
Danang segera melempar rokoknya, ia tidak terima coffee shop yang baru saja berdiri dikunjungi wartawan. Hal macam apa itu? Sedangkan usahanya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak pernah mendapat kesempatan masuk ke media masa.
Pria paruh baya itu mendengus sebal, bangkit dari kursi depan coffee shop. “Kalian jangan pikir Danang akan mudah menyerah.” Katanya sembari menatap nyalang pada setiap pelanggan yang baru saja menginjakkan kaki ke Well Coffee.
Berbekal internet dan Google, dia mencari artikel mengenal ‘cara menjatuhkan lawan usaha’, picik memang otaknya. Entah terbuat dari apa, hanya ingin menguasai wilayah ini sendirian.
Yakin Danang bisa menjatuhkan lawan hanya dengan alat seadanya? Berharap jangan berhasil.
Kertas putih dan tinta hitam ada di atas meja, Danang mencatat satu per satu langkah apa saja yang harus ia lakukan. Meskipun usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat untuk merebut pangsa pasar tetap utama, demi kelangsungan dapur dan rumah tangganya bersama Maya.
Belum jatuh miskin saja Danang sudah susah mencari makanan, apalagi sampai gulung tikar. Dia yakin hanya menelan angin sebagai hidangan utama.
Maya hanya bisa menghamburkan uang, dan sayangnya suami setengah baik hati ini baru menyadari beberapa minggu belakangan. Hampir semua uangnya habis untuk membeli tas, “Dasar Ibu, memangnya tas itu bisa di goreng?” keluh Danang dalam hati.
Langkah pertama, Danang mulai sesegera mungkin. Coffee Shop miliknya tutup lebih awal, kemudian menyambangi ke seberang sana, dia ingin tahu apa hal menarik selain eksterior dan interior.
Memasuki pintu kaca dengan pinggiran ukiran kayu yang indah dipandang, Danang ternganga. Dari bagian depan saja pengunjung sudah disajikan dengan hal unik. Dan lebih ajaib lagi ada sebuah layar proyeksi transparan yang menunjukan di mana saja letak meja kosong, sehingga pelanggan tidak repot mencari.
“Ide gila siapa ini?” gerutu Danang mengelus dada, biasanya dia hanya melihat layar itu di film aksi tapi sekarang tepat di depan mata. Rupanya sang pemilik menggabungkan teknologi ke konsep coffee shop.
Danang memperhatikan semua pegawai, lebih dari 80% warga pribumi dan yah pasti pemiliknya tidak lain orang ibu kota.
Danang memesan satu gelas Caffe Americano, beruntung satu kursi kosong dekat tangga, tidak perlu membuatnya keluar karena tak akan bisa mengamati apapun selain pemandangan. Dua barista andalannya terlihat senang bekerja di sini, dan … tunggu.
Dua mata Danang menatap jeli pada seorang barista asing yang melakukan atraksi pembuatan kopi. “Ck dia menjual tampang, dasar orang-orang, lebih memilih tempat murahan seperti ini.” Cibiran yang keluar dari bibirnya sangat pelan.
Danang semakin kesal sebab Maya mengganggu, wanita itu menelepon hanya untuk minta uang. Tidak salah dengar? Usaha sedang sepi masih saja minta uang.
“Cepat pulang Pak, jangan lupa bawa makanan. Ibu lapar, Rayana malah asik makan sendirian di kamar. Dua porsi ya Pak, Ibu belum sarapan!”
Suara istri tercinta Danang dari balik telepon sangat meresahkan dompet suami.
**
Sedangkan di komplek perumahan tepatnya depan hunian mewah, suara motor dua-tak mengganggu pendengaran Maya.
Sudah pasti itu Ajeng, siapa lagi yang berangkat dan pulang menggunakan jasa ojek?
Tiga bulan ini Ajeng tidak tinggal bersama kedua orangtuanya, hanya mengunjungi Danang dan Maya ketika akhir pekan dan menginap satu malam.
Semua ini dilakukan demi mempermudah mencari Aksa di luar sana, sepulang dari rumah sakit Ajeng mendatangi beberapa kontrakan dan kos-kosan kecil untuk memeriksa apakah suaminya tinggal di salah satu ruangan itu. Sayangnya masih sama, tidak menunjukkan jejak apapun tentang Aksa.
“Heh kamu datang, bawa apa? Makanan? Atau uang untuk Ibu?” Maya bersedekap dada tepat di ambang pintu.
“Makanan Bu, maaf tidak bisa kasih lebih.” Ajeng memberi satu kantung berisi makanan siap santap, cukup untuk wanita yang telah melahirkannya maan selama dua hari. Gaji Ajeng sebanyak 30% digunakan untuk biaya pencarian Aksa tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapaknya.
“Bagus, jadi anak harus tahu balas budi Jeng. Ibu susah mengandung, melahirkan, membesarkan kamu selain tenaga, uang juga habis banyak. Makanya jangan bikin Ibu dan Bapakmu rugi, kapan kamu gugat cerai itu menantu gembel? Dia juga hilang, masih hidup atau tidak siapa yang tahu.” Ganasnya mulut Maya, ketajaman melebihi samurai.
“IBU … jangan bicara seperti Bu, Aksara masih hidup. Sampai kapanpun Ajeng tidak mau gugat cerai. Begini lebih baik bu.” Ajeng tidak terima mendengar penghinaan ibu kandungnya, apalagi masalah nyawa suami. Sungguh Ajeng tidak ingin terjadi sesuatu dengan Aksa.
Akhirnya Ajeng putuskan untuk pulang ke kos-kosannya di sekitar rumah sakit, dadanya berdenyut nyeri mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Maya, tidak berubah sedikit pun.
“Bayar listrik, Ajeng. Bulan lalu Rayana, masa iya bulan ini kakakmu juga. Berbakti dengan orangtua.” Teriak Maya begitu keras sampai terdengar ke teras depan.
**
Swiss
Di negeri dengan keindahan alam, Aksa dan Elang baru saja selesai meeting di salah satu resort dengan pemandangan pegunungan yang menyejukkan mata. Ya seperti biasa, pekerjaan Aksa mengenal lebih dalam tentang perusahaan keluarganya.
“Apa jadwal kita berikutnya?” tanya Aksa memperhatikan beberapa burung terbang bebas di angkasa.
“Selesai Bos, besok pagi kembali ke mansion atau sore ini? Aku bisa atur jadwalnya.” Tangan Elang terus bergerak di atas layar iPad.
“Besok. Bagaimana progres warung kopi milikku apa mengalami kendala?” Aksa baru saja ingat pada rencananya yang satu itu, telah lama tertunda akhirnya bisa terealisasi. Sebab hari-harinya tidak sepadat beberapa bulan lalu.
Elang menyerahkan iPad berisi laporan penjualan dan tanggapan pelanggan akan puasnya pada menu serta pelayanan Well Coffee , disertai foto pada sosial media.
“Bagus, terus pertahankan, dan … tanganku sudah gatal untuk menerima sesuatu dari seseorang.” Tawa sinis Aksa, ya tidak ada salahnya kan memberi kejutan kepada mertua angkuh itu. “Lalu, keuangannya bagaimana? Apa dia masih bisa bertahan?” lanjut Aksa, ingin mengetahui sangat detil.
Walaupun jauh, Aksa memiliki kaki dan tangan luas, hingga mudah menggerakkan orang-orang yang memang membutuhkan penghasilan.
“Kau itu seperti virus Aksa, mematikan secara perlahan.” Elang terkekeh dengan sahabatnya yang benar-benar ingin memberi kejutan untuk mertua.
“Bukankah ini semua ide kita berdua? Seenaknya saja menyalahkan bosmu.” Aksa memukul kepala asisten yang lebih dari sekedar rekan kerja.
“Iya tapi semua memang sudah rencanamu, benar kan? Tidak apalah aku juga ingin melihatnya menangis, kau harus ingat apa yang telah mereka lakukan, jangan mudah memberi maaf. Mereka saja tidak pernah menganggapmu keluarga, jadi untuk apa memberi maaf?” hasut Elang, ia ingat bagaimana Aksa terjatuh dari atap, masuk rumah sakit akibat diusir dengan tuduhan hina.
“Aksa, kamu tidak khawatir dengan A …” belum sempat Elang menuntaskan pertanyaannya, mereka berdua dikejutkan dengan suara seseorang.
“AKSARA, benarkah itu kamu Aksa?”
TBC
***
jangan lupa ya kakak kakak terus dukung sampai akhir
5 orang teraktif dapat hadiah dari aku
😁🙏
terima kasih