
“Aksa?” panggil Ajeng, meneguhkan hati, masuk ke dalam ruangan diikuti Rayana. Bola mata Ajeng melirik tajam pada Catlin yang tampak santai berdiri di sisi suaminya.
Aksara bangkit, merengkuh pinggang istrinya, memperkenalkan pada Catlin. “Sayang ini Catlin Lucero, dan Catlin, ini Ajeng istriku.” Aksa tersenyum ramah kepada keduanya.
Menurut Ajeng ini sangat memuakkan, bisa-bisanya Aksa berduaan di dalam ruangan bersama wanita lain, posisi mereka sangat dekat.
“Ajeng” menerima uluran tangan Catlin, dia harus mempertegas statusnya kepada semua orang, menyingkirkan perempuan manapun yang hendak merebut Aksa.
“Aku Catlin, wah pantas saja Aksa betah di sini. Bidadarinya saja secantik ini, dan siapa di belakangmu itu?” tunjuk Catlin.
“Kakakku.” Jawab Ajeng, melepaskan tangan Catlin, berdiri di samping suaminya, menyampaikan sesuatu.
Dengan gerakan cepat Rayana menangis memohon ampun kepada Aksa, “Aksa maafkan kakak, selama ini salah, Kakak menyesal. Maaf Aksa.” Rayana lancang mendekat bahkan memegang tangan adik iparnya.
“Ck menjijikan, aktingnya kurang bagus.” Gumam Catlin mencebikan bibir, merotasi dua bola matanya. “Aksa, Ajeng. Kalian membutuhkan bantuanku? Jangan sungkan aku siap melakukannya.” Catlin meregangkan otot tangan, meraih tasnya yang tersimpan d atas sofa.
Aksa mengangguk kecil, kemudian melepas tangan Rayana, “Kau tetap dimutasi Rayana. Jangan harap bisa pulang ke sini.”
Tatapan Rayana berubah menyeramkan, dia tidak mau usahanya sia-sia. Aksa harus membatalkan perintahnya. Sangat tidak etis, pindah karena masalah pribadi.
“Cat, bawa dia keluar.” Ucap Aksara penuh penekanan.
“Ok siap Bos, selamat menikmati waktu kalian, aku keluar dulu ya, maksudnya kami.” Tanpa aba-aba, Catlin mengerahkan tenaga, menarik kerah baju belakang Rayana, menyeretnya keluar ruangan.
Di luar ruangan, Rayana mengamuk berusaha melepaskan diri, tapi selalu gagal. Tenaganya kalah jauh dari Catlin. “Kamu siapa hah? Wanita murahan kan? Mau merebut adik iparku?” berang Rayana, tidak hanya tubuhnya yang memberontak tetapi mulutnya mengeluarkan kata-kata pedas.
PLAK
Tangan kanan Catlin Lucero menyentuh pipi Rayana, “Kamu seorang dokter kan? Seharusnya kamu membantu orang banyak, bukan membuang waktu melakukan akting murahan. Enak saja menyebutku perebut suami orang, masih banyak lelaki di dunia kenapa harus menyukai suami orang, kurang kerjaan.” Lanjutnya dalam hati, tetap menarik paksa Rayana, sampai heels dokter cantik itu patah.
“Sepatuku ... kau lepaskan aku.” Jerit Rayana semakin kuat, akhirnya bisa melepaskan diri setelah dipermalukan oleh Catlin.
“Kau lihat balasanku. Dasar murahan.” Teriak Rayana, sakit hati, datang baik-baik tapi sambutan adik iparnya sungguh luar biasa.
“Nona apa yang anda lakukan di sini?” Elang memberi saputangan untuk menghapus peluh di kening Catlin.
“Melakukan tugas pertamaku, ternyata dia sangat menyebalkan. Tidak habis pikir Aksa memiliki kakak ipar monster.” Catlin menyeka keringatnya dan berjalan bersama Elang, kembali ke ruangan Presiden Direktur.
Elang geleng-geleng kepala, Bosnya memiliki ide tak terduga untuk menjaga Ajeng dari serangan orang terdekat. “Seharusnya anda panggil pengawal, jangan lukai tangan anda Nona.”
“Anggap saja latihan, tanganku sudah lama tidak menyakiti orang jahat.” Catlin tersenyum sinis sekaligus bahagia bisa mengusik Rayana. Mulai hari ini sampai dua minggu ke depan, dirinya menemani Ajeng di manapun, termasuk rumah dan tempat kerja.
Sementara di depan pintu utama gedung
Rayana keluar gedung tanpa menggunakan alas kaki, dia juga terpaksa mencari mesin ATM di sekitar, kakinya panas menapaki aspal. “Tahu gini aku bawa mobil sendiri atau menemui Aksa di rumah, hah tapi bertemu dengannya di rumah juga susah, pengawalnya banyak.”
Sial sekali Rayana tidak memiliki uang cash untuk ongkos pulang, ponselnya juga kehabisan daya. Sepanjang jalan menuju mini market, bibirnya tidak berhenti mengoceh, mengumpat, melontarkan banyak sumpah serapah.
Wanita ini juga terpaksa merelakan diri pulang menggunakan bus, berdesakan, berdiri lebih dari satu jam. Kakinya hampir mati rasa, “Kurang ajar kamu Ajeng, sekalipun aku sudah pindah, hidup kamu tidak akan tenang, hah.” Rayana menggunakan jasa ojek untuk sampai ke depan rumah.
Belum juga membuka pintu, disambut pertengkaran kedua orangtua, tidak jauh seputar materi. Akibat coffee shop tutup, Danang terpaksa berhemat selama dirinya sakit.
“Uang lagi.” Rayana menghela napas, menutup telinga kemudian masuk kamar. Menatap kamar sempitnya yang lumayan nyaman karena ada barang mewah. Tidak bisa dia bawa semua, Rayana memukul guling dan bantal sebagai pelampiasan emosi. Pindah ke desa terpencil sama sekali di luar prediksinya.
Rayana memasukkan pakaian ke dalam koper, dengan ini gagal sudah kesempatan untuk meraih gelar spesialis. Uang yang telah masuk tidak bisa di tarik kembali, dia sedikit bernapas lega sebab orangtua Aji tidak mengetahui perihal pembayaran biaya kuliah.
“Untung saja Aji masih sakit, sementara aku aman. Jangan sampai dia sembuh, dan bicara ke semua orang.” Menutup koper besarnya, memeriksa pesan dari salah satu petugas yang membantu akomodasi.
Dia ingin menolak tapi izin praktiknya menjadi taruhan, tentu Rayana mendapatkannya susah payah, menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
“Tidak boleh menyerah, hidup tidak berakhir hanya dengan mutasi. Huuh.” Rayana menghela napas, menyumpal telinga dengan earphone, benci mendengar suara ibunya yang berteriak di luar kamar.
**
Perjalanan yang ditempuh Rayana cukup jauh, enam jam menggunakan mobil. Jangan bayangkan kendaraan mewah dan dilayani.
Kendaraan roda empat itu tanpa pendingin suhu, hanya mengandalkan angin alami. Beberapa kali mogok di tengah jalan, mengharuskan Rayana keluar untuk mendorong mobil.
Perutnya lapar, dibarengi rasa pegal pada kaki, tubuhnya pun berkeringat. Bau badannya sangat tidak sedap, bercampur debu dan asap knalpot.
"Ibu ..." tangisnya mengepalkan tangan, Rayana tidak terbiasa hidup susah apalagi banjir keringat.
"Ajeng awas kamu ya, ku hancurkan rumah tangga kalian." desis Rayana dalam hati.
Dirinya semakin mencelos mendapati rumah tinggal jauh dari kata layak. Atapnya hampir rubuh, dindingnya masih terbuat dari bilik bambu.
"Sial"
"Ini bukan tempat tinggal saya, benar kan Pak?" Rayana menolak kebenaran, mencari tahu jawaban dari pria tua yang mengantarnya.
Dia melihat ke dalam, seketika mual dan muntah. Baru rumah yang sama sekali tak pernah ada sirkulasi udara, pengap. Hanya ada satu lampu penerangan di dalam. Selebihnya menggunakan lampu minyak.
"Kamar mandinya di mana Pak?" Raya semakin masuk ke dalam menelusuri ruangan satu per satu.
'Ini dokter kamar mandinya, maaf sederhana'
"APA? DIA BILANG INI SEDERHANA? Ini kamar mandi binatang." Hinanya tertahan di bibir.
Tidak ada bak mandi atau kran, hanya sumur lengkap dengan ember tergantung. Jangan bayangkan mesin pompa air, karena kapasitas listrik tidak memadai.
"Ibu, Bapak ... aku mau pulang." Rayana luruh di atas lantai, menangis. Pandangannya kuga tertuju ke arah dapur, jangankan kompor listrik, kompor gas juga kosong. Semua sangat tradisional, hanya kayu bakar berjejer rapi.
TBC
**
maaf ya tidak ada pelakor 😬🙏 Catlin baik koq berteman dengan Ajeng.
Ditunggu dukungannya 🙏