I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 56 Syok Berat



Sebagai Ibu yang perhatian pada kesehatan anak-anaknya, Maya memboyong Danang serta Rayana ke rumah Aksa. Dalih ingin menemani Ajeng hingga melahirkan, serta merawat kedua putrinya secara bersamaan.


Semula Aksara dan Ajeng menolak, sebab tanpa Maya, keduanya bisa mendapat bantuan dari perawat. Namun Aksa melihat kepada ayah mertua yang jauh lebih baik dan menghargai niatnya.


Maya sengaja mendekatkan diri kepada Aksa, siapa lagi yang bisa menopang kehidupannya setelah pendapatan coffee shop menurun, sebab menyerahkan tanggung jawab pada Well Coffee.


Danang hanya mendapat royalti sesuai perjanjian bisnis di awal, dan bagi Maya ini sangat kurang untuk menebus rumah lamanya. Untuk itu dia mendekati menantunya, berharap Aksa mau membayar atau menghapus seluruh hutang. Sebab bank tersebut berada di bawah naungan Cwell Group.


“Nak Aksa mau makan malam apa? Ibu yang masak, anggap sebagai ungkapan terima kasih Ibu.” Maya merubah sikapnya, Ibu dua anak itu kerap berubah. Sebelumnya bersikap ketus, tapi selepas meninggalnya Andres, Ibu mertua kembali melunak.


“Jangan repot Bu, di sini ada koki dan kepala pelayan yang mengatur. Kalau Ibu mau melakukan kebaikan, tolong sayangi Ajeng dengan tulus!” sarkas Aksa, meninggalkan Maya yang mematung di pintu dapur.


Sejak siang tadi, Maya selalu ingin terlibat mengurus rumah tangga putrinya. Tapi gagal, karena Aksa sama sekali tidak mengizinkan Maya lebih dari sekedar menemani di rumah ini.


“Sabar Maya. Aksa harus tahu kalau sekarang aku  berubah.” Maya mendengus sebal, selain tidak diizinkan masuk kamar utama di lantai dua. Wanita paruh baya ini keberatan atas kehadiran perempuan lain, Catlin Lucero dinilai membahayakan posisi Ajeng sebagai istri.


Maya tidak mengetahui Aksa mengamati semua pergerakannya melalui CCTV. Untuk saat ini Danang dan Rayana menunjukkan perubahan sikap, ya setelah tragedi beberapa hari yang lalu, Rayana lebih pendiam dan banyak berpikir.


“Aksa, kamu lagi apa? Serius banget.” Ajeng berusaha mengintip pada layar, tapi sayang sekarang penampilan MacBook berubah menjadi serangkaian sistem informasi.


“Oh, kamu kan tahu pekerjaan aku banyak. Mungkin minggu depan aku harus pulang sebentar, ketemu pengacara dan konsultan bisnis untuk mengakuisisi perusahaan Andres di New York.” Aksa masih serius mempelajari laporan keuangan.


“Aku sendirian? Kamu mau pergi lagi? Aku ikut!” Ajeng yang ketakutan suaminya menghilang selalu ingin mengekor kemana pun tujuan Aksara.


Alih-alih menjawab, Aksa meraih pinggul Ajeng dan memangkunya. Di tatap wajah manis yang berhasil mencuri seluruh perhatiannya. “Sayang, kapan kamu nurut? Ini bukan satu atau dua jam tapi belasan jam di pesawat. Di sini ada Catlin, Bapak, Ibu dan kakak kamu kan? Aku pergi dua hari. Setelah kamu melahirkan kita pindah.” Aksa mencoba memberi pengertian. Lagipula salah satu alasan mengizinkan mertuanya tetap tinggal, bertujuan menemani Ajeng.


“Memang tidak cukup Elang yang mengerjakan semuanya?” Ajeng cemburu kepada Elang, bisa mengikuti kemana pun Aksa pergi, terkadang keduanya menghabiskan waktu hingga pagi di dalam ruang kerja, berkutat dengan visi dan misi perusahaan. Dia pikir Aksa hanya tinggal memetik hasilnya tapi pekerjaan sebagai Presiden Direktur jauh lebih sulit, bagaimana menjaga hubungan baik dengan pihak kedua dan ketiga.


“Penandatanganan pengesahan tidak bisa diwakilkan. Semua harus aku yang turun tangan. Kamu mau kerja? Bantu aku ganti kasa, atau panggil perawat juga boleh.” Aksa menggoda istrinya, pura-pura keluar ruangan. Membuat Ajeng kesal adalah rutinitas Aksara, hiburan dari segala penatnya segudang pekerjaan.


Daripada berbagi Aksa dengan perawat lain, Ajeng bergegas keluar mengambil peralatan yang tersimpan di ruangan khusus obat. Ibu hamil ini berjalan perlahan sembari memegangi perutnya.


Tok … tok


“Aksa ini aku Rayana, boleh masuk?” Rayana tidak tahan lagi menunggu sampai adik iparnya buka suara mengenai warisan Andres.


“Masuk!” tegas Aksa, merubah sikapnya menjadi dingin dan mengintimidasi Rayana. “Kamu mau tanya aset Andres? Mau tahu letak rumahnya? Kalau di jual caranya bagaimana?” tanya Aksa, sikap kakak iparnya sangat mencurigakan.


“Tidak salah, tapi apa kamu tahu Rayana? Perusahaan Andres memiliki kewajiban satu triliun dollar? Ya menurut akta pendirian memang tidak menyita aset atas nama pribadi, tapi ahli warisnya turut tanggung jawab. Jadi aset yang kamu miliki semua digunakan untuk membayar hutang perusahaan.” Aksara melempar berkas ke tangan kakak iparnya, semua catatan aset Andres yang sita bank, dan pemerintah.


Rayana syok, tangannya bergetar membaca laporan. Sungguh tragis nasibnya, sudah jatuh ke dalam lubang lalu dihujam pedang hingga berdarah. Statusnya janda, tidak mendapat sedikitpun peninggalan Andres, izin praktiknya di cabut dan sekarang hidup mengandalkan kedua orangtua.


“Jangan jantungan Rayana! Kamu tahu? Andres merugikan negara, dia sindikat penyelundupan senjata ilegal. Jadi pemerintah menetapkan untuk mengambil aset atas nama Andres dan ahli warisnya.” Imbuh Aksa penuh penekanan, dan memang kenyataan.


“Kamu bohong kan Aksa? Bilang saja kalau takut tersaingi, benar kan?” Rayana menyangkal, susah payah dia mencuri dari mendiang suaminya, tapi berkahir kegagalan.


Tidak suka membuang waktu, Aksara menyerahkan MacBook berisi berita kematian Andres. Banyak agen pertahanan dan keamanan negara yang mencari ketua penyelundupan senjata api. Beberapa diantaranya memberi keterangan, bahwa sudah mengantongi surat izin dari presiden untuk menyita seluruh aset Andres.


“Ini bohong!” Rayana ingin membanting MacBook, tapi dia sadar tak akan mampu menggantinya. Mantan dokter cantik ini duduk lemas, dia tidak menyangka kisahnya akan sangat tragis.


Sementara di luar ruang kerja


Kedua mata Maya membola, memegang dada. Sesak napas, karena gagal mendapat hujan uang. Bahkan ibu dua anak ini nyaris pingsan, untung saja Ajeng segara datang.


“IBU” teriak Ajeng, suaranya menembus ruang kerja Aksara, lantai satu pun terkejut, seluruh pelayan berhamburan menghampiri Nyonya rumah.


“Ibu kenapa?” tanya Ajeng sembari menahan punggung Maya.


Aksa dan Rayana pun keluar dari ruang kerja. “Ada apa sayang?” dengan isyarat kedua mata, Aksa memerintahkan salah satu pelayan membawa mertuanya ke kamar.


“Kakak kenapa ada di ruang kerja Aksa?” Ajeng menyerang Rayana, berdiri tepat di depan suaminya.


“Bukan urusan kamu!” Rayana memilih menemui Maya, dia yakin wanita itu mendengar semuanya tentang Andres. “Kenapa ibu menguping? Memangnya di mana Bapak?” gerutu Rayana dalam hati.


Rayana menarik napas, menghembuskan perlahan. Duduk di tepi ranjang, “Bu? Jangan ambil kesimpulan sendiri, Aksa bohong Bu! Aku yakin bisa dapat rumahnya, uangnya kita bagi dua. Aku janji Bu.” Rayana bingung, ke mana lagi harus mencari sumber penghasilan. Ijazahnya tidak berlaku sama sekali tanpa izin praktik.


TBC


**


semoga langsung lulus review🙏😇