itu ada dalam laporan penyelidikan detektif. Dia adalah Elang, memberi kata sambutan dan mempersilahkan Presiden Direktur Cwell Group untuk segera menuju podium. Rupanya Aksara menyamar, dia duduk bersama barisan wartawan.


“Selamat datang Tuan Muda Caldwell.” Seru Elang, dua tangannya terulur ke depan, menunjuk Aksara.


“Terima kasih Elang.” Lantang Aksa. Dia melangkah lebar, kemudian memberikan beberapa patah kata dan menjawab keingintahuan masyarakat mengenai kemana dirinya selama lima tahun ini.


Deg


Deg


Deg


Ajeng menangis, tidak salah lagi dialah Aksa, suaminya. Beberapa bulan lalu sengaja datang ke rumah sakit, mungkin inikah maksud Aksa tidak membawa Ajeng pergi?


Rekan kerja Ajeng terkejut, bahkan Dokter Rizwan terjatuh dari kursi. Kini semua mata memandang pada Rahajeng, semua kompak menelan saliva merasa sungkan sekaligus takut. Ternyata Rahajeng yang sebelumnya di hina memiliki suami seorang miliarder terkenal, selama ini tidak diketahui seperti apa wajahnya.


Lalu perhatian mereka teralih pada Aksara, penampilannya sungguh berbeda, Tidak ada kaos lusuh atau celana robek dan tas kumal. Kini pria dengan five o’clok shadow beard itu gagah, menggunakan setelan jas rancangan rumah mode asal paris.


Dibelakangnya berdiri jajaran pendukung Aksara dari usia muda dan tua semua lengkap. Dengan pengumuman resmi ini, maka Aksa siap menghadapi musuh sesungguhnya yang kini tinggal di New York City.


Aksa pun mengumumkan kunjungannya ke sejumlah negara, salah satunya Indonesia. Ya meskipun tidak ada kepastian, tanggal bulan serta jam tapi semua menunggu kehadiran generasi keempat klan Caldwell.


**


Sementara Danang di coffee shop turut menyaksikan melalui live streaming di ponsel, dia nyaris terjungkal mengetahui kenyataan. Artinya selama ini secara tidak langsung, dirinya berhubungan dengan Aksa melalui tangan kanannya.


“M-menantuku, Aksa.” Gumam Danang gemetaran, ia tahu betapa kuat Cwell Group setelah banyak membaca dari Google. Ketakutan mulai melanda, pasti selama ini Aksa telah membalas dendam, terbukti dengan hancurnya usaha Danang dan Maya.


“B-bagaimana ini? Pasti anak itu marah, ya Ajeng … pasti Ajeng bisa menjadi pelindung keluarga dari balas dendam Aksa. Ya ampun Aksa maafkan Bapak.” Tangis Danang, ia takut disiksa, dicambuk dan dibuang ke rawa menjadi makanan binatang predator.


Danang bergegas pulang ke rumah kontrakannya, dia harus menyampaikan hal ini pada Maya. Namun wanita tambun itu, lebih dulu mengetahui kabar mencengangkan dari putri sulungnya.


Bukannya takut tapi kedua mata Maya malah menghijau, berharap Aksa mau tinggal dengannya atau membawa Maya pergi ke negara asalnya. Dia pun sibuk menghubungi Ajeng, bicara selembut mungkin selayaknya ibu sayang pada anak, semua demi intan permata yang akan jatuh ke tangannya.


“Ya ampun Pak, ternyata Ajeng anak berguna dan lebih berarti daripada Rayana. Kita orangtua beruntung Pak. Pokoknya, ibu mau minta mobil, rumah apalagi perhiasan. Pasti uang Aksa banyak, satu rumah ini mana cukup menampung uangnya. Berlian, iya Pak. Ibu mau berlian, cincin, kalung juga gelang. Ibu tidak sabar bertemu Aksara.” Rencana-rencana mendekati Aksa mulai dipikirkan oleh Maya. Untung saja dirinya tidak nekat memaksa Ajeng cerai dari suaminya.


“Bu, seharusnya takut. Bisa jadi Aksa membalas sakit hatinya. Bukan minta beli ini dan itu.” Geram Danang pada Maya, istrinya belum berubah sama sekali, padahal lebih dari enam bulan kehidupan mereka diguncang masalah ekonomi, serta mendapat caci maki dari warga sekitar.


“Ibu tidak peduli Pak.” Acuh Maya melenggang pergi meninggalkan Danang sendirian.


**


Malam hari di kosan, Ajeng menangis pilu, pantas saja Aksa tidak ingin dirinya ikut dan mengetahui semua rahasia. Rupanya suaminya memiliki wanita lain, iya bersamaan dengan resminya Aksa menjadi pimpinan utama Cwell Group, berita pertunangannya menjadi tranding di sosial media, wanita yang begitu cantik dan cerdas, putri dari keluarga Lucero.


“Aksa” tangis Ajeng. Dia merasa tidak pantas untuk suaminya, apalagi mengingat semua perlakuan buruk selama dua tahun menikah dari mertua. Pasti sebentar lagi Aksa benar-benar pergi meninggalkan seorang Ajeng.


Belum juga reda rasa sakitnya, Ajeng kembali mendapat kabar buruk. Dia menerima pesan dari salah satu temannya, bahwa Aksa telah menikah dengan salah satu putri pengusaha terkenal di Eropa. Lagi-lagi belati menghujam tepat ke jantung, Ajeng merasa sesak luar biasa.


“Kenapa pernikahanku jadi seperti ini?” suara Ajeng melemah, tatapannya pun buram oleh air mata, dia tidak sanggup lagi menghadapi dunia esok hari.


Ajeng sengaja izin pulang cepat, mengurung diri dalam kamar kos yang kecil. Dia juga mengabaikan panggilan telepon dari Rayana dan Maya. Hanya ingin sendirian, berpikir langkah apa yang terbaik. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk mengunjungi Aksa ke Swiss menggunakan uang yang sekarang Ajeng yakini dari suaminya.


Namun masalah paspor dan visa membutuhkan waktu cukup lama, belum lagi dia harus mengajukan cuti selama satu minggu dan mencari perawat pengganti.


“Tidak … tidak, Aksa itu suamiku. Aku istrinya, aku yang pertama menjadi istrinya. Mereka semua bukan siapa-siapa.” Ajeng berusaha teguh, walaupun sangat sulit, mengetahui pesaingnya berasal dari keluarga yang sepadan dengan Aksa.


.


.


Hari berganti menjadi terang, panas terik matahari membuat siapapun kehausan dan terbakar. Aksa dan Elang baru saja tiba di bandara, tapi asisten berparas rupawan itu mendadak sakit, tidak bisa menunggu sampai ke hotel.


“Kau ini, memangnya baru pertama kali naik pesawat?” sindir Aksa sembari memapah Elang berjalan masuk mobil, pemandangan tida lazim, dimana bos membantu asistennya. Tapi bagi Aksara, Elang lebih dari pegawai, dia adalah sahabat sekaligus kakak laki-laki.


Rolls Royce hitam pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.  Aksa tidak mungkin mengesampingkan kesehatan sahabatnya.


“Terima kasih Aksa, kau memang sangat perhatian. Untung aku ini pria, kalau wanita, sudah pasti jatuh cinta padamu.” Tutur Elang di sela rasa sakit pada kepala.


“Sekali lagi kau mengatakan hal itu, aku lempar keluar dari mobil.” Aksa membuktikan ancamannya, mulai membuka kunci dan mendorong tubuh Elang menempel pada pintu.


“Wow wow tahan bos, aku masih ingin hidup. Belum menikah apalagi punya anak.” Elang meringis sakit, memegang kepala dan perut.


Tiba di rumah sakit, semua mata memandang pada Aksara yang memapah pria. Mereka saling berebut mencari perhatian Tuan Muda Caldwell, dan hanya satu perawat yang diam saja di depan lift.


Aksa menyerahkan Elang pada petugas medis, sementara dirinya berlari menghampiri Ajeng yang mematung di tempat.


“Hi istriku Rahajeng Prameswari.” Dengan senyum manis khas seorang Aksara.


TBC


***


ditunggu dukungannya kakak semua


🙏🙏


terima kasih banyak