
Aji susah payah menelan ludah, alat-alat itu berjajar rapi. Ah iya tertinggal, seorang teman pemilik ruangan ini berjalan mendekat, menyerahkan bor khusus ke tangan Aksara.
“Ini tidak nyata Aji, Aksa itu pengecut. Mana mungkin berani membunuh orang.” Aji membatin, dan parahnya tidak menyesal atas perbuatannya. Dia malah menyesali kenapa membuang waktu dengan banyak bicara omong kosong dengan pujaan hatinya, seharusnya langsung meniduri Ajeng. Ya setidaknya Aji, pemuda kampung tidak mati sia-sia karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Oh terima kasih.” Balas Aksa pada temannya yang berprofesi sebagai Dokter Forensik.
‘Tuan, ini. Aku khawatir dia tidak bisa menahan rasa sakit.’ Tuturnya menyerahkan suntikan obat, untuk melumpuhkan pergerakan Aji.
“Kurang ajar kau Aksa. Aku masih baik hati menawarkan perdamaian tapi kau berbuat nekat. Kalaupun mati, ku pastikan hidupmu tidak tenang. Kedua orangtuaku pasti memburu mu Aksa, ingat itu.” Teriak Aji, rasa takut menjalar ke ujung kuku tangan dan kaki.
Aksa begitu muak mendengar suara berisik Aji. Bayangan rasa takut, tangis Ajeng membuat dada Aksa sesak, ditambah jejak cekikan. Aksa yakin istrinya hampir kehilangan napas, melihat dari bekas yang sangat biru.
“Terlalu percaya diri, siapa juga yang mau membunuhmu.” Aksa mengambil gunting kecil dengan ujung bengkok dan runcing, berkedip pada Aji di bawah sinar lampu. “Dari mana ya? Aku ini tidak pernah kuliah kedokteran, jadi tidak tahu.” Gumam Aksa, ekor matanya melirik tajam pada Aji.
“Jangan dimulai, kau tetap saja bodoh Aksa.” Hina Aji, masih sempat mencibir ketika nyawanya diujung tanduk. Bukannya memohon ampun.
“Ya kau benar aku bodoh, sampai ingin menggunakan ini lebih dulu.” Meraih pisau bedah, dipastikan sangat tajam, dapat merobek kulit sekali sayat.
“Aaaaarrrgh, kau. Si4l@n.” Aji mengerang kesakitan, darah segar mengalir dari pahanya, celananya robek, berubah menjadi warna merah. Aji menggigit kuat bibir bawahnya menahan rasa sakit dari luka yang memanjang. Terdapat celah di sana, kulit yang menganga, lapisan otot merah menjadi pusat atensi Aji.
“SAKIT, AWAS KAU AKSARA.” Batinnya menjerit akan luka yang disebabkan Aksa.
Masih belum memohon ampun atau menyesal? Rasa sakit tidak sampai di sini. Aksa melirik pada kedua tangan Aji, mencocokkan dengan tanda lebam di leher Ajeng. “Kanan atau kiri? Kalau ini sepertinya tidak mempan.” Aksa menatap lekat pada anggota gerak Aji yang telah lancang menyentuh wanitanya. Lantas mengambil gunting yang dia genggam lebih dulu.
Kalau mengikuti hawa nafsu dapat dipastikan telah menancap tepat di dada kiri, tapi tidak semudah itu. Dia hanya pergi tanpa merasakan rasa sakit.
KRAK
“Aaaargh”
KRAK
“Aaaaargh”
Dalam dua kali gerakan, benda itu mampu memutus jemari kanan, kelimanya berjatuhan disertai cairan merah muncrat dan mengalir deras.
Aksa melempar gunting ke atas nampan kosong, hingga berdenting padu. Mencengkram kedua pipi Aji yang kurus. “Ancamanku terdahulu tidak diingat ya? ku bilang jangan pernah menyentuh Ajeng sedikitpun. Kau bukan mencintainya melainkan obsesi, dasar tidak waras.” Hardik Aksa, pada lawannya yang sudah lemas dan gemetaran.
“Kalian, selesaikan dia, jangan sampai mati hari ini. Lakukan sesuai perintahku.” Aksa berjalan menuju pintu keluar, berhenti sebentar lalu menoleh pada Aji. “Akan ku buat kau menjadi sampah sesungguhnya.” Desis Aksa meninggalkan ruangan menyeramkan dan dingin ini.
Sisanya hanya tinggal menunggu kabar dan berita saja mengenai Aji. Lalu masih ada yang harus ia tangani, hanya dengan satu kali panggilan telepon mampu membuat kehidupan orang lain jungkir balik. Di tambah kekuasaan yang dimiliki, ingat kan dia memiliki kekuasaan di Eropa, Asia dan sebagian Amerika? Ya, Aksa menggunakan hal ini mengusik hidup mereka yang telah lancang mengganggunya.
Satu jam perjalanan, Aksa segera turun dari mobil, masuk tergesa-gesa ke dalam kamar istirahat Danang. Bernapas lega mengetahui kondisi Ajeng baik-baik saja, terlelap dan tenang bersama Danang yang tak henti membelai surai hitam Ajeng.
“Aksa? Kamu sudah datang? Aksa, Bapak minta maaf. Tolong jaga Ajeng. Bapak harus pulang, Ibu membutuhkan Bapak.” Tukas Danang, sore tadi Rayana menyampaikan bahwa Maya terjatuh di kamar mandi. Padahal wanita tambun itu pingsan akibat obat yang diberikan Rayana pagi hari sebelum berangkat.
Maya yang memang tidak enak badan, mudah percaya pada putrinya. Menelan pil itu, hingga jatuh tepat di depan pintu kamar mandi.
Selepas Danang pergi, Aksa menggendong istrinya pulang, membawa ke hotel tempat mereka menginap. Ditatap wajah Ajeng yang pucat dan kulit cantiknya ternoda akibat ulah Aji.
“Sayang maafkan aku. Aku janji tidak akan ada lagi yang melukaimu.” Aksa menyatukan keningnya dengan Ajeng, kalau seperti ini mana bisa dia meninggalkan Ajeng sendirian di Indonesia, sementara dua bulan lagi harus kembali ke Swiss. Ya seharusnya Ajeng bersedia ikut, di sana lebih leluasa mengawasi.
“Aksa? Aksa? Jangan pergi lagi.” Ajeng membuka mata, menangis, mengubah posisi menjadi duduk, langsung memeluk suaminya. Tubuh Ajeng tenggelam dalam pelukan hangat, menghirup rakus aroma maskulin Aksara, menenangkan jiwa. “Aku takut.” Cicit Ajeng, menggesek hidung ke dada bidang Aksa.
Aksa tersenyum manis, meskipun Ajeng tidak bisa melihatnya, menepuk punggung, menyalurkan rasa nyaman dan aman.
“Ajeng? Mau kan ikut denganku pulang ke rumah? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini sayang. Maaf, kalau terlalu banyak mengatur.” Lirih Aksa pelan, dia tahu jawaban apa yang akan diberikan dari mulut istrinya, terlihat sekali riak wajah Ajeng berubah sedih.
“Kenapa pindah? Kantor mu di sini juga ada kan? Apa tidak bisa pindah ke sini, Aksa?” Ajeng mendongak, pas sekali bibirnya menyentuh bawah dagu Aksa yang dihiasi rambut halus. Dia ingin ikut sekaligus ragu, yang jelas Ajeng bingung.
Sedangkan Aksa terkekeh pelan, melonggarkan pelukan. Manik abu-abunya bertemu, terkunci pada bola mata hitam Ajeng. Menyelipkan rambut panjang nan lembut itu ke balik telinga, jari telunjuk menelusuri secara vertikal, kening, hidung, sejenak bermain di filtrum lalu turun pada bibir merah muda. Ibu jari Aksa turut menemani jari telunjuk menyentuh lembut benda kenyal yang selalu merajuk.
Kemudian Aksa berucap, “Rumahku di sana sayang, kamu pasti suka, akhir pekan kita kencan di kota atau desa, mungkin juga bisa bulan madu, benar kan? Selama dua tahun menikah, aku tidak memberikan apapun.” Aksa ingat sekali, bahkan tidak ada pesta pernikahan, keduanya dipaksa menjadi suami istri secara mendadak, dia hanya mampu membayar sedikit pada saat ikrar suci diucapkan.
“Mau kan? Hidup denganku, anak-anak kita di sana?” tanya Aksa, masih terus menyentuh bibir Ajeng, jempolnya menekan bagian bawah hingga terbuka sedikit, menampakkan deretan gigi rapi.
“Iya mau.” Jawab Ajeng disertai kepala mengangguk cepat, tanpa ragu membuka mulut dan menghisap ibu jari yang sedari tadi mengusap lembut.
TBC
***
kira kira apa yang terjadi dengan Aji?
makasih atas dukungannya 🙏