I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 61 Tujuan Yang Berbeda



Langit Asia Tenggara terutama Indonesia pagi ini masih sangat gelap, padahal jam menunjukkan pukul enam. Mungkin karena semalaman diguyur hujan deras, dan selama itu juga Ajeng tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lantaran kabar suaminya yang sedang mengudara dari Eropa menuju Asia.


Ajeng selalu memanjatkan doa, agar suaminya selamat sampai tujuan. Wanita bermata bulat ini duduk di tepi ranjang, memandangi kaca yang basah serta beberapa daun kering menempel.


KRUK


“Aduh … kamu lapar ya sayang? Maaf mama ajak kamu begadang, seharusnya Papah sudah pulang jam lima tadi, tapi terlambat satu jam.” Ajeng mengusap perut buncitnya, khawatir berlebihan.


Sepasang kaki jenjang keluar kamar, turun perlahan ke lantai satu, memasuki area dapur. Beberapa asisten rumah tangga hilir mudik.


‘Selamat Pagi Nyonya’


“Ya pagi, Bapak dan Ibu masih di kamar?” tanya Ajeng, mencari keberadaan orangtuanya.


‘Iya Bu Maya baru masuk kamar.’


Ajeng menganggukkan kepala. Karena perutnya semakin lapar dia mencari makanan, membuka lemari persediaan bahan mentah. Mengambil dua buah telur, bawang dan cabai.


“Telur dadar ya sayang.” Dialog Ajeng kepada bayinya seakan berdemo dalam rahim. Ibu hamil ini juga menolak bantuan koki dan pelayan, sejak Aksa membeli rumah, hidupnya berubah drastis.


“Iya” sahut seseorang, suara yang sangat Ajeng kenali.


“Aksa? Kamu pulang? Aksa?” Ajeng mencari ke sekeliling dapur, tapi kosong. “Kamu kangen Papah ya? sebentar lagi Papa pulang sayang.” Ucap Ajeng berpikir dirinya berhalusinasi, tangan kiri memegang perut dan bagian kanan menggenggam sutil.


GREP


“Yakin anak kita yang kangen? Bagaimana dengan Nyonya?” Aksa memeluk istrinya dari belakang, mencium tengkuk Ajeng yang terhalang rambut halus. Kedua tangan membelai perut buncit yang masih bersembunyi di balik daster.


“Eh Aksa, tadi aku cari kamu, Aku juga kangen." Ajeng tersipu malu, bibirnya mengukir senyum.


"Aksa? Kamu kenapa?” Ajeng mendadak panik, suaminya bungkam serta bulir bening membasahi kulit mulus Ajeng.


“Jangan bergerak, tetap begini sayang. Sebentar ya.” Bisik Aksara, suaranya sangat lemah. Masih terguncang mendapati kenyataan pahit di keluarganya.


Ajeng yang mengerti, diam mematuhi suaminya. Dia yakin selama 12 hari ada sesuatu yang begitu berat menimpa Aksa.


“Aksa, makan yuk. Aku lapar, telurnya sudah matang.” Ajeng menunjuk piring berisi telur dadar di atas kitchen bar.


Aksara hanya menemani istrinya mengisi perut, sesekali tersenyum dan menghapus jejak kecap di sudut bibir Ajeng.


Setelah sarapan, sepasang suami istri itu ke kamar. Ajeng melayani suaminya, padahal rasa penasaran sangat kuat. Tapi bibirnya masih terkunci rapat, menunggu hingga Aksa siap berbagi cerita.


Garis wajah lelah tampak jelas di wajah suaminya, Aksa berbaring di pangkuan Ajeng, menikmati pijatan di kepala. “Berapa jasa Nyonya? Aku tidak punya uang. Kalau gratis bisa?” kelakar Aksa mencoba tersenyum walaupun terpaksa.


“Ish kamu ini, bayar lah pakai emas satu kilogram saja, bersedia Tuan?” balas Ajeng mengimbangi, menghibur suaminya yang murung. “Aksa? Aku tidak tahu apa-apa, tapi aku percaya kamu bisa menyelesaikan semua masalah.” Tutur Ajeng, mengecup kening ayah dari janinnya.


Aksa bangun, duduk menyandar pada headboard, merangkum kedua pipi Ajeng. Perlahan mengupas segala peristiwa yang terjadi, sangat rinci tak ada satupun ditutupi.


Ajeng sempat terkejut mendengarnya, karena dia melihat bagaimana kejinya seorang Andres. Bahkan pertama kali menyaksikan amarah Aksa, memukul dan menyerang kakak kandungnya dengan senjata api.


Tapi langkahnya terhambat, karena Rayana mencegah sebelum Aksa berhasil turun.


“Ada apa? Kurang? Seharusnya cukup, kakak ipar bisa membayar les untuk meningkatkan keahlian atau membuka usaha. Jangan mengandalkan uang itu Rayana, ingat sekarang kamu tidak lagi bekerja sebagai dokter. Bijak lah mengatur keuangan!” Aksa melenggang pergi, tak ingin meladeni dan membuang waktu berharganya.


“Eh Aksa, meskipun aku miskin dan derajatnya lebih rendah, tapi aku kakaknya istri kamu. Sombong banget, padahal aku mau bilang terima kasih.” Gerutu Rayana kembali masuk ke kamar.


Dia menghela napas karena uangnya sejumlah 200 juta sudah digunakan untuk menutup kredit mobil. Sisanya dia tabung dan menyisihkan dana membantu Danang melunasi hutang uang lamaran serta tas branded Maya.


Rayana memang tidak tertarik mengikuti les, dia malu kepada rekan satu kelas yang usianya jauh lebih muda, sedangkan egonya masih kuat. Kenapa mantan dokter harus les membuat kue, menjahit, melukis sampai bercocok tanam di kebun? Jelas sangat dihindari.


Satu minggu ini gencar mengirim lamaran kerja ke sejumlah klinik kecil atau apotek yang lokasinya jauh di desa. Sengaja memilih lokasi itu, melindungi muka dari hinaan semua kenalan.


Tapi sayang belum ada balasan email atau panggilan melalui pesan singkat.


Sempat terpikir melanjutkan usaha Maya mengelola toko baju, namun menjadi pedagang bukanlah jiwanya.


“Rayana, ke kamar Ibu. Tangan Ibu pegal, Bapak kamu minta pijit dari tadi. Ibu bosan di rumah terus. Kamu masih punya tabungan kan? Kita ke pasar, siapa tahu ada kenalan Ibu yang anaknya cari istri, gemana?” Maya berusaha menemukan suami yang cocok untuk putri sulungnya.


“Ibu lupa ya? belum satu bulan suami aku meninggal, masa mau cari penggantinya? Apalagi di jodohkan sama anak teman ibu. Aku tidak mau punya mertua bawel kaya Ibu!” Rayana beranjak dari atas ranjang, membuka laptop, mengunjungi situs lowongan kerja.


“Ya jangan jadi janda, malu. Kalau kita diusir Aksa, gemana? Tinggal lagi di desa? Mau disimpan di mana muka Ibu. Anak cantik, pendidikan tinggi, masih muda menjanda.” Maya mengintip kegiatan putri sulungnya.


“Bu, lebih baik menjanda daripada menikah dengan pria yang salah, gemana? Sudah lah Bu, aku mau fokus cari uang dulu. Aku lebih malu menumpang hidup sama adik ipar daripada status janda.” Sengit Rayana keluar kamar membawa laptopnya.


Maya bergeming, dia meratapi nasibnya yang menyedihkan. Memiliki menantu kaya raya tapi uangnya tidak bisa dinikmati selain berupa makanan. Kedua anaknya sangat acuh, suaminya sakit, dan waktunya habis untuk merawat Danang.


Maya mengikuti jejak Rayana, keluar kamar. Mata hitamnya melirik sudut ruangan, luas, ramai dan hangat. Tapi sayang semua bukan miliknya.


“Katanya hari ini menantu pulang. Bawa oleh-oleh apa dia?” mengendap naik ke atas, menemui putri sulungnya. Belum juga sampai diujung tangga, Maya terkejut memandang penampilan Ajeng.


“Mau ke mana rapi begini?  Di mana Aksa? Bawa apa saja dia?” pertanyaan meluncur bertubi-tubi dari bibir Maya.



“Diajak Aksa. Maksud Ibu oleh-oleh? Tidak ada Bu. Pulang dalam keadaan selamat saja sudah untung, Ajeng berangkat dulu ya Bu.” Mencium punggung tangan Maya, berjalan turun memegangi railing tangga.


Di bawah sana, Aksa mengulurkan tangan menyambut istrinya.


Sedangkan Maya hanya memandangi anak dan menantu yang semakin menjauh.


TBC


**


Terima kasih kk semua dukungannya


satu jempol sangat berarti bagi author receh ini 🙏🤗