
“Pasti dia bercanda. Hanya menggertak tidak lebih, Cat. Yakin Elang tidak menyukaiku.” Nona Muda Lucero ini begitu teguh pada pemikirannya sendiri. “Ayo, siapa takut. Kau tidak akan bisa menghadapiku di atas ranjang.” Tantang Catlin.
Sebenarnya dalam hati ketakutan, namun tidak ada kata menyerah dalam hidup keturunan Lucero. Dia saja mampu menjatuhkan beberapa playboy di luar sana, apalagi Elang lelaki dingin tidak normal. Seumur hidup selalu bersama Aksa.
“Hah, jangan-jangan dia menyukai Aksara. Kemana-mana selalu berdua, bahkan mereka tidak jarang satu kamar berdua. Ck, dasar Elang. Padahal Aksa sudah menikah, memiliki anak dan bahagia.” Kata hati Catlin.
Bola mata biru Catlin nyaris keluar karena Elang sudah menanggalkan pakaiannya.
GLEK
Catlin menelan ludah, tidak menyangka teman yang selalu dia hina ini memiliki postur tubuh bak model. Otot deltoid (salah satu otot bahu) mengusik sisi wanita Catlin untuk melabuhkan jemari di sana. Belum lagi otot dada yang sempurna itu, entah berapa kali dalam satu minggu Elang melatihnya di pusat kebugaran.
Catlin tidak berkedip, matanya menikmati keindahan yang berdiri tepat di depan. Semakin diamati, perut sixpack, otot kuadrisep dan hamstring yang sangat menggoda itu menjadikan tubuh Elang sangat sempurna.
“Waw.” Gumam Catlin tanpa sadar, air liurnya saja hampir menetes.
Tapi, perempuan ini masih tetap keras kepala. Karena melihat tidak ada sesuatu yang terjaga di balik bokser. Lantas Catlin membuka atasannya, sekaligus celana panjang yang menutupi kaki jenjang nan mulus.
“See, dia bahkan tidak memberi reaksi dari tubuhku ini.” Otak Catlin kembali mencemooh Elang.
Catlin tidak tahu saja bahwa Elang susah payah menahannya, “Ini gila, aku pikir dia takut dan meminta maaf.” Elang membatin. Tapi sebagai pria normal tidak dipungkiri, bahwa Catlin memang cantik dan menawan, tidak heran banyak pria di luar sana mengejarnya.
Kali ini Elang dibuat terpana, karena Catlin semakin menantang, membuka penutup dua aset kebanggaan. Mendekati Elang, membelai bahu, dada turun ke perut.
“Sudah ku duga.” Bisik Catlin tertawa.
“Apa?” sentak Elang, mati-matian menyembunyikan rasa panas yang merambat ke sekujur tubuh.
Tidak cukup, Elang masih membuktikan bahwa dirinya ini pria sejati. Bermain pada aset kebanggaan wanita, baik itu dengan jari atau mulut. Membuat pemiliknya menegang dan tersengat aliran listrik
Catlin mulai mengeluarkan suara merdunya. Tubuhnya tidak bisa menolak sentuhan Elang.
“Kau ingin tahu kan aku ini normal atau tidak?” tantang Elang, melepas sejenak sang istri yang kesulitan bernapas. Dengan gerakan kurang dari dua detik, penghalang terakhir sudah terlepas, dan menampakkan bukti g4-1-r*@h.
“WHAT?” pekik Catlin, mulutnya menganga, ternyata Elang tidak seperti yang dia pikirkan selama ini. Catlin berusaha kabur, tapi sayang tidak kuasa. Elang membuka penutup tipis bersegi tiga. Lalu Catlin dibuat lemas atas aksi Elang di bawah sana.
Kamar yang sempat dihiasi kata-kata pertengkaran keduanya, kini berganti oleh jeritan Catlin yang kesakitan karena menyerahkan mahkotanya.
Hingga suara tangis berganti menjadi d3-5@-h dari dua insan yang sama-sama mendaki puncak titik pelepasan.
Catlin yang kelelahan tertidur lebih dulu, tidak sanggup mengimbangi permainan suami dadakannya.
Semula Elang pikir seorang Catlin Lucero sudah pernah berhubungan dengan para mantan kekasihnya, tapi ternyata wanita ini menjaga diri. Pertama Elang merasa bersalah tapi diingat kembali statusnya kini adalah suami dari Nona Muda Lucero, maka apa yang harus disesalkan?
“Pasti kamu lelah?” bisik Elang di telinga Catlin. Pria ini segera menyelimuti istrinya agar tidak kedinginan.
“Aku janji tidak akan meninggalkan Nona. Menjadi suami baik bagi Nona, meskipun bukan sosok pria idaman. Tapi aku janji hanya Nona satu-satunya.” Elang mengecup kening Catlin yang basah karena keringat.
****