I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 36 Hukuman (edit)



Danang memeluk erat putrinya, menghapus peluh yang membanjiri wajah Ajeng. Bapak dua anak ini heran melihat Ajeng mendadak masuk, wajah pucat pasi dan ketakutan. “Ada apa nak? Kamu bertengkar dengan Aksa?” Danang takut menantunya menceraikan Ajeng, sungguh tidak ingin putrinya menjanda, segenap rasa bersalah muncul dalam dada.


Ajeng menggeleng lemah di pelukan Ayahnya, masih trauma atas perlakuan Aji. Dia beruntung, diberi kesempatan menjaga kehormatan sebagai istri. Tapi, pikirannya saat ini tertuju kepada Maya, pemuda itu berani melakukan sesuatu, memberi obat tidur.


“Terus apa nak? Bilang sama Bapak, semoga bisa bantu.” Danang teriris perih, tangis Ajeng begitu pilu. Anak yang dia abaikan masih menganggapnya orangtua, tak melepas pelukannya sedikit pun. Sepintas dia teringat untuk memberitahu Aksa, biarlah melalui Manager Perencanaan dan Pengembangan.


Jamari Danang aktif menekan huruf, segera mengirim pesan singkat.


“Aji. Dia … datang ke rumah Pak. Dia … dia berniat melecehkan Ajeng, Pak.” Ucap Ajeng, punggungnya semakin berguncang hebat, mencari perlindungan diri.


Rupanya kelompok pemuda tidak berani masuk coffee shop yang sedang ramai, mereka hanya mengintai dari luar, menunggu sepi atau Ajeng keluar dengan sendirinya.


“Kurang ajar Aji. Dia mau menikah dengan Rayana, tetap mengejar kamu? Anak gila, sebaiknya Bapak batalkan pernikahan kakakmu.” Geram Danang, memukul meja, hingga air dan bubuk perisa kopi tumpah. “Kamu tunggu di sini nak, atau mau istirahat di belakang? Boleh. Minta Aksa jemput ke sini ya.” Danang mengantar putrinya ke kamar pribadi di belakang.


Bukan tidak ingin menenangkan Ajeng, pelanggan terus berdatangan. Ini hal bagus mencegah anak buah Aji masuk ke dalam.


“Semoga Aksa segera datang, keterlaluan sekali itu Aji. Kalau uang lamaran sudah terkumpul semua, aku lempar ke mukanya. Enak saja menyentuh anakku.” Dulu mungkin, Danang sukarela menyerahkan Ajeng, tapi sekarang dia sadar hal itu tidak benar, lagipula putri keduanya telah memiliki pasangan.


Coffee shop ini semakin ramai, selama satu jam lebih Danang tidak berhenti meracik kopi, dia baru duduk satu menit dan pintu kembali terbuka. Dua orang pria berjas hitam, membuka pintu. Menyusul Aksara di belakangnya, akhirnya Danang bisa bernapas lega.


“Di mana istriku?” suara tegas dan dingin Aksa.


“Aksa. Ajeng, tidur di kamar Bapak.”


Aksa berlari menemui Ajeng. Dibuka tirai, tampak jelas penampilan wanitanya kacau balau. Aksa mengeram, mengepal tinju, demi semua aset miliknya, dia akan membalas dendam pada Aji. Tidak main-main, bukan hanya gigi yang hilang, “Berani sekali menaruh tangan kotor di tubuh istriku, kau akan menyesal Aji, ku hancurkan sampai akarnya.” Aksa tidak akan memberi ampun, bila perlu membuat Aji menderita perlahan.


“Bisa pinjam tempatmu? Aku akan membawa seseorang ke sana.” Imbuh Aksa pada teman di balik ponsel.


“Sayang, Ajeng … tidurlah di sini sebentar, kamu akan aman. Ada Bapak dan pengawal, tunggu aku ya.” Aksa mencium pelipis istrinya, pandangan teralih pada leher Ajeng, membiru. “Menyentuh wanitaku, sama saja mencari mati.” Desis Aksa, dipenuhi amarah.


“Aksa jangan pergi, aku takut.” Cicit Ajeng menahan langkah suaminya. "Aku ikut Aksa, ikut." Rengek Ajeng sama sekali tak ingin berjauhan.


“Tidak sayang, jangan melihat apa yang aku lakukan padanya.” Tekad Aksa sudah bulat, dia keluar melaju dengan supercar. Tanpa bantuan pengawal, sendirian mencari Aji.


Mengikuti salah satu anak buah Aji, dan ternyata cukup lihai menyembunyikan tempat berkumpul yang baru. “Habis kau malam ini Aji.” Bola mata abu-abu Aksa berkilat, amarah terlanjur membakar diri.


Mulanya Aksa akan menunggu pernikahan Aji dan Rayana, satu bulan setengah lagi. Tapi tidak kuasa menahan untuk bermain dengan Aji.


Aksa keluar dari mobil, mengintai pemuda kurus itu yang tengah buang air kecil di balik pohon. Tak mau berlarut dan menimbulkan kebisingan, membekap mulut Aji hingga pingsan. Membopong ke dalam mobil, membawa ke suatu tempat. Lebih dekat dan cepat.


Aksa memanggul tubuh Aji ke dalam suatu gedung, mengikatnya di atas sesuatu yang dingin. Menunggu sampai tawanannya terbangun.


Dia menyandar pada rak kabinet besi.


‘Tuan serius?’


Uhuk … uhuk


Pemuda yang tak pernah jera mencari masalah, membuka kedua mata. Mencoba menggerakkan kedua tangan, tidak bisa, kakinya juga sama. “Heh di mana ini? Apa maksudmu Aksa? Beraninya kau.” Aji tetap kukuh melawan, tidak mohon ampun sedikit pun.


“Kau cari tahu saja ini di mana.” Telak Aksa, malas menjawab pertanyaan murahan.


Aji mengedarkan pandangan, ruang ini suram, sunyi, sepi dan dingin sekali, mirip freezer. Ada lampu operasi di atas tubuhnya, bau menyengat obat sangat kuat.


“Katakan di mana ini? Ku hancurkan kau Aksa.” Aji memberontak, berusaha melepaskan diri dari atas meja khusus.


“Itu” Aksa menunjuk pada peti mati di sudut ruangan. Mendadak tubuh Aji lemas, merinding, tapi pandai menutupi perasaannya.


“Kau mau membunuhku hah?” Aji tertawa mencemooh, mana berani Aksa melukainya apalagi sampai menghilangkan napas seseorang.


“Kau tahu Aksa, harum tubuh istrimu sangat nikmat, aku kecanduan. Bibirnya manis, Aku tidak masalah bisa berbagi, selama Ajeng menginginkannya.” Seringai Aji, memejamkan mata, seolah mengingat kenangan indah dengan istri orang. Sengaja membuat Aksara kehilangan kesabaran dan terbakar api cemburu.


“Kau ingin kehilangan apa? Mata? Kaki? Tangan? Atau semuanya?” balas Aksa, derap langkah sepatu pantofel menyeramkan dan menggema. “Kalau hanya gigi, aku rasa tidak cukup. Benar kan? Terbukti tidak menyesal atau merubah sikap sedikitpun.” Aksa menyeret roda di belakang badan gagahnya.


“Apa maksudmu, hah? Aku tidak takut dengan ancaman murahan. Kau sengaja membawaku ke sini hanya untuk menakut-nakuti. Percuma Aksa gembel ah salah Tuan Muda.” Aji benar-benar sakit jiwa, umumnya manusia normal pasti sudah memohon ampun. Bayangkan saja, seharusnya meja itu untuk mayat, iya benar mayat yang hendak di autopsi.


“Oh kau memang pintar Aji, tadinya. Setelah melihat mu tanpa rasa takut, tetap angkuh. Mungkin aku bisa mencobanya, tidak masalah kan, tanpa obat bius?” sudut bibir Aksa berkedut tipis, semakin mendekati Aji dengan roda peralatan khusus.


“A-pa? Orangtuaku bisa membunuhmu Aksa, ingat itu. Aku tidak takut.” Mulai gemetar tapi sebisa mungkin ditahan, dia tak ingin kehilangan muka di hadapan rivalnya.


Tuan Muda Caldwell mulai menyimpan peralatan berwarna silver di samping meja.


Aji menelan ludah melirik pisau bedah, beberapa gunting, jarum dan benang, pinset, klem, gergaji, rektraktor, scalpel.


“Kau gila Aksara. Kita bisa berbagi wanita yang sama. Jangan lakukan ini. Kau bercanda kan? Tidak serius. Aku yakin kau ini masih memiliki hati.” Aji semakin gelisah, keringat bermunculan di tubuhnya , membasahi kaos dan celana. Mata Aji tak lepas dari alat tajam yang semakin berkilau di bawah cahaya lampu.


GLEK


 


TBC


***


terima kasih atas waktunya 🙏