
Ajeng yang cemburu berlebihan, langsung mendorong suaminya masuk ke dalam ruangan, tanpa basa basi membuka kaos dan membersihkan luka.
“Ada hubungan apa antara kakak dan Aksa? Kenapa kakak berani masuk ketemu suamiku?” Ajeng terjebak dengan pikiran negatifnya. Ibu hamil ini bahkan melamun, tidak menjawab pertanyaan suaminya.
“Sayang? Hey Ajeng? Ajeng kamu tidur?” sama sekali tidak ada tanggapan, Aksara menoleh dan mendapati istrinya duduk lemas memegang kotak obat, pandangan matanya lurus.
Sudah hapal betul isi kepala istri, Aksa memeluk Ajeng. Membisikkan alasan Rayana masuk ruang kerjanya. Panjang kali lebar semua diungkap, tidak ada yang disembunyikan dari Ajeng. Bagi Aksa lebih baik melindungi perasaan istri, daripada kecurangan Rayana sekalipun dia berjasa dalam memberikan beberapa data saham.
“Mengerti kan? Jangan salah sangka, kamu pikir aku sembarangan tergoda, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Ajeng.” Ucap Aksara memagut bibir merah muda Ajeng yang sedikit terbuka. Lalu menghadiahi sesuatu pada keningnya.
TAK
Aksa menyentil dahi Ajeng, “Sakit Aksa, aku kan tidak salah. Tapi sayang, aku berhutang terima kasih karena kamu menyelamatkan Kakak. Kalau dia tetap memiliki tanah dan bangunan mendiang Andres, pasti dirinya menjadi incaran agen keamanan internasional.” Wajah menekuk Ajeng berubah, suaminya sangat perhatian dan melindungi keluarganya. Walaupun menurut Maya dan Rayana sangat merugikan.
“Ya tepat sekali. Makanya kamu diam di rumah, patuhi suami! Aku perlu rapat khusus untuk mengakuisisi perusahaan Andres. Aku punya hadiah, mau lihat?” Aksa berdiri, membuka lemari di sisi meja kerjanya. Membawa amplop besar, menyerahkan ke tangan Ajeng. “Buka sayang!”
Perlahan Ajeng mengeluarkan benda di dalamnya, “Sertifikat tanah dan bangunan?” Ajeng membuka halaman satu, membaca siapa pemilik serta lokasi tanah. “Ini kan?” ternganga, tidak menyangka suaminya bisa mendapatkan surat kepemilikan tanah dan rumah masa kecil Ajeng. “Kok bisa Aksa?” Ajeng semakin dibuat bingung bercampur kagum kepada suaminya.
“Iya bisa sayang, bank itu kan milik suami kamu jadi apapun bisa aku lakukan. Tapi maaf sayang, nanti aku ganti atas nama anak kita. Bapak dan Ibu hanya menumpang di sana, bukan masalah kan?” tegas Aksara, tidak memberi cuma-cuma asetnya kepada mertua rakus seperti Maya.
“Oh iya, yang penting rumah ini tidak jatuh ke tangan orang lain. Terima kasih ya Aksa, maaf atas sikap Aku, Bapak, Ibu dan Kakak.” Kepala Ajeng menunduk, mengingat masa lalu, seketika rasa malu menggerogoti diri.
“Jangan menundukkan kepala! Kamu itu Nyonya Caldwell harus tegar dan tegas menghadapi semua permasalahan, ini terakhir kali aku lihat Ajeng yang mudah terbawa emosi, ke depannya rubah sikap kamu ya sayang.” Aksara ingin sekali istrinya ini bisa mandiri mengambil keputusan tanpa terpengaruh pihak ketiga.
.
.
Hari terus berlalu, sesuai jadwal pagi ini Aksa pulang ke negara asalnya, menyelesaikan segala sisa masalah akibat permusuhan dengan Andres.
Banyak petuah yang disampaikan Aksa kepada jajaran pelayan dan pengawal, termasuk melarang Ajeng keluar rumah selama tiga hari.
Perintah khusus diberikan kepada Catlin, menjaga agar Ajeng tetap aman. Sekalipun tinggal bersama keluarganya.
Tapi Maya selalu berusaha mengambil kesempatan, dia menunggu sampai Catlin sedikit lengah.
“Masa mau ngobrol sama anak sendiri di awasi? Keterlaluan Aksa, aku ini mana mungkin punya niat jahat.” Monolog Maya, kakinya mengendap-endap masuk kamar utama. Dia melihat Rahajeng sedang memijat kaki yang pegal.
Ajeng teringat pesan suaminya, dia langsung bertanya kepada Maya. “Ada perlu apa Ibu ke sini? Bukannya dilarang sama Aksa? Kalau dia tahu ibu nekat, bisa jadi besok tidak dapat uang royalti lagi. Tolong Ibu hargai apa yang menjadi keputusan suamiku.” Tegas Ajeng, dia yakin kedatangan Maya memiliki tujuan tertentu.
“Ajeng jangan gitu. Kamu harus berbakti, Ibu minta uang ya. 200 juta cukup Ajeng untuk melunasi hutang tas branded. Kasihan Bapak mencicil semua kewajiban sendirian, tolong pengertiannya ya nak.” Maya bersimpuh di sisi ranjang, mengemis kepada putrinya sendiri, apapun dia lakukan asalkan mendapat uang.
Ajeng tercengang akan sikap Ibunya, dia tidak menyangka wanita yang melahirkannya berani merendahkan diri sendiri. “Bu, bangun jangan begini!” turun dari atas kasur, meraih kedua tangan Maya, membawa duduk di sofa bed.
Maya terisak, berharap putrinya tersentuh lalu mentransfer uang secara rutin. Betapa bahagianya Maya jika hal itu terjadi.
Dia adalah mertua paling beruntung di dunia, dalam hati Maya berjanji akan menjaga hubungan putri dan menantunya. Menjauhkan dari segala gangguan, termasuk Catlin Lucero.
Pria manapun akan Maya halangi mendekati Ajeng, karena tidak ada yang mampu menandingi Aksara.
“Bagaimana Ajeng, bisa kan? Ibu yakin uang 200 atau 300 juta bukan masalah untuk Aksa. Kamu kan punya saham nilainya milyaran, tuh lihat tas kamu semuanya mahal, sepatu juga. Berbagi dengan Ibu ya sayang.” Maya melirik pada walk in closet yang terbuka. Menampakan barang mewah di dalamnya. Seandainya mencuri itu tidak di larang, pasti dia menjarah seluruh isi lemari anak dan menantu.
Tapi Maya masih waras, lebih baik minta secara baik-baik, tak apa kehilangan muka yang penting uang. “Kalau pemalu, mana bisa punya uang.” Tawanya dalam hati, sorot matanya berkilau melihat isi ruangan.
Tidak pernah menyangka menantu sampahnya seorang yang terhormat di seluruh dunia. Seandainya tahu identitas Aksa lebih awal, Maya akan memperlakukan menantunya sangat baik, bagai Raja.
“Umm … Bu. Maaf, Ajeng tidak punya uang sebanyak itu. Hanya ada pesangon dari rumah sakit, jumlahnya juga sedikit.” Tutur Ajeng, penolakannya lemah lembut tapi dia tidak akan memberikan apa yang Maya inginkan.
“Kenapa bisa? Suami kamu kaya raya Ajeng. Dulu kamu selalu memaksa Aksa mencari uang banyak untuk rumah tangga kalian, sekarang kamu tidak minta uang jajan sepeser pun? Mustahil.” Maya bangkit dari duduknya, hanya akal-akalan Ajeng. Jelas sekali penampilan putrinya berubah, dari ujung kepala sampai kaki menunjukkan bahwa statusnya sebagai istri pengusaha.
“Iya benar. Itu dulu Bu, sekarang Ibu lihat sendiri kan? Aksa memenuhi semua keperluan rumah tangga, aku tidak pusing mengatur uang untuk membayar listrik, air, keamanan dan tentunya membeli isi kulkas. Semua Aksa serahkan kepada kepala pelayan. Aku tahu diri sebagai istri.” Tegas Ajeng, memang semuanya benar.
Pertengkaran di masa lalu karena kekurangan pemasukan, untuk membeli satu karung beras saja Ajeng dan Aksa harus bertengkar hebat.
Semua sepatu dan tas di dalam lemari, disiapkan Aksara bukan permintaan atau incaran Ajeng.
Mendengar penuturan putri bungsunya membuat Maya geram, keluar kamar tanpa membawa hasil sepeser pun.
TBC
***
berharap cepat lolos reviewnya.😭