
Sore ini Danang menanti dengan harap-harap cemas, bukan tanpa alasan. Sudah lebih dari tiga puluh menit dirinya duduk manis bersama surat-surat tanah tapi pembeli belum juga datang.
Kekhawatirannya semakin bertambah, nomor telepon pembeli tidak bisa dihubungi. Padahal dia sudah menolak beberapa orang, yang ingin bertemu dengannya membahas masalah tanah.
Danang hanya setuju pada satu pembeli, tidak ada penawaran harga, tidak ada cek surat lebih dulu tidak seperti yang lain. Sudah jelas dijual dengan harga murah di bawah nilai pasar, sebagian dari mereka tetap menawar, tentu Danang tidak mau rugi.
“Heh di mana orang itu? Dia pikir aku ini apa dibuat menunggu lama. Pembeli tidak tahu diri.” Geram Danang, pegal duduk sejak tadi lalu memilih menutup setiap jendela, menurunkan tirai, mulai menyalakan lampu depan coffee shop-nya.
Bertepatan dengan satu kaki melangkah keluar, Danang terkejut akan supercar merah mengkilat menyilaukan kedua matanya. Kira-kira pantulan dari mana? Ini sudah sore, sekilas isi kepala Danang.
Mulutnya terbuka lebar, dia belum pernah melihat kendaraan roda empat mewah, bahkan pintunya saja terbuka tidak wajar. Danang terkesiap memperhatikan plat mobil. “Apa benar?” tanyanya dalam hati, tapi tidak percaya.
Pantofel hitam, dengan celana bahan hitam, yang sudah jelas rancangan designer, khusus bagi para bangsawan dan keturunan Raja itu mengalihkan pandangan Danang. Ditambah pria tampan turun dari dalam mobil, kacamata hitam menghiasi penampilannya.
Danang tergagap, ternyata calon pembelinya orang asing, kini bingung bagaimana berkomunikasi dengan orang itu.
“Mr Danang, aku Elang.” Elang mengulurkan tangan, menggunakan bahasa yang bisa dimengerti Danang walaupun intonasinya sedikit aneh.
Tidak lama lima orang pria berpakaian hitam berjaga di depan. Salah satu dari mereka membawa uang satu milyar untuk membayar tanah. Lalu seorang pria paruh baya, warga lokal yang bertugas menjadi perantara antara Elang dan Danang.
‘Tuan Danang, Bos kami Aksara Kaisar Caldwell berminat membeli tanah anda. Kami telah sepakat dengan harga, dan ini surat-suratnya.’
“Aksara?” gumam Danang, teringat akan menantu sampahnya. Ternyata nama Aksara pasaran sekali, hingga Danang sempat menyangka bahwa pemilik mobil itu adalah Aksara, menantunya yang hilang.
Melihat riak di wajah Danang begitu tenang, Elang tersenyum tipis. Dia heran kenapa bisa orangtua ini tidak mengetahui nama belakang Aksara?
Baiklah, Aksa pergi meninggalkan nama keluarga dan hidup hanya dengan nama Aksara yang dikenal banyak orang.
“Ok ini uangnya, jika anda tidak percaya akan jumlahnya. Silahkan hitung di mesin yang telah kami sediakan.” Gurau Elang, benar-benar membawa mesin penghitung uang lengkap dengan detektor uang palsu.
Bodohnya Danang, mengikuti semua saran Elang.
**
Well Coffee
Elang tertawa puas mengingat wajah Danang yang menghitung satu per satu gepokan uang, tidak sia-sia meminjam mainan kecil itu dari Bank.
“Apa yang membuatmu senang?” tanya Aksa, menginjak kaki asisten pribadinya cukup kuat dan seketika terdengar erangan kuat.
“Ampun Bos. Maaf Tuan Muda. Baiklah aku akan mulai menghubungi arsitek untuk mengirim desain bangunan. Apa kali ini atas nama Ajeng juga? Hah wanita itu sangat beruntung sekali bisa mendapatkan hati Tuan, seandainya aku wanita pasti ku rebut kau Aksa.” Kelakar Elang seraya mencatat keinginan Tuan Muda Caldwell untuk mendirikan rumah sakit ibu dan anak, di atas tanah yang baru saja dibelinya.
“Jika kau wanita, aku orang pertama yang melemparmu ke laut.” Aksa mengibas tangan di depan hidung mancung Elang.
Aksa mengambil cermin dan menyentuh rahang yang ditumbuhi rambut-rambut halus. “Bagaimana penampilanku? Aku akan menemuinya. Kau, kembalilah ke hotel, bawa mobil. Aku pulang dengan taksi.” Aksa beranjak dari posisinya berjalan menjauhi Elang.
“Dasar burung, iya aku tahu.” Sahut Aksa, untung saja mereka ada di lantai tiga, sehingga tidak mengundang perhatian dari pada pengunjung coffee shop.
Sebelum pergi, Aksa mengganti pakaiannya dengan baju kumal dan celana sobek. Menggunakan jasa ojek, dia mengunjungi rumah sakit, semua jadwal Ajeng dapat dengan mudah Aksa ketahui.
Tetap ya Aksara kemanapun pergi diikut pengawal, setia mengekor dibelakang ojek.
**
Aksa menunggu istrinya di depan pintu IGD, rasanya seperti bertemu Ajeng pertama kali sebelum menikah. Wanita itu berhasil mencuri perhatian seorang Aksa, ajaibnya rasa luka dan sedih di dalam hati karena kakeknya meninggal perlahan memudar, seiring berhubungan dengan Ajeng.
Perawat cantik, rambut panjang terikat rapi, lengkap menggunakan masker dan sarung tangan keluar. Mendapat kabar dari seorang petugas jika ada tamu yang menunggunya, semula Ajeng malas menanggapi, dipikir Aji. Daripada dihantui rasa penasaran lebih baik langsung bertemu.
Helaan napas panjang membuat masker bergerak, perlahan bola mata hitam bergulir ke atas menatap pria jangkung dengan topi, satu hal yang sangat disadari, pria itu memperhatikan Ajeng.
“Ajeng? Sayang?” lirih Aksara, melengkungkan senyum.
Sontak perawat cantik itu melepas kedua sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah, menghambur memeluk Aksa. Setelah enam bulan sosok yang dirindukan datang dan ini bukan khayalan semata.
“Aksa, ini benar kamu. Ini nyata.” Hampir saja Ajeng memekik girang. Namun lirikan Aksa menyadarkannya akan situasi mereka di depan pintu IGD.
“Kamu lembur? Belum makan, kan? Ini untukmu.” Aksa menyerahkan satu box makanan ke tangan istrinya.
Tubuh tinggi Aksara sedikit membungkuk, mensejajarkan dengan wajah istri yang hanya sebatas bahu. “Hey, makan dengan baik. Terima kasih sudah mencariku sayang. Aku baik-baik saja, mulai besok jangan lembur. Kamu harus cukup istirahat.” Ucap Aksa sembari merangkum kedua pipi Ajeng.
“Aksa kamu mau istirahat? Kosan aku di belakang rumah sakit.” Telunjuk Ajeng mengarah ke belakang tubuhnya.
“Satu lagi Ajeng. Untuk saat ini jaga dirimu dengan baik, aku … memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku harus pergi, maaf sayang sekarang belum saatnya kita bersama.” Lanjut Aksa dalam hati.
Siapa juga yang mau berpisah dari pasangan? Tidak ada kan.
“Kamu kerja di luar kota? Aku … aku bisa ikut Aksa, jangan pergi lagi.” Suara Ajeng tercekat di tenggorokan. Cukuplah Aksa meninggalkan selama berbulan-bulan jangan sampai pergi lagi.
Namun generasi ke empat dari keluarga Caldwell itu harus menahan diri, sebab rencananya belum selesai. Apalagi dengan statusnya saat ini, bisa-bisa Maya dan Danang mendadak berubah seperti malaikat berhati iblis. Dia juga tidak ingin Ajeng dimanfaatkan oleh kedua orangtuanya.
Mengurangi kecurigaan, Aksa kembali ke hotel menggunakan ojek yang menunggunya di depan rumah sakit.
Ajeng setia menunggu sampai kendaraan roda dua benar-benar menjauh, walaupun pedih tapi melihat Aksara dalam keadaan sehat pun cukup menjadi pengobat rindu.
TBC
***
like dan komentarnya ditunggu ya😁