
“Aksa. Kamu mau apa?” tanya Ajeng sedikit meninggi intonasinya. Tersentak, tiba-tiba dua tangan kekar suaminya itu menyentuh pinggang, menyingkap blouse yang menutupi kulit bagian atas.
“Aku … aku lupa bawa bajunya. Kita beli dulu gemana sayang?” gugup Ajeng, bukan bodoh juga. Dia sangat tahu apa yang inginkan suaminya. Tapi kenapa harus di sini? Di tempat ini? Kenapa bukan di kamar?
Ajeng yang kikuk, tidak fokus karena debaran jantungnya kian meningkat. Tanpa sadar celana blue jins sudah tersangkut di atas pohon mawar. Tersisa dua bagian saja yang melindungi atas dan bawah.
Perlahan, Aksa menuntun Ajeng, kaki keduanya mulai menyentuh hangatnya air kolam. Sampai menutupi batas pinggang. Aksa yang sudah menahan sejak di atas boat, merangkum kedua pipi Ajeng. Satu tangannya melepas ikat rambut, hingga surai panjang indah itu menjuntai, menambah cantik istri tercinta.
“Terima kasih sayang, sudah menjadi istri yang penurut, sangat menyayangi suami dan anak kita.” Aksa tersenyum, hidungnya menempel dengan Ajeng.
Satu detik
Dua detik
Wajah keduanya mendekat, refleks tangan Ajeng melingkar di pundak Aksa, diikuti kedua kaki yg membelit pinggang.
Lebih dulu memagut bibir suaminya, dimulai gerakan lembut lalu penuh tuntutan.
Satu tangan Aksa memukul bagian belakang, menghimpit Ajeng hingga ke sudut.
"Nakal ya kamu." Bisik Aksa setelah tautan bibirnya terlepas.
"Kan nakalnya sama kamu, memangnya kenapa?" tantang Ajeng, semula malu-malu tapi karena terbakar sesuatu dari dalam tubuh menjadikan dirinya berani.
Dua insan yang dimabuk cinta semakin ekstrem mengeksplore pasangannya.
Penutup bagian atas sudah terbang melayang, menyajikan pemandangan indah.
"Ajeng"
Aksara menyelipkan rambut basah Ajeng di balik daun telinganya. Membelai penuh kasih sayang pipi bersemu merah.
Ajeng tak tanggung-tanggung, membalas perbuatan suaminya. Menenggelamkan diri ke dalam air. Pertahanan terakhir Aksa pun terlepas.
Private pool yang semula sunyi, kini bersahutan kicauan merdu yang tidak biasa.
Tak berhenti sampai di situ. Aksara membawa masuk Ajeng ke kamar mereka, d3$-a-h4-n pun memenuhi ruangan, beberapa perabotan kamar terjatuh akibat aksi keduanya.
Masih belum berakhir, Aksa membantu Ajeng membersihkan keringat. Berendam sembari memandangi kota, lagi-lagi berujung pada kegiatan yang meningkatkan suhu.
"Aksa ... aku capek, boleh ya tidur sebentar nanti ajak aku keliling kota, mau lihat bunga mawar." Suaranya begitu lemah, energi seakan tersedot habis.
"Oke, maaf ya sayang, soalnya kamu manis banget. Sekarang kamu tidur, untuk persiapan nanti malam." Ujar Aksa menyelimuti Ajeng yang sudah hampir memejamkan mata.
" Hah, lagi? Kamu benar-benar tidak mau kalah ya dari Bryatta." Gurau Ajeng di sela rasa kantuk.
"Iya sayang, siapa tahu kamu hamil lagi. Aku mau punya banyak anak sama kamu. Tiga atau empat lagi boleh sayang?" Aksara bukannya menjauh tetapi terus menciumi ceruk leher istrinya.
"Hah? Enak di kami tapi sesat di aku. Satu atau Dua lagi boleh deh." Ajeng kehilangan gairah untuk tidur. Permintaan suaminya itu sangat mengganggu.
"Jadi anak tunggal kesepian sayang, aku mau Bryatta punya adik yang banyak, apalagi perempuan pasti lucu dan cantik kaya kamu." Aksa benar-benar ingin mewujudkan mimpinya, mansion yang luas terlalu sepi kalau hanya satu anak.
Aksa membayangkan bagaimana repot mengasuh kelima anak dengan usia tidak berbeda jauh.
"Mau ya sayang? Jangan nolak ya sayang." Aksa berusaha mencuci isi kepala istrinya.
***
Kira-kira Bryatta punya adik berapa?