I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 44 Harus Patuh



Helaan napas panjang terdengar dari Elang, berulang kali dia menolak, tetapi karena statusnya sebagai pegawai, asisten pribadi. Membuatnya dirantai kuat oleh Aksara, mengekor kemana pun Tuannya pergi.


“Nasibmu Elang, sangat tidak baik.” Pria dengan sorot mata setajam elang ini, menyesali dirinya yang tidak bisa melawan apapun perintah Bosnya. Harus menyaksikan Ajeng dan Aksa berjalan berdua, menikmati pemandangan alam hijau di depannya.


“Bos keterlaluan.” Elang menjerit dalam hati.


Aksa membayar mahal salah satu resort, untuk liburannya bersama istri. Tidak hanya itu, Catlin pun turut bergabung. Aksa ingin Ajeng terbiasa interaksi dengan Catlin, mengikis rasa canggung.


Tapi karena wanita itu hobi belanja dan menghamburkan uang, dia lebih dulu terpisah menjelajahi pusat perbelanjaan.


Sehingga menyisakan Elang yang terbakar seorang diri di balik Tuan dan Nyonya.


Jaraknya dengan Aksa hanya satu meter, karena fisik mereka yang berlibur tapi otak dan jiwa terpusat pada pekerjaan. Kegiatan Aksara begitu banyak tidak bisa ditinggal walaupun satu hari. Semua ditangani secara virtual.


Ajeng selalu dekat dengan Aksa, ditatap wajah suaminya yang terlihat berisi, tidak seperti tahun lalu. Tubuhnya kurus dan rona pada wajahnya sangat layu, saat ini semuanya berubah.


Dengan kembalinya Aksa pada keluarga merubah kehidupannya menjadi lebih baik, rumah tangga mereka pun perlahan-lahan kembali seperti awal menikah, hangat dan saling percaya.


“Aksa maaf ya, selama tinggal dengan Ibu dan Bapak, kamu diperlakukan sangat buruk.” Imbuh Ajeng dalam hati.


“Kenapa sayang? Memerlukan sesuatu?” tanya Aksa, menyadari istrinya menatap tanpa berkedip. “Kamu tidak takut mata jadi kering? Ada masalah? Tidak suka tempatnya?” tembak Aksa dengan banyak pertanyaan, bagi Aksa kenyamanan Ajeng nomor satu. Dia begitu menyayangi wanita ini sejak pertama kali bertemu.


“Oh bukan, ini sangat bagus Aksa. Hanya saja, boleh kan begini?” Ajeng menyusupkan tangan ke sela lengan, menyandar di bahu kekar suaminya, mencari kenyamanan. Kata-kata Aksa kemarin siang berputar di kepala, “Sangat bahaya kah Andres, sepupumu sayang?” batin Ajeng, dia memejamkan mata.


Kalau memiliki kekuatan sihir, Ajeng ingin menghentikan waktu. Biarlah seperti ini berdua bersama suaminya, mencegah Aksa pergi lagi.


“Kamu manja ya? Di mana istriku yang ketus dan selalu mengabaikan suaminya?” sarkas Aksa, semenjak pertama kali bertemu setelah berpisah, sikap Ajeng berubah drastis. Sekarang lebih penurut dan menunjukkan sifat aslinya.


“Kamu … aku minta maaf Aksa, bukannya hal itu sudah di bahas? Jangan buat aku malu lagi.” Bibir Ajeng mengerucut, seketika tangannya yang bertengger di lengan Aksa terlepas. Dia tersenyum kikuk, karena Elang turut memandanginya. Asisten pribadi itu tahu bahwa sebelumnya rumah tangga Aksa tidak baik-baik saja.


Ehem


“Bos, mau istirahat atau ...” belum sempat menyelesaikan pertanyaan, Aksa dan Ajeng lebih dulu memotong kalimat Elang.


“Kerja” ucap Ajeng


“Kerja atau istirahat Bos? Mohon berikan jawaban pasti.” Kalau saja ada lubang besar di sekitar resort, sudah dipastikan Elang masuk ke dalamnya, tidak akan keluar selama dua insan di depannya ini berhenti berdekatan.


Tanpa menjawab pertanyaan Elang. Aksa berdiri, tangan kanannya terulur menunggu sambutan Ajeng. “Ayo, jangan diam saja. Maaf ya aku lupa tujuan kita kesini untuk liburan bukan kerja. Dua hari ini milik kita.” Senyum Aksa, tidak menyangka istrinya marah, padahal hanya sedikit menggoda Ajeng.


“Ini pegang sesuka hati, jangan sungkan Nyonya.” Aksa meraih tangan istrinya dan melingkarkan di lengan, berdua meninggalkan Elang yang duduk sendirian ditemani MacBook dan tumpukan kertas.


“Aksa?”


“Ajeng?”


“Kamu duluan, kenapa?” Aksa mengusak rambut panjang Ajeng yang menjuntai, mengambil bagian ujungnya untuk dia mainkan di jari-jari tangan.


Bibir merah mudah Rahajeng terkunci rapat, susah sekali mengungkapkan isi hati. Dia ingin menghalangi suaminya pergi, tidak tahu kah Aksa kalau perasaannya campur aduk?


Sekalipun ada Elang di sisi Aksara, wanita ini tetap khawatir terjadi sesuatu, entah apa itu. Mungkin di luar prediksi.


Tidak bisa kah hidup bahagia bersama, menjalani hari yang baru tanpa dendam tentunya.


“Aksa jangan pergi, kalaupun menemui sepupumu, apa aku tidak boleh ikut sama sekali?” suara Ajeng bergetar, pelupuk matanya dipenuhi kristal bening.


Bagi pria itu, Aksa sangat menyayangi istrinya, tidak main-main menyangkut keselamatan Ajeng.


Aksa tidak akan pernah menempatkan Ajeng pada situasi yang berbahaya, tugasnya melindungi dan menjaga istri. Inilah alasannya tidak membawa Ajeng turut serta menemui Andres. Kalau Andres tahu, pasti mengincar Ajeng karena dianggap sebagai kelemahan Aksara.


“Jangan sayang. Patuhi suamimu, jangan membangkang, ada waktunya kamu ikut denganku kemanapun itu.” Riak di wajah Aksa sangat serius.


Ajeng menganggukkan kepala, tersenyum samar, giginya terkatup rapat, dua bola mata hitamnya masih terus melihat pada manik abu-abu Aksara.


Air mata yang sudah tidak sanggup tertahan lagi, memaksanya menghambur memeluk suaminya.


TBC