I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
Ekstra Part 11



Di sinilah Elang dan Catlin duduk berjauhan, seolah tidak mengenal satu sama lain. Keduanya memegang akta pernikahan. Seharusnya badan kependudukan itu sudah tutup, sekali lagi dengan kekuatan seorang Tuan Lucero, khusus pernikahan Elang dan Catlin terpaksa lembur.


Elang melirik istrinya di ujung kursi. “Ini mimpi atau kenyataan? Atau transmigrasi ke badan orang lain yang seharusnya jadi suami Nona Catlin?” kecerdasan Elang mendadak lenyap terbawa angin malam.


Sama halnya dengan Catlin, nama keduanya kini tercatat sah sebagai suami istri di mata hukum.


Bercerai? Nikah kontrak? Biaya perceraian sangat mahal, belum lagi administrasi terbilang rumit, ditambah menjadi buah bibir teman-teman.


“Aku harus menerima Elang? Akh … hidup memang tidak adil, bagus sekali Catlin karena terbawa suasana jadilah seperti ini. Kenapa aku bodoh sekali?” menggerutu, kalau saja kertas di tangannya tidak penting, pasti Catlin telan secara langsung.


“Ayo pulang, cepat! Atau pergi sendirian ke hotel.” Elang mengulurkan tangan tepat di depan hidung mancung Catlin.


Sebenarnya Elang canggung, malas dan pasti nasibnya sial lagi ketika menghadapi Catlin. Namun semua terpaksa, sekarang Catlin Lucero –istrinya, bukan orang lain. Tanggung jawab berat berada di kedua bahu Elang.


“Ck diam saja ya?” kesal Elang karena Catlin hanya memperhatikan telapak tangannya saja.


Satu


Dua


Tiga


“Akh … mau apa kau, Elang? Turunkan aku sekarang juga dasar pria si@l-*4n. Aku bisa jalan sendiri.” Catlin memekik, sebab Elang menggendong seperti karung beras. Belum lagi cara berjalan Elang sangat menyeramkan, seperti kendaraan tanpa rem.


Elang langsung mengikat tubuh istri dadakannya dengan sabuk pengaman, kemudian melesat tanpa ampun menuju hotel. Karena masalah ini dia kehilangan waktu berharga untuk menyelesaikan proposal bisnis.


Asisten pribadi rupawan itu juga mengantar Catlin masuk kamar, memastikan semua dalam keadaan aman. Mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu di depan istrinya.


“Uang untukmu sudah ku transfer, terserah mau dihabiskan atau ditabung, bebas. Jangan lagi meminta kepada Tuan Lucero tapi aku suamimu.” Elang mengirim sejumlah uang, wujudpertama tanggung jawabnya sebagai suami.


“Hah dia mengaku suami tapi meninggalkan istrinya di hari pertama pernikahan. Suami macam apa itu? Benarkan dia tidak normal, lihat saja kau dasar kutub utara. Ku buat menyerah dengan pesona Catlin Lucero.” Catlin tetap yakin bahwa Elang bukanlah pria tangguh seperti impiannya, melainkan penakut.


Wanita cantik berambut pirang ini melempar bantal ke punggung suami dadakannya.


Elang menghela napas kasar, beginilah ketika mengasuh Tuan Putri tidak tahu sopan santun. Elang merotasi tubuh, menatap tajam kepada Catlin yang kini mengangkat dagu, sangat angkuh.


“Hargai suamimu. Walaupun terpaksa dan mendadak jangan lupa status kita. Paham!” tegas Elang, tidak ada lagi kata teman, karena Catlin mulai hari ini istrinya, harus mematuhi apapun yang dikatakan Elang.


“Ya aku paham, dasar pria yang tidak memiliki perasaan. Aku yakin kamu langsung pergi karena takut ya kan? Takut ketahuan bahwa kamu tidak normal.” Suara Catlin menggelegar bagai petir menyambar di tengah gelapnya malam. Menyulut amarah asisten pribadi tampan rupawan itu.


“Apa katamu? Aku tidak normal?” suara Elang sangat tinggi memenuhi setiap sudut ruangan.


BRAK


Elang menutup pintu, menguncinya, melempar kartu akses ke sembarang arah. Kaki dengan sepatu pantofel limited edition mantap melangkah menghampiri wanita yang telah menghinanya.


“Katakan sekali lagi kalau aku tidak normal!” sentak Elang, benar-benar merasa harga dirinya sebagai pria terinjak-injak.


Sontak Catlin melangkah mundur, ketakutan. Tidak berani menatap kedua mata Elang yang setajam ujung belati.


“Kenapa diam? Perlu bukti? Kita lakukan sekarang juga.” Kata Elang, segera melepas ikat pinggang dan menjatuhkan ke atas karpet.


Catlin kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa. Adu jotos dengan Elang sudah pasti kalah, karena dia selalu berakhir tergeletak di matras.


****


Jempolnya untuk Elang 🙏🤗