I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 50 Rencana Rayana



Aksara menambah beberapa lusin petugas keamanan untuk menjaga Ajeng, kali ini ada pengawal wanita, untuk menemani Ajeng di dalam rumah dan membantunya melakukan beberapa tugas. Setelah Catlin pulang ke Swiss, ibu hamil muda ini kesepian. Aksara banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan.


Selain kesepian, Ajeng dilarang mengunjungi kedua orangtuanya. Sebab Rayana sering mengunjungi Danang dan Maya, tentu Aksa khawatir, walaupun Andres sudah lama tidak terlihat. Terakhir mereka bertemu di pernikahan Rayana.


Beruntung sekali Ajeng tidak mengalami mual atau keluhan yang berarti dan mengidam makanan aneh, dia hanya ingin selalu berada di sekitar suaminya.


Ajeng yang duduk sendirian di atas kursi, membelai perut yang mulai menyembul. Kedua bola mata hitamnya tertuju kepada Aksara yang duduk di lantai memeriksa sejumlah email serta jajaran flashdisk di sisi MacBook.


“Aksa masih lama? Aku ngantuk, mau peluk.” Ajeng merajuk, dua jam lebih menemani suaminya bekerja masih belum terlihat tanda-tanda semua kegiatan selesai.


“Sebentar ya sayang, aku masih harus mengumpulkan bukti kepemilikan saham milik Andres. Kalau semuanya sudah dapat, aku bisa tenang, tapi semua data miliknya menghilang. Aku yakin dia menggunakan jasa pihak ketiga menghapus jejak secara digital. Saham Cwell ditangannya 35%, tapi dukungan orang-orang ini memberi ancaman. Kalau dirinci, Andres memiliki kekuatan saham 44%.” Aksa mengepal satu tangannya, dia memerhatikan grafik, diagram dan kata-kata dalam MacBook.


Ajeng yang tidak mengerti masalah saham mangut-magut, selain itu suaminya belakangan ini lebih repot. Mendadak Elang pulang ke Swiss, lebih parahnya lagi sulit dihubungi, hingga sekretaris kantor naik jabatan menjadi asisten pribadi.


Tidak tega, Aksara merapikan peralatannya,


memapah Ajeng naik ke atas ranjang. Memeluk dari belakang, satu tangan menyusup masuk ke dalam piyama, mengusap lembut kulit perut yang mulai membuncit.


“Apa dia mulai bergerak?” Aksa penasaran seperti apa tendangan bayi dalam perut, dulu dia selalu membayangkan hari ini datang. Namun kekuatan Maya mempengaruhi Ajeng tidak terbantahkan.


“Belum Aksa, masih terlalu kecil belum juga empat bulan. Mungkin usia lima atau enam bula mulai kelihatan gerakannya.” Tangan Ajeng bergerak ke arah perut, menumpuk dengan milik suaminya.


Baru saja kedua mata Ajeng terpejam, suara getaran ponsel pada meja nakas mengganggunya. Segera Aksa terima sambungan telepon.


“Iya ada apa Bu?”


“Halo Aksa, ini Ibu. Bilang ke Ajeng, jenguk orangtua! Bapak sakit, seminggu ini Coffee shop juga tutup, untung ada Andres yang kasih uang.”


Ketus Maya langsung menutup panggilan suara, Ibu Mertua itu mulai membandingkan menantu satu dan lainnya. Maya lebih menghargai bangkai ikan yang diberikan Andres, daripada pancingan dari Aksa untuk menangkap ikan segar.


Dengan sikap Maya yang boros tentu saja uang puluhan juta dari Andres semakin menipis, dan kakak sepupu Aksara itu hanya memberi satu kali. Itupun dengan banyak persyaratan yang diberikan kepada Rayana.


Tak ingin mengganggu istirahat istri dan calon anak, Aksa menahan diri, berniat menyampaikan pesan esok hari.


**


Siang hari Rahajeng dan Aksara mengunjungi Danang. Menurut Rayana, pria sepuh dan tambun itu sulit bangun dari atas kasur, semua dilakukan di atas ranjang, buang air kecil dan besar. Rayana dan Maya enggan merawat Danang, mereka juga sangsi mengeluarkan dana untuk membayar jasa perawat.


Terpaksa Ajeng memohon, untuk tinggal di kontrakan Danang sampai sembuh, memastikan ayahnya kembali sehat.


“Tapi kamu lagi hamil sayang, ingat kan pesan dokter? Jangan kelelahan, aku mampu sewa perawat lain untuk Bapak. Feeling aku merasa ada yang salah sayang, maaf.” Otak Aksa berkali-kali berpikir, sesuatu yang secara tidak langsung berhubungan dengan Andres.


“Bu, Ajeng harus pulang, besok atau lusa ada teman Ajeng yang ke sini. Ibu tenang saja ya semua ditanggung Aksa. Mungkin dua hari lagi Ajeng ke sini lagi Bu.” Tutur Ajeng, suaranya serendah mungkin.


“Jadi kamu tidak mau mengurus Bapak yang sakit-sakitan? Anak macam apa kamu itu Ajeng? Memangnya tidak bisa tinggal di sini, temani Ibu? Kamu tega ya, Ibu harus diam di rumah berdua dengan Bapak. Mentang-mentang hamil, manja.” Kata-kata beracun yang keluar dari mulut Maya, membuat Ajeng sedih dan sakit. Kenapa Ibunya masih tidak bisa melihat sisi baik Aksa.


“Cukup Bu, bukan aku tidak sayang Ibu dan Bapak, nanti ada perawat yang menginap di sini. Ibu tidak perlu khawatir.” Tukas Ajeng menahan jatuhnya bulir bening dari sudut mata.


“Ibu lebih sayang kepada Andres dan kakak, lalu kenapa dia tidak melunasi semua hutang Bapak? Aneh kan?” semakin Ajeng pikir, kenapa kakak iparnya tidak membantu keuangan keluarga? Hanya sebatas memberi uang lima puluh juta di awal.


Sepulang Aksa dan Ajeng. Maya segera menghubungi Rayana, rencananya gagal membujuk anak bungsu itu tetap tinggal di rumah kontrakan.


“Rayana, maaf. Ibu gagal, malah Aksa mau bayar perawat. Sekarang Ajeng selalu membantah apa kata Ibu.” Maya merlirik ke kamar, khawatir Danang mendengar semua pembicaraannya, suaranya pun dibuat sepelan mungkin.


**


Di sisi lain, Rayana panik, suaminya mendadak pulang tanpa pemberitahuan. Memaki kinerja istri yang dinilai buruk, “Percuma kasih makan pengangguran, buang-buang uang. Ingat Rayana kalau rencana ini sampai gagal, kamu yang menanggung semua. Aku jual kamu ke sindikat perdagangan perempuan.” Hardik Andres, mencengkeram rahang istrinya dan menghempas kasar.


Kehidupan Rayana jauh dari kata mewah dan kesejahteraan sebagai Nyonya Caldwell. Dia bahkan masih harus membiayai kehidupan sendiri di apartemen mewah, hanya statusnya yang berbeda. Dipandang orang sangat bahagia, padahal mendapat neraka setiap hari.


“Awas kamu Andres, seenaknya saja memperlakukan orang, aku bukan wanita lemah yang bisa kamu jadikan budak.” Kebencian tertanam dalam di hati Rayana, untung sejak awal tidak terlena dengan bujuk rayu dan wajah tampan suaminya. Menepis semua sakit hati atas semua sikap kasar Andres.


Memastikan suaminya terlelap, dokter cantik ini menghubungi seseorang yang dapat dipercaya. Ragu-ragu Rayana bicara hingga akhirnya menyampaikan niat dan maksud.


“Bagaimana? Aku hanya minta 25% dari kekayaannya, aku tidak peduli perusahaan atau apapun. Aku berusaha mencari yang kamu minta, sepakat?”


Rayana tersenyum samar, dia memiliki kejutan sendiri untuk suami jahatnya. Sebuah hadiah besar yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Andres seumur hidup. Itupun jika berumur panjang.


“Kau pikir hanya otakmu saja yang licik? Aku juga bisa Andres. Manusia pelit seperti mu harus diberi pelajaran. Setelah aku menuruti perintahnya membuat Bapak sakit dan memaksa Ajeng, dia masih tidak membayar jasa. Cukup sudah, terakhir kali aku menurut kepada manusia penakut itu.” Napas Rayana tersendat, membenci sosok suami yang kini tidur di atas ranjang.


TBC


***


Besok libur ya sehari


...🙏🙏🙏🙏...


...Mohon Maaf Lahir dan Batin...