I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 41 Rencana Mutasi



Hari-hari berlalu, Ajeng yang merasa bosan tinggal di hotel, setiap hari keluar masuk lift berangkat kerja diantar jemput suami atau sopir, lengkap dengan selusin pengawal.


Aksara terpaksa membeli satu unit rumah, tidak luas tapi cukup menyenangkan suasana hati Ajeng, sebab memiliki taman, kolam ikan dan beberapa ekor kelinci di taman belakang. Bisa melepas lelah usai penatnya menghadapi kesibukan kantor.


Rumah ini baru ditempati satu minggu, Aksa menambah beberapa kamar khusus pengawal, tapi tidak banyak. Selebihnya dia membeli tiga unit rumah tepat di samping kiri dan kanan lalu bagian depan, demi menampung banyaknya orang berjas hitam yang siap melindungi 24 jam.


Aksa menyesap secangkir kopi, memejamkan kedua mata, menghirup dalam aroma menenangkan dari uapnya. Bola matanya berputar kepada Ajeng, duduk memeluk ponsel.


Beberapa hari ini juga Ajeng selalu mendapat teror dari Maya, memaksa memberi uang atau membalik nama dari seperempat kepemilikan saham.


Mengetahui putrinya memiliki aset luar biasa, Maya tiada kata lelah untuk mencurahkan kasih sayang palsu. Ditambah Danang sering sakit kakinya, Coffee shop kembali tutup, tidak mendapat uang harian. Namun, tak pernah satu kali ditanggapi, Ajeng takut dan khawatir, dia melindungi keluarga dari kemarahan suaminya.


“Sayang? Siap? Sebelum terlambat.” Aksa mengulurkan tangan kepada istrinya, menunduk menatap wajah Ajeng yang menegang. “Kenapa? Kamu dapat pesan lagi dari ibu? Aku tahu semuanya, sayang. Aku yakin kamu pintar.” Tukas Aksa berputar-putar, suaminya memang tidak lagi bicara langsung pada inti. Ajeng yakin berbulan-bulan menghilang, mampu merubah kepribadian suaminya.


“Hah? I-iya Aksa.” Ajeng segera meraih tasnya dan menerima tangan suami, berjalan keluar kamar.


Dua insan itu menghadiri pertemuan penting bersama kedutaan, kementerian luar negeri, kesehatan, serta pendidikan dan kebudayaan. Terkait tujuan Aksa untuk membangun sejumlah rumah sakit sebagai tanda cintanya untuk Ajeng, lalu sekolah di titik yang telah ditentukan.


Menurutnya, sangat disayangkan memiliki tanah kosong tanpa difungsikan dengan baik.


Acara ramah tamah ini mengundang atensi dari awak media, semua meliput Presiden Direktur Cwell Group. Memberi apresiasi sangat baik atas kerjasamanya yang ditunggu banyak pihak.


Sesuatu yang mengundang keingintahuan banyak orang, yaitu keberadaan seorang wanita di sisi Tuan Muda Caldwell. Tangan keduanya tak pernah terlepas satu detik pun.


Wartawan menunggu di area parkir hanya sekadar mendapat jawaban pasti, sebab mereka tahu Aksara tunangan dari Catlin Lucero.


Dua pertanyaan diajukan wartawan, Aksara cukup menjawab singkat status Ajeng. Ya dia memang belum mengumumkan secara resmi. “Dia istriku, hanya dia. Terima kasih atas perhatiannya.” Aksa segera pergi, semakin menggenggam erat tangan Ajeng.


**


Pagi yang melelahkan bagi Ajeng, suaminya memang tidak tahu waktu. Padahal Ajeng shif pagi, seorang Aksara sempat mencegahnya pergi dan meraih puncak nirwana sebelum keduanya bekerja.


“Aksa, pinggang aku sakit.” Keluh Ajeng, mengerucutkan bibir tipis sembari meregangkan otot.


‘Ajeng kamu kenapa?’


‘Ajeng, kamu hebat. Aku bangga bisa berteman dengan kamu’


Ucap salah seorang teman yang mengambil keuntungan.


Rumah sakit ini mendadak ramai, dari semalam tak henti setiap staf menonton video singkat pernyataan Aksa bahwa Ajeng adalah istrinya. Membuat beberapa wanita patah hati, termasuk pria.


Ajeng yang semula dijauhi oleh rekan kerja, sekarang semua berkumpul menjadi satu mencari perhatian. Semenjak terungkapnya jati diri Aksa, perangai rekan kerjanya berubah. Tapi setelah mengetahui Presiden Direktur Cwell Group menjabat sebagai komite rumah sakit, semakin bertambah banyak orang yang mengaku teman.


Lebih menakjubkan lagi sampai direktur memberi hormat dan sungkan di depan perawat spesial ini. Perawat dan dokter begitu menghargai Ajeng. Hari-harinya sangat bersih tanpa caci maki, hinaan atau sindiran. Hanya ada satu orang yang berani melawan, siapa lagi kalau bukan Rayana.


Tapi semua tidak berlangsung lama, Aksa menjatuhkan hukuman ringan pada kakak iparnya. Menjauhkan Rayana dari Ajeng, sangat jauh.


‘Ajeng kamu tahu, mulai besok Dokter Rayana dimutasi ke klinik daerah.’


Ajeng tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Aksa saja mampu merubah 50% saham atas namanya tanpa keraguan, apalagi hanya merotasi Rayana ke tempat jauh, masih sangat baik bukan? Dibanding membuat kakaknya cacat fisik atau gangguan jiwa.


Sedangkan di ruang praktik. Rayana menangis sesenggukan, dia keberatan harus menjalani tugas yang tidak pasti masa dinasnya. Bukan lagi di pinggiran kota, melainkan pedesaan.


Mengadu kepada Maya, memohon bantuan, membujuk Ajeng. Hanya itu jalan keluarnya.


“Dasar adik tidak tahu diri, sial nasib kamu Rayana. Di sana tidak ada mall, mesin ATM juga susah, bagaimana caranya aku hidup?” menunduk lesu pada meja, wajahnya sembab, semalaman menangis, syok berat ketika mendapat surat tugas.


Dokter cantik ini mencari Ajeng ke setiap sudut rumah sakit, alasannya jelas saja memberi salam perpisahan. Hari ini menjadi akhir dirinya hidup di kota.


“Mana sih Ajeng?” kepala Rayana menengok kiri dan kanan, dia akan lakukan apapun demi menggagalkan rencana mutasinya. “Ajeng? Kakak cari kamu dari tadi.” Sikap Rayana mendadak berubah.


Ajeng terhenti di tengah lorong, merasa namanya dipanggil dia menolehkan kepala, dahinya mengkerut. “Iya dokter, ada yang bisa dibantu?” yakin bahwa Rayana merencanakan sesuatu, Rahajeng menjaga jarak.


“Sudahlah Ajeng di sini hanya kita berdua, kamu tahu besok kakak harus pindah? Kakak minta maaf ya Ajeng, semoga kamu bahagia bersama Aksa.” Rayana mendekat, memeluk adiknya cukup erat, menitikkan air mata. “Kakak salah, maaf Ajeng.” Bulir beningnya jatuh membasahi pakaian dinas perawat.


“Ajeng? Bisa kaka minta sesuatu?” melepaskan pelukan, menatap lamat-lamat, menggigit bibir bawahnya, menahan napas lalu berkata, “Kakak mau minta maaf sama Aksa, bisa kamu antar ke kantornya?”


“Aku … tidak bisa ka, Aksa sibuk.” Tolak Ajeng segera pergi dari hadapan Rayana, tapi lengannya ditahan. Rayana memelas memohon dengan sangat, “Tolong kakak Ajeng, bisa kan? Sekali ini saja Ajeng, kakak benar-benar menyesal.” Meraih kedua tangan adiknya, memegang erat, pancaran dari matanya sangat menyakinkan.


“Mana mungkin tanpa angin dan hujan mendadak menyesal lalu minta maaf, aneh.” Gumam Ajeng dalam hati, akhirnya dia ikuti saja keinginan Rayana, “Baik aku antar, tapi jangan menggunakan mobil kakak.” Ajeng benar-benar khawatir dirinya dicekik, dibuang ditengah jalan, akibat terlalu sering menonton film penculikan.


**


Cwell Group


Rayana menganga tidak percaya, ketika memasuki kantor, mereka disambut hangat. Semua petugas dan karyawan menghormati Ajeng.


“Ini serius kantor Aksa? Tahu begini, dulu tidak menjebaknya.” Sesal Rayana, kenapa bisa membenci adik iparnya sangat berlebihan. “Enak banget kamu Ajeng.” Rayana menahan sesak di dada, dulu Ajeng dianggap tidak berguna dan menyedihkan, sekarang? Dirinya berada di bawah Ajeng.


“Ayo kak keluar, itu ruangan Aksa.” Ajeng dan Rayana melangkah keluar lift, seorang sekretaris berperut buncit menyapa hangat. ”Bapak ada kan? Maaf ya tanpa buat janji.”


‘Ada Bu, sedang ada tamu di dalam. Sebentar ya Bu.'


Sekretaris itu menyampaikan kedatangan Ajeng melalui telepon. ‘Silakan masuk Bu, Pak Aksa menunggu.’


Membuka pintu lebar-lebar, sedikit menunduk dengan senyum yang tidak berlebihan.


Namun, Ajeng tertegun menatap suaminya di dalam ruangan bersama wanita cantik, diyakini dia Catlin Lucero. Demi apapun kini Ajeng merasa insecure dan merendah, kakinya ragu untuk melangkah masuk.


TBC


***


ditunggu dukungannya kakak semua 🙏