I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
Ekstra Part 7



“Elang tunggu! Elang?” panggil perempuan berkacamata, Carol. Setiap kali dekat dengan Elang dadanya selalu berdegup, dia selalu saja mengamati dari jauh.


“Ada yang bisa dibantu? Katakan jangan sungkan, kita rekan kerja.” Mata tajam Elang memindai wajah Carol. Entah kenapa merasakan sesuatu, sebuah rasa yang kuat, ingin melindungi dan menyayangi.


“Senior belum makan, benar kan? Aku bawa ini. Pelayan sengaja membungkusnya. Aku permisi.” Ucap Carol segera beranjak dari tempatnya, kembali menuju mansion, lantaran tugas hari ini telah selesai membantu Bos.


“Gadis yang aneh.” Elang bergumam, kemudian kakinya terus melangkah memasuki ruangan. Makanan dari Carol tak mungkin dibuang, lebih baik disantap sebagai pengganjal perut.


Belum juga Elang berhasil memasukan makanan itu ke dalam mulut, dia terkejut, pintu ruangan terbuka cukup keras.


Elang menghela napas, karena kesabarannya pasti kembali terkuras oleh wanita rewel, bawel dan manja seperti Catlin.


“Kau tidak mempersilakan aku duduk? Pelitnya.” Catlin mencibir, bibirnya itu maju beberapa senti.


“Baik, silakan Nona masuk dan duduk sesuka hati, mau minum apa?” Elang mencoba ramah untuk segera mengakhiri kegilaan temannya itu.


Kepala Catlin menggeleng, karena dia lebih dulu memerintah helper membuatkan minum dan membeli snack.


Mata indahnya memperhatikan kotak makan di atas meja, sudut bibirnya berkedut. Kepalanya menoleh ke samping serta bola mata berputar, mencemooh isi bekal pemberian Carol.


Elang yang memang tidak mau ambil pusing, tetap mengunyah bahkan menghabiskan makanannya. Tiba-tiba dia tersedak roti isi, karena mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari bibir Catlin Lucero.


“Apa kamu menyukai Carol? Si mata empat itu?” tegas Catlin, wajah cantiknya berubah galak dan menakutkan.


“Uhuuk … uhuuk.”


“Perempuan tidak waras, tujuannya datang kemari hanya untuk pertanyaan tidak penting.” Elang mengumpat dalam hati. Menepuk dada yang sesak.


“Akh Elang. Maaf. Aku bantu.” Catlin menghampiri Elang, mencoba menepuk punggungnya. Tapi bantuan ini ditolak sebab Elang yakin Nona Muda Lucero tidak akan bisa membantu.


Ya, tepat sekali, sesuai dugaan. Sepatu Catlin menginjak pecahan gelas. Hingga serpihannya sedikit menggores sisi ibu jari kaki, karena Catlin menggunakan alas kaki yang menampakkan kuku cantiknya.


“Aw sakit, darah. Bagaimana ini? Aku berdarah.” Paniknya, bukan membantu Elang tapi asisten pribadi itu yang menolong Catlin.


Elang berdiri dan menggendong Catlin, mendaratkannya ke sofa di tengah ruangan, segera mencari kotak obat.


Tidak ragu membawa salah satu kaki jenjang Catlin ke atas pahanya, membersihkan serta mengoleskan obat di bagian yang terluka.


“Dia manis juga, tapi sayang lebih banyak diam.” Kata hati Catlin, menatap Elang lekat-lekat.


“Saya rasa lukanya besok mengering. Apa Anda ke sini bersama Tuan Besar Lucero?” tanya Elang begitu yakin bahwa temannya ini tidak berkunjung sendiri, melainkan mengekor kepada Ayahnya.


“Ya kau betul. Aku bosan Daddy selalu membahas bisnis dengan Aksa. Mereka berdua membosankan, jadi aku mencarimu. Oh iya terima kasih Elang.” Ucap Catlin sembari menarik ujung lengan kemeja pria itu.


“Kalau begitu Saya permisi. Pasti Tuan Caldwell membutuhkan bantuan.” Pamit Elang, meninggalkan Catlin sendirian di ruangannya.


***


lanjut kah?


kira-kira Elang lebih cocok dengan Carol atau Catlin?