
Aksara keluar dari mobil didampingi Elang dan dua orang lain. Penampilan mereka sedikit berbeda dari biasanya, padahal hari ini kesepakatan bisnis antara Andres dan Aksara.
Beberapa orang sniper berada di sekitar gedung. Sejak pagi para pengawal yang memegang senjata itu, telah siap pada posisi dan melaporkan situasi dalam gedung.
Andres pun sama, menempatkan pembunuh andalan untuk menuntaskan adik sepupu setelah kesepakatan selesai. Kalah atau menang, adiknya itu harus lenyap, sebab menjadi batu sandungan untuk memiliki Cwell Group.
Keempat orang ini memasuki gedung bertingkat, interior mewah menyuguhkan pemandangan. Seolah memberi perangkap bagi pengunjung agar terlena pada penampilan, tanpa memedulikan bahaya yang mengintai.
“Silakan Tuan Muda Caldwell, Tuan Andres menunggu di bawah.” Ujar seorang pegawai kepercayaan Andres Zotan. Kalau biasanya tamu disambut hidangan mewah atau diskusi di ruang rapat.
Pria berumur 35 tahun itu menyiapkan bunker, sebagai lokasi terbaik untuk kedua saudara yang saling berseteru.
“Tuan, mohon waspada.” Bisik Elang, kesusahan menelan saliva. Elang hanya tahu jadwal pertemuan di kantor cabang Cwell Group tapi tadi pagi Andres merubah semuanya, tanpa koordinasi lebih dulu.
“Ya, sekalipun dia merampas semua saham, tetap tidak bisa karena aku masih hidup, dan satu lagi Elang. JIka aku terluka atau meninggal di tempat. Pastikan Ajeng hidup aman sampai melahirkan!” kedua manik abu-abu Aksa menatap dalam Elang yang sangat cemas.
“Anak dan istriku harus hidup jauh dari keluarganya, karena Andres tidak akan puas di satu titik.”
“Baik Tuan.” Elang tidak tahu rencana apa yang di susun Andres, sepertinya pria itu tidak ingin ada kebocoran informasi, dan masih ragu akan kesetiaan Elang kepadanya.
Ruangan besar bawah tanah ini sangat sepi, tidak ada suara hembusan napas yang tertangkap telinga. Dua pengawal di tahan, tepat sebelum masuk lift, hanya Aksa dan Elang yang diizinkan masuk ke bunker.
Di atas meja besar seorang pria tengah menyantap gelato, ya Andres menyukai makanan ringan dingin itu. Dia seperti anak kecil, namun kepalanya sangat cerdas merancang segala kejahatan.
“Selamat datang di rumahku, adik sepupu. Apa kabar? Ah salah adik ipar. Kau harus hormat karena aku suami dari kakak iparmu.” Kedua mata Andres masih tampak fokus pada mangkuk di depannya, tapi bibir berbisa mulai menyapa Aksa.
“Duduklah, kau tidak sopan bertamu dengan angkuh. Atau perutmu lapar, mau makan?” kali ini Andres menatap tajam pada Aksara yang berdiri mengamati sekitar.
HAHA
Tawa Andres menggema dalam ruangan, pilihannya jatuh ke bunker memang tidak salah. Di sini, orang-orang Aksara tidak bisa menembus hanya dengan peluru. Semua kendali dipegang oleh Andres Zotan Caldwell.
“Kemari lah, kita mulai kesepakatan. Istriku menunggu di penthouse. Kau juga ingin pulang, benarkan adik? Kau lihat ruangan ini hanya ada kita bertiga. Bahkan aku sendirian, sementara dirimu bersama Elang. Curang kan?” Andres masih sabar dan tenang, menyembunyikan amarah dalam dada yang membara.
“Terima kasih atas waktunya Tuan Andres.” Aksara duduk di ujung, jarak semakin membentang antar sepupu itu.
Masing-masing dari mereka memegang sebuah map, di tangan Aksara bertuliskan investasi yang akan dilakukan oleh Andres pada beberapa anak perusahaan Cwell Group. Sementara di depan Andres, jumlah aset yang dimiliki Aksa, termasuk saham di bursa efek lainnya.
“Elang memang cerdik, rupanya adikku ini sangat kaya raya. S14l@n kau Henry, tidak membagi warisan ini untukku.” Tangannya terkepal di atas meja, otot sekitar leher menegang, rahang tegasnya juga berkedut samar.
Aksa sedikit mengulum bibir, dia senang atas ekspresi kakak sepupunya. Dari sikapnya saja terlihat bahwa apa yang mereka inginkan berbeda.
Wush
Wush
Dua pria itu melempar map, kertas di dalamnya berhamburan jatuh.
“Tidak cukupkah selama ini hidup tenang di rumahmu sendiri? Kenapa mengusik orang lain?” Aksa menyandarkan kepala bersidekap tangan depan dada, dagunya sedikit naik, menampakkan diri bahwa tidak ada rasa takut sedikitpun.
“Lihatlah Aksara, itu semua data aset mu, saat ini beberapa sedang beralih nama menjadi milikku. Kau kalah dan otakmu bodoh. Ah aku akan menjadi ayah yang baik untuk anakmu, ku berikan dia adik yang lucu. Dari neraka kau akan melihat betapa bahagianya aku memiliki istrimu.” Andres sengaja, dia ingin menyiksa adiknya secara verbal, sebelum merasakan sakit perlahan menemui kedua orangtuanya dan Henry Caldwell.
“Elang, berikan kepadaku jantung Aksara. Aku tunggu sepuluh menit! Rahajeng harus melihat organ vital suaminya di tanganku.” Gila, Andres dibutakan oleh dunia hingga tak segan membunuh adik sepupu yang dia lindungi sejak kecil.
“Maafkan aku, Tuan Muda.” Elang berdiri di sisi Aksa, mengeluarkan senjata api dari balik punggungnya.
“Elang, aku percaya. Kau tidak mungkin berkhianat, benarkan? Untuk apa mengikuti pria seperti Andres.” Aksa yakin 100%, sekalipun Elang membelot, itu hanya kamuflase. Dia mengenal Elang sejak kecil, asisten pribadi, sahabat sekaligus kakaknya ini tidak akan mudah berpaling pada hal berbau materi yang dijanjikan Andres.
DOR
“F***. Apa yang kau lakukan hah? Asisten kurang ajar, dasar budak tidak tahu balas budi.” Andres tersungkur, memegang dada kirinya yang terkena peluru dari Elang.
“Maaf Tuan, Anda salah. Aku mengikuti Anda hanya perlu memperoleh surat berharga dan tandatangan Anda.” Tutur Elang menyerahkan bukti berupa peralihan saham 35% atas nama Andres menjadi milik Aksara Kaisar Caldwell. Bukan ilegal, melainkan sah tercatat pada bursa dan kustodian efek.
“Pencuri, kalian curang, hah? Aku tidak akan tinggal diam. Kau pikir aku bodoh?” Andres menarik pelatuk pada senjatanya dan membidik adik sepupunya kemudian Elang. Dua peluruh melesat, hampir mengenai dua pria yang berhasil meraih saham serta aset peninggalan Henry yang dirampas oleh Andres.
Dor … dor
Dua peluru meleset, Aksa menarik Elang untuk tiarap. Tidak semudah itu meruntuhkan kekuatan persahabatan yang sudah solid.
Namun perjuangan mereka tidak terhenti sebab anak buah Andres mengepung, memasuki bunker. Mereka bersembunyi tepat di luar ruangan, dan masuk ke dalam setelah mendengar suara tembakan.
Andres Zotan Caldwell pun menggunakan anti peluru, dia masih sanggup berdiri, berduel dengan adik sepupu yang kini memiliki 90% saham Cwell Group.
“Jangan kau kira aku bisa mati hanya dengan satu kali tembakan.” Andres terkekeh, ini bukan kali pertama dia melenyapkan keturunan Caldwell.
Andres kecil menyaksikan bagaimana ibunya menembak Ayah dari Aksara, lalu kecelakaan pesawat itu akibat sabotase Ibu dari Andres yang sakit hati, karena gagal menjadi Nyonya Besar Caldwell.
Tiba-tiba satu peluru menyambar cepat lengan kiri Elang, darah pun mengucur turun, kemeja putihnya berubah merah dan basah.
“Habisi mereka berdua, aku tidak peduli walaupun sekarang tidak memiliki saham Cwell Group, tapi tanpa pewaris sah, maka semuanya jatuh ke tanganku.” Andres keluar bunker lebih dulu menuju lift khusus.
Meninggalkan baku tembak antara anak buahnya dengan Aksa dan Elang, beberapa dari orang Andres tumbang tapi karena jumlahnya yang banyak, membuat dua pria itu kewalahan.
“Aksa keluarlah, cepat. Bunuh Andres! Istrimu dalam bahaya, dia mengincar Ajeng, menurut rencana, Rayana akan membawa Ajeng.” Ucap Elang menahan sakit akibat peluru yang bersarang di lengannya.
Dor
Satu peluru lagi menembus paha kanan Elang.
TBC