I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 38 Yang Terjadi Padanya



“Aksa, lepas geli tahu.” Ajeng tertawa di atas pangkuan suaminya, pagi ini dia membantu Aksa mencuci rambut, mengeringkan dengan hairdryer. Tapi tangan kekar Aksara tidak bisa diam, menggelitik pinggang serta perut Rahajeng.


“Akhirnya aku bisa dimanja lagi sama istri. Ini keempat kali ya kamu bantu aku cuci rambut.” Kepala Aksa menyandar pada dada Ajeng sambil memejamkan mata. Momen bahagia di rumah mertua, ketika baru menyatakan perasaan satu sama lain. Tapi tidak berlangsung lama, sebelum Maya, Danang dan Rayana gencar menghasut, mengusik rumah tangganya dengan Ajeng.


“Maaf ya Aksa, semua ini salah aku.” Cicit Ajeng melemah, menghela napas, lalu tersenyum kaku mengingat hanya bisa menyusahkan suaminya saja.


“Oh iya, kemarin kamu ke mana? Apa … umm, bertengkar dengan Aji? Giginya copot lagi?” tanya Ajeng polos. Dia membayangkan bagaimana penampilan Aji kehilangan seluruh gigi. Mendadak tua sebelum waktunya tiba.


Aksa menengadahkan kepala, menekan cukup kuat hidung Ajeng sampai merah. “Huh sakit Aksa, kamu mau melukai aku?” berang Ajeng, terkejut mendapat serangan mendadak dikala mengingat Aji.


“Jangan memikirkan pria lain, apalagi manusia bodoh, Aji. Aku cemburu Ajeng! Sepertinya kamu harus aku rendam dalam kolam untuk menghapus jejak tangan pria itu, mau?” tanya Aksa dingin, menurunkan Ajeng dari pangkuan dan bergegas keluar kamar mandi.


Demi apapun Ajeng pikir suaminya serius, lihat saja sekarang Aksa menekan layar ponsel mengirim pesan singkat, bisa jadi mencari kolam ikan atau kolam berisi reptil untuk Ajeng.


“Eh Aksa, maaf. Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan Aji. Serius.” Panik Ajeng mengacungkan dua jari di depan hidung mancung suaminya.


“Hem.” Tanggapan Aksa yang membuat Ajeng bingung sekaligus takut.


Ajeng pun menoleh pada gawai, berkedip dan bergetar terus menerus, bukan Maya atau Danang. Melainkan rekan sesama perawat, suaranya begitu panik dan ketakutan. “Iya hari ini aku masuk pagi, ada apa? Di mana? Kecelakaan?” tanya Ajeng, dua bola matanya melebar mendengar berita luar biasa.


Wanita itu langsung membalik, mendekati Aksara yang sibuk mengancingkan kemeja. Sebelum bicara, Ajeng menghirup oksigen sangat banyak. “Aksa? Aji, dia ada di rumah sakit, kecelakaan mobil.” Suara pelan, menunggu jawaban suaminya yang sama sekali tidak terkejut.


“Oh, baguslah. Kamu hari ini jangan masuk, ambil libur! Ikut aku ke kantor. Sebaiknya mulai mengundurkan diri sebelum ikut aku pulang, ya terserah juga. Masih ada waktu satu bulan lebih, yang pasti tepati janji kamu, patuh kepada suami.” Tegas Aksa tak terbantahkan, dia pun tidak peduli akan nasib Aji pagi ini. Semua berjalan mengikuti arus saja.


“Apa katanya bagus? Jangan-jangan maksud Aksa kemarin, aku tidak boleh ikut karena ...” Ajeng menggantung kalimatnya dalam hati, dia melirik suaminya lalu mengalihkan pandangan pada ponsel.


“Sayang, jangan lama, hari ini Elang belum masuk kerja, aku sedikit sibuk, kita tidak boleh terlambat.” Aksa mengusik rambut panjang istri yang menjuntai rapi nan indah.


“Iya Aksa aku ikut. Sebentar ya ganti baju dulu.”


**


Sementara di rumah sakit, Ibu Aji menangis histeris melihat putranya dalam keadaan mengenaskan.


Nasibnya sial sekali sejak tadi malam. Suaminya di tahan pihak kemananan atas kasus suap dan penyelundupan barang mewah. Belum lagi sengketa tanah warisan keluarga, sampai sanak saudara membawa ke jalur hukum.


Ancaman pengambilan aset pun menghantui ibu satu anak ini, dia cemas. Kalau suaminya di tahan, siapa yang bisa membantu merawat Aji dan membiayai pengobatan, sedangkan toko bahan bangunan sedang sepi, omsetnya menurun drastis. Pegawai kepercayaan juga mendadak keluar.


“Ya ampun Aji, kenapa kamu bisa seperti ini. Tolong calon suami kamu Rayana. Ibu mohon jangan tinggalkan Aji dalam keadaan apapun.” Tangisnya memeluk erat calon menantu.


“Apa? Jangan tinggalkan Aji? Kupingku masih berfungsi kan? Ih Aku punya suami cacat? Malu ah, pasti hidupnya jadi benalu sampai mati.” Rayana lebih baik mencari pria tua kaya daripada harus merawat Aji.


Aji didiagnosa mengalami kelumpuhan saraf, bibirnya bengkok, tidak bisa menjawab pertanyaan apapun, hanya telinga dan matanya masih baik-baik saja.


“Menyesal juga aku, kenapa harus ada kesepakatan dengan Aji, hah. Pokoknya pernikahan ini harus batal.” Rayana menyingkirkan calon ibu mertua yang memeluknya erat.


“Kenapa Rayana? Jangan buang Aji ya, dia masih punya warisan tanah dan bangunan toko. Kalau anakku cacat, perempuan mana yang mau menikah dengannya? Danang dan Maya harus aku paksa.” Lanjutnya dalam Ibu Aji, apapun yang terjadi Rayana harus menjadi menantunya. Tidak mau menanggung beban atas sakitnya Aji seorang diri.


“Bu, permisi. Rayana mau buka praktik.” Melengos begitu saja dari hadapan calon mertua, sama sekali tiada rasa iba terhdap calon suami yang kini terbaring penuh perban. “Aku masih muda, cantik dan karirku bagus, masa punya suami benalu, bisanya diam di rumah saja. Heh mimpi buruk.” Rayana mendengus kesal.


Seharian ini juga sama sekali tidak menjenguk Aji di ruang perawatan, bertanya kondisinya pun tidak. Wanita itu hanya sibuk belanja online dan mencari mangsa baru baik pria lajang atau beristri.


Rayana keluar rumah sakit dengan perasaan senang, setelah berasil berkenalan dengan seorang pria kaya raya, menurutnya.


Gadis itu tidak tahu malu, sama sekali tak berterima kasih, calon suaminya yang kini terbaring di atas brankar telah membayar biaya awal kuliah spesialisnya.


**


Di rumah sakit, Ibu Aji membantu putranya minum dan makan, berdecak kesal sebab makanan selalu jatuh mengotori kasur dan pakaian.


“Aji, ibu mau istirahat. Kamu makan saja sendiri, menyusahkan.” Membanting piring berisi bubur ke atas meja, lalu meninggalkan putranya seorang diri di dalam ruangan.


Aji hanya bisa menggerakkan sedikit kepala, sedih sekali, ibu yang sangat disayangi tidak mau menemani disaat dirinya susah. “Semua ini karena Aksa, hah. Kenapa tidak membunuhku saja.” Jerit Aji dalam hati.  Apa mulai menyesal dan bersalah? TIDAK.


“Aksa, kamu jangan senang dulu. Aku masih punya uang, harta. Bisa kembali normal, aku pasti merebut Ajeng. Awas kamu Aksara.” Urat-urat di sekitar leher menegang, wajahnya merah, dua mata melotot tajam. Aji melirik pada piring, satu lengannya mencoba meraih, tapi sama sekali tak bergerak.


“Aaaarghhh, seharusnya ku singkirkan sewaktu dia miskin. Ini akibatnya Aji terlalu meremehkan orang. Hah.” Lagi-lagi dalam hati meluapkan seluruh amarah.


“Kemana Rayana? Kenapa dia menghilang? Semoga tidak lupa dengan janjinya untuk memisahkan Aksa dan Ajeng.”


“Kalau dia sampai berkhianat aku seret ke dalam lubang penderitaan kau Rayana.”


Dia tidak tahu jika Ayahnya terlibat kasus berat, ya Aji mengandalkan kedua orangtuanya. Terutama sosok Ayah yang memegang peran penting di kota ini.


TBC


***


ditunggu dukungannya like dan komentar. Gift dan vote boleh sekali 🙏😁