
Huek … huek
Carol yang berjalan menuju bangunan di tepi mansion, terpaksa mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Elang. Alasannya, asisten ini mendengar Ajeng muntah di kamar mandi, serta tangisan Bryatta.
Kakinya berlari menghampiri Ajeng, “Nyonya?” panggil Carol segera meraih Bryatta dalam gendongan Ajeng. Lalu membantu memijat tengkuk dan memapah ke ruang keluarga.
“Terima kasih Carol. Kamu sudah pulang? Rapatnya lancar?” Ajeng menyeka bibir menggunakan saputangan, perlahan memijat pelipis, rasanya kepala sakit dan berdengung setiap kali muntah.
“Rapatnya berjalan sesuai target. Nyonya mari ke rumah sakit, Anda sakit dan lemah belakangan ini.” Ajak Carol membantu Ajeng memijat bahu.
Ajeng menggelengkan kepala sebab bukan penyakit berat, karena pagi tadi selepas Aksa berangkat. Dia melakukan tes kehamilan, hasilnya positif. Antara bahagia dan kasihan melihat Bryatta yang masih kecil.
Tapi Ajeng bersyukur, karena kembali mengandung buah cintanya bersama Aksa. Sengaja menutup rapat, Ajeng harap kabar kehamilannya ini menjadi kado terindah bagi Aksa, walaupun ulang tahun pernikahan ke lima masih beberapa bulan lagi.
Carol yang minim pengalaman hanya terdiam, sebab dia tidak tahu, apa arti dari senyuman yang tersungging di wajah Nyonya Caldwell.
“Carol, bisa aku titip Bryatta?” tanya Ajeng, karena dia perlu ke dokter kandungan untuk memeriksa usia kandungannya. Sekaligus mencetak gambar calon anak kedua.
“B-bisa nyonya.” Jawab Carol, menghela napas. Lagi-lagi rencananya gagal.
“Sayang, Mama pergi sebentar ya. Bryatta anak baik patuh ya, Tante Carol menjaga kamu sampai Mama pulang.” Ajeng menciumi kening dan kepala putra sulungnya. Anak ini seiring bertambahnya umur semakin mirip Aksa. Rahim Ajeng hanya tempat menumpang tumbuh dan berkembang.
Ajeng melambaikan tangan kepada dua orang yang duduk di atas sofa besar ruang keluarga.
Asisten cantik itu hanya bisa memandangi majikannya yang semakin menjauh. “Mungkin ini belum saatnya. Tidak apa Carol masih ada hari besok dan besok, tenang saja. Elang tidak akan pergi ke mana pun.” Gumamnya, kembali menatap Bryatta yang sibuk memainkan sarung bantal kursi.
Carol tulus menyayangi putra Bosnya. Menggendong dan segera membawa bocah itu ke kamar untuk tidur siang. Namun Bryatta sangat atif, selalu turun dari kasur dan mendorong mobilnya.
Carol terdiam sejenak, dia menghela napas. Mengingat kata-kata terakhir yang didengar dari orang tersayang.
Tes
Air mata Carol terjatuh dari balik kacamata. Bibirnya belum sanggup mengatakan segalanya kepada Elang. Tujuannya masuk ke keluarga Caldwell pun karena kehadiran Elang.
Tanpa masuk ke mansion atau perusahaan, sulit bagi orang asing mendekati asisten rupawan bak dewa itu. Elang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bahkan start up akan memutar otak serta mengandalkan koneksi demi menjalin kerja sama.
Membuat jadwal bertemu dengan Elang begitu sukar apalagi pimpinannya.
Carol pun berjuang mati-matian belajar bela diri, mengasah otaknya dengan belajar bahasa, menggunakan sedikit uang untuk les agar mendapat sertifikat resmi dari lembaga terpercaya.
Kini dua langkah sudah dilalui, tersisa beberapa lagi sampai akhirnya bisa mencapai tujuan.
Selepas melamun, Carol bermain bersama Bryatta. Kemudian tersenyum, ketika mengingat Elang yang menolongnya pagi ini apalagi menerima bekalnya. Padahal itu sengaja dia bikin sendiri, bukan pelayan yangv membungkusnya.
“Mungkin aku harus sering-sering dekat dengannya. Iya benar besok aku bawakan bekal lagi.” Niat Carol terucap dalam hati.
***
ada apa Carol masuk kamar Elang?
Aksa mau punya ekor lagi 🙏💪
Visual Catlin Lucero