
Aksara lebih dulu mengantar istrinya pulang ke rumah mereka, memastikan Ajeng dalam keadaan aman, bersama Catlin dan pengawal. Sedangkan dia segera bertandang ke kediaman Andres di New York City, ditemani Elang serta beberapa orang pengawal.
Aksa mementingkan keselamatan istrinya, apapun bisa Andres lakukan demi merebut, apalagi menghancurkan seorang Aksara.
Termasuk melukai Ajeng, pria itu berhati dingin, sama seperti dirinya. Walau di dalam tubuh Aksa dan Andre tidak mengalir darah yang sama, tetapi pola pendidikan mereka sama sejak usia dini, hanya kasih sayang dan garis keturunan yang membedakan.
Sepanjang perjalanan menuju bandar udara Aksa diam tanpa suara, mengotak-atik ponsel dalam genggaman, sering kali bola mata abu-abunya melirik kepada Elang melalui kaca spion. Asisten pribadinya itu tampak menegang di balik kemudi.
“Ada apa? Kau takut bertemu dengannya?” tanya Aksa, membuat Elang berhenti bernapas secara mendadak.
“Tidak, mana mungkin. Sudah lama aku nantikan hari ini … maaf Aksa.” Kata hati Elang, menghela napas pendek dan fokus mengendarai mobil. Memeriksa layar pada kamera belakang, apa pengawal yang lain masih setia mengekor.
“Oh, baguslah. Ingat Elang, aku mempercayakan semuanya kepadamu, termasuk keselamatanku. Jangan bertindak gegabah, dia licik.” Aksa mengingat jelas wajah kakak sepupu angkatnya, senyum serta suara menyebalkan yang selalu berputar–putar di isi kepala.
“Tentu saja Aksa. Dia sangat licik.” Seringai Elang setipis mungkin, hatinya bergemuruh, rasa ingin menuntaskan semua permusuhan, antara dua pria yang berseteru memperebutkan harta waris Henry Caldwell.
Setibanya di bandara internasional, Aksa dikejutkan dengan menghilangnya salah satu mobil pengawal. Sama sekali tidak ada pemberitahuan, padahal sepuluh menit yang lalu tiga kendaraan saling beriringan.
“Tuan Muda, mobil tiga, bannya meledak secara mendadak, mereka terjebak di jalan tol.” Elang sangat panik, semakin merekatkan airpods di telinga. Satu tangannya melindungi Aksara, dan satu lagi memegangi senjata yang tersembunyi di balik pakaian.
Kejutan diterima Aksa belum usai, secara mendadak langkah kaki Elang terhenti. Mencengkeram bahu kiri Bosnya, tatapan Elang begitu tajam melebihi ‘Katana’, dia berbisik sesuatu pada telinga Aksara.
“Kau serius?” wajah Aksa berubah tegang, rahang yang ditumbuhi rambut halus itu mengeras, sesaat matanya terpejam sembari membuang napas kasar. Kemudian keluar dari pintu utama “Perintahkan dua kendaraan untuk menjemput anggota kita di tengah jalan. Hubungi kepala pengawal pastikan Ajeng dan Catlin dalam keadaan aman!” kaki Aksa melangkah lebar kembali ke rumahnya.
“Ayo, sayang terima teleponnya. Ajeng kamu di mana?” Aksa panik, dua kali Ajeng mengabaikan panggilan teleponnya. Kepala pengawal pun sama tidak ada jawaban apapun. Sekarang yang bisa diandalkan hanya Catlin.
“Come on Cat, angkat. Apa yang kalian lakukan sampai tidak mendengar suara telepon?” aksa menyugar rambut dengan kedua tangan, menariknya kuat, sampai akar rambut nyaris terlepas dari kulit kepala.
“Kemana Catlin dan Ajeng? Elang cepat sedikit! Aku cemas istriku di rumah. Tidak mungkin Andres mengubah jadwalnya secara mendadak. Apa asisten pribadinya sama sekali tidak memberi tahu?” kegelisahan Aksara menumpuk, mendapati jalan padat merayap.
Darah yang mengalir seakan terhenti, mendengar kabar di luar prediksi. Andres Zotan Caldwell tiba di tanah air pukul enam pagi, dan bagaimana bisa Elang serta anak buahnya yang lain tidak mengendus kedatangan pria itu? Tidak masuk akal.
Elang juga menambah beban pikiran Aksa, mengetahui bahwa Andres menuju salah satu tempat, sudah pasti itu rumah Ajeng dan Aksa.
“Ku cabut semua kukunya jika dia berani menyentuh Ajeng.” Geram Aksa terus melampiaskan pada sisi kosong di sebelahnya.
“Tenang Aksa, pengawal kita banyak. Andres pasti kesulitan. Dia tidak mungkin membawa banyak anak buah ke negara orang.” Imbuh Elang, melewati beberapa mobil dan mencari jalan pintas agar lebih cepat sampai rumah Aksara.
“Tenang? Tenang bagaimana? Istriku dalam bahaya. Ajeng tidak tahu apa-apa, kenapa Andres mengincarnya? Dia pikir bisa menggunakan Ajeng sebagai ancaman, begitu?” berdecak sebal, tidak bisa duduk diam hanya menunggu mobilnya masuk ke area perumahan.
“Elang menepi sebentar, kau duduk di sana, biar aku yang mengemudi.” Aksa merasa asisten pribadinya ini sengaja membawa kendaraan sangat lamban. Tidak biasanya Elang mengulur waktu dan memancing emosi Aksa.
**
Di tempat lain, masih sama dalam kendaraan roda empat. Andres bersenandung mendengarkan musik klasik, jemarinya pun tidak tinggal diam ikut menari mengikuti irama.
‘Tuan Andres, Elang ingin tahu apakah saat ini anda menuju kediaman Tuan Muda Caldwell?’
Hahaha
“Ah ya, aku lupa menyampaikan pada anggota baru kita, kalau aku merubah sedikit rencana. Jawab iya, bilang saja mencari pasangan.” Andres tertawa, membuka map putih yang terselip. Memandangi wajah istri sepupunya. “Cantik, tapi sayang sekali aku akan hadir ditengah kalian. Jangan menyesal Nyonya, karena status mu tetap sama menjadi Nyonya Caldwell.”
Hahaha
Dalam map putih tidak hanya foto Ajeng, tetapi ada orang lain yang akan menjadi incarannya.
“Pintar juga Aksa mencari gadis cantik di negeri orang, kasihan sekali Catlin, hanya menjadi tameng. Sepupuku jahat sekali, benar kan?” tanyanya pada asisten pribadi yang duduk di depan. Andres cemburu, tersaingi, sepupunya hidup bahagia, berjalan lancar tanpa hambatan di negara orang. Bisa membina rumah tangga, dan wanita itu sangat setia mendampingi Aksara.
‘Benar Tuan. Tapi Nyonya Rahajeng lebih cocok menjadi milik anda.’
Andres tersenyum samar mendengar pujian dari asisten pribadi, iya dia akui sejak pertama mendapat foto serta rekaman Ajeng, memiliki rasa ketertarikan secara personal.
‘Bagaimana Tuan apa kita ke tujuan semula atau …?’
“Tentu saja tujuan awal. Aku tidak mau sendirian, harus ada wanita cantik yang menemani.” Tukas Andres yang tak bisa hidup tanpa belaian wanita.
Mobil yang ditumpangi Andres terhenti, dia pun berjalan kaki cukup jauh, sengaja. Cuitan burung menyemangati Andres menjalankan rencananya. Semakin jauh dan masuk ke dalam, dia mencari sosok cantik yang akan bertekuk lutut setelah bertemu dengannya.
‘Tuan kenapa Anda tidak menunggu di dalam mobil?’
“Ck, mana mungkin dia bersedia menemuiku? Mengandalkan pesona mu sangat tidak kompeten. Bisa-bisa seluruh penduduk menuduh penculikan.” Sarkas Andres, kerongkongannya terasa kering. Perbedaan iklim langsung membuat tubuhnya bereaksi untuk penyesuaian.
‘Tuan itu di sana.’
“Iya aku tahu, masih punya mata. Kau tunggu di sini jangan sampai mencurigakan, aku tidak mau calon wanitaku menjauh, paham?”
Andres berjalan pelan, mendekati wanita cantik yang sedang jongkok, rambut panjang bergelombang tersapu angin, sampai aroma samponya pun ikut menyapa Andres, melambaikan tangan agar mendekat.
“Hi, apa kabar? Perlu bantuan?” sapa Andres begitu berani, turut berjongkok di sisi incarannya.
TBC
**
Jam up aga ngaco ya.
semoga selalu sehat
Aksa
Atau
Andres