
“Jadi begitu ya? ummm … apa dia tidak mau pulang dan menyerahkannya secara sukarela?” tanya pria yang sedang bermain di atas papan seluncur longboard, di tengah jalan diapit oleh dua pegunungan dia berdiri, jongkok, miring kiri dan kanan menyesuaikan keseimbangan. Bibirnya bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
“Hah aku penasaran, kirimkan fotonya.” Wajahnya berubah serius, sorot kedua matanya tajam, dada kembang kempis terbakar amarah.
Seketika papan seluncur itu terhenti mendadak, pria berusia 35 tahun melompat dan berputar di udara. Kedua kakinya mendarat sempurna di atas jalan mulus.
‘Tuan, apa anda ingin kembali ke hotel?’
“Tidak. Apa sudah ada kabar darinya? Katakan di mana Aksara sekarang?” membuka pakaian atasnya dan melempar begitu saja ke dalam kantung, lalu mengganti dengan kaos yang diberikan asisten pribadi.
Dia masuk ke dalam mobil, memeriksa MacBook, kiriman email dari seseorang yang sangat penting. Antara mereka sudah terikat kesepakan kuat.
“Bagus, Elang memang partner luar biasa. Ku tunggu dia terkena serangan jantung mendadak. Bagaimana ya mengetahui orang terdekatnya tunduk di bawah kakiku? Aku ingin menguburnya sendiri dengan tanganku. Setelah itu apa yang menjadi miliknya beralih atas nama Andres, termasuk istrimu, Aksara” Menatap kedua tangan kekarnya dan mengepal kuat, sepuluh kuku menancap pada telapak tangan yang tertutup rapat itu.
“Sambungkan aku dengan Elang, besok aku sendiri yang akan memberi kejutan untuk adik sepupu.”
**
Pukul delapan malam, Aksa menunggu Rahajeng kembali ke resort, istrinya pergi lebih dari lima jam, tidak sendiri melainkan bersama Catlin.
Wanita berambut pirang itu menculik Ajeng, membawanya singgah dari satu toko pakaian ke toko lain. Merubah penampilan Ajeng menjadi sangat berbeda berbanding terbalik dengan kepribadian istri dari Aksara.
Melakukan banyak perawatan tubuh, mewarnai rambut Ajeng, membeli peralatan dan perlengkapan mempercantik diri, dari ujung rambut hingga kaki.
“Ke mana Catlin sebenarnya? Awas saja kalau dia mengajari istriku macam-macam.” Satu jam juga Aksa selalu berdiri, keluar masuk pintu utama resort. Gatal ingin mencari dengan tangannya sendiri.
Dua belas pengawal yang membuntuti sama sekali tidak bisa dipercaya, sedari tadi jawabannya hanya ‘sedang dalam perjalanan’.
Bergesernya jarum jam, Aksa semakin frustasi. Da sangat takut terjadi sesuatu kepada istinya, gegas kembali ke kamar mencari kunci mobil, tapi langkah lebar Aksa terhenti.
“Tuan Muda mau kemana ini sudah malam?” tanya Elang, terkejut Aksa pergi tanpa memberitahunya lebih dulu.
“Ajeng belum pulang. Selesaikan pekerjaan mu Elang. Tidak perlu khawatir!” menepuk bahu Elang, kembali pada tujuannya utamanya mencari Rahajeng.
Tepat sebelum membuka pintu mobil, iring-iringan kendaraan masuk ke pelataran resort.
Ajeng dan Catlin keluar, tertawa puas mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Suara Catlin sangat lantang mengatakan, jika ada seorang pria yang nekat berkenalan dengan Ajeng tapi berakhir patah hati.
Secara terang-terangan Catlin menyatakan bahwa Ajeng, wanita milik Presiden Direktur Cwell Group, mendadak pria itu berubah pucat. Menjadi bahan perbincangan Ajeng dan Catlin.
“Kamu lihat kan Ajeng, wajahnya lucu, pelajaran kecil untuk pria yang gemar menggoda wanita lain, padahal di sisinya sudah ada anak.” Catlin tertawa puas, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya seorang Nona Muda Lucero.
“Ah, aku ingin tahu apa reaksi Aksa mengetahui istrinya sangat berbeda, uhh pasti menggemaskan Ajeng, hah aku ingin menikah secepatnya. Tapi sayang belum menemukan jodoh.” Menunjukan deret gigi rapi dan bersih, menyentuh tengkuk yang mendadak panas.
Ehem
Sontak dua wanita yang larut dalam pembahasan tidak penting itu menoleh, mendengar seseorang berdeham tepat di belakangnya.
“Selamat malam Tuan Aksa, aku permisi. Terima kasih bersedia meminjamkan istrimu, aku sangat senang. Maaf salah, selamat bersenang-senang.” Catlin menghilang mengandalkan kecepatannya seperti manusia kilat.
Sepang suami istri dibuat membeku dengan tingkah Catlin di luar batas normal, wanita aneh yang selalu tersenyum sepanjang hari, melupakan jati diri sebagai salah satu pewaris keluarga Lucero.
“Sayang, kamu?” Aksa menatap penampilan Ajeng berubah 180° , warna rambutnya coklat gelap, kuku cantiknya dipoles sangat baik.
“Iya semua ini karena Nona Catlin. Ah kalau kamu tidak suka, besok aku kembali lagi ke salon, atau aku bisa mewarnai rambut sendiri dengan hitam.” Ajeng sangat takut suaminya marah. Selain merubah fisik, dia juga banyak menghabiskan uang Aksa, hanya untuk membeli pakaian dan kelengkapannya. Semula membeli sepatu dan tas tapi Catlin mengambil sesuka hati, membungkusnya untuk Ajeng.
“Jangan! Jangan jadikan penampilan masalah besar. Tadi aku dengar ada pria yang mendekati ya? Siapa? Di mana? Kapan? Dia menyentuhmu? Apa dia mau kehilangan gigi?” Aksa geram, dia begitu posesif kepada Ajeng. Tidak ada yang boleh mengganggu istrinya sedikitpun.
“Eh, sudah ditangani. Tidak ada sentuhan fisik sama sekali, kamu tenang ya. Sekarang kita ke kamar istirahat sudah malam.” Tutur Ajeng lemah lembut.
Aksa memang tidak main-main dengan kata-katanya, siapa pria yang berani mengusik Ajeng maka harus siap mendapat hadiah pukulan ringan atau seperti Aji.
Cukup sudah Aji korban kegilaan Aksa, semua yang dilakukan terhadap pemuda itu tidak berbelas kasih. Ayahnya masuk penjara, usaha toko bahan bangunan morat marit, dan Aji hidup ketergantungan tidak bisa berdiri sendiri.
“Kamu istirahat duluan, aku ada urusan.” Aksa melepas rangkulan tangan istrinya dan memutar tubuh, semakin mendekati mobil.
“Eh Aksa jangan! Umm … memangnya kamu tidak merindukan aku? Lebih baik menjalankan misi yang lain, membuatnya hadir lebih cepat, setuju kan, sayang?” melupakan rasa malu dan menebalkan kulit wajah, menempatkan partisi di kiri dan kanan agar matanya fokus melihat ke depan bukan ke samping.
Wanita ini berjinjit, mencoba mensejajarkan tubuh. Ajeng menatap dalam manik abu-abu Aksara, mengalungkan kedua lengan di leher, ****** bibir yang terlihat berkedut tipis itu.
“Jangan pergi ya.” Ucapnya dengan napas terputus-putus. Sedetik kemudian, kaki Ajeng tak menapak, berada dalam gendongan suaminya.
“Kita harus pergi berdua ke satu tempat.” Sebelah mata Aksara mengerling, jangan lupakan seringai yang tercetak jelas di wajahnya.
Aksa juga menyampaikan pesan pada Elang, tidak mengganggunya sampai besok pagi.
TBC
**
Adakah yang sudah mudik? Hati-hati di jalan ya kakak semua 🙏😇