I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 52 Kebencian Yang Tertanam



Aksa terpaksa keluar dari bunker, meninggalkan Elang menghadang anak buah Andres. Dia ke atas menggunakan lift dan terkejut melihat sosok wanita duduk di atas sofa memegangi perutnya.


“Ajeng, sayang. Kenapa kamu di sini? Aku bilang tunggu di rumah jangan keluar.” Tanpa sadar Aksara membentak istrinya yang tidak patuh. Tepat sesuai dugaan Elang bahwa Rayana membawa Ajeng masuk ke lingkaran perselisihan, sengaja mengurung sepasang suami istri sekaligus dilenyapkan.


“Tapi Aksa, aku lihat kamu terluka, darah di mana-mana.” Ajeng menangis memeluk suaminya, dia sadar telah di jebak oleh Rayana. Iya kakaknya sendiri yang memperlihatkan rekam video Aksara tidak sadarkan diri.


Tidak berpikir panjang lagi, demi melindungi istri dan buah hati, Aksa melepas rompi anti peluru. Melekatkan di tubuh Ajeng lalu menutupnya dengan mantel coklat yang ia kenakan.


“Jangan jauh-jauh sayang, aku tidak tahu Andres di mana, saat ini kita hanya berdua. Dua kepala pengawal tewas, dan Elang di dalam bunker.”


Aksa mencoba menghubungi anak buahnya di luar gedung, untuk masuk dan melindungi Ajeng. Tidak lama pengawal inti menerobos pertahanan Andres. Tapi disaat bersamaan suara dentuman besar terdengar samar. Aksara yakin suara itu dari dalam ruang bawah tanah.


“Kalian berdua turun ke bawah, pastikan Elang dalam keadaan selamat!” perintah Aksa, selain itu dia juga memberi tugas pada beberapa anak buahnya, membawa Ajeng pergi dari gedung ini sejauh mungkin.


DOR


Satu peluru menembus bahu kanan Aksara, hingga darah merembes keluar.


“Aaaaaakkkhh” Ajeng menjerit menyaksikan suaminya tersungkur, berusaha menolong Aksa berdiri.


Ketukan sepatu pantofel menarik perhatian semua orang, Andres datang ditemani Rayana. Pria itu mengikat kedua tangan istrinya. Menjadikan Rayana sandera, sebilah pisau berada di leher dokter cantik.


“Uhh. Pasangan yang saling melindungi. Tapi sayang Aksa, kau terluka dan sebentar lagi aku kubur dengan tanganku sendiri.” Suara Andres benar-benar lemah lembut, tapi pisau di tangannya menggores leher Rayana.


“Wanita ini, istriku tega bekerja sama dengan Elang, menyerahkan semua asetku pada musuh. Menurut kalian, hukuman apa yang cocok untuk seorang penghianat?” Andres mencengkeram kuat rahang Rayana, sembari mengendus harum tubuh istrinya.


“Kak?” Ajeng yang mudah terbawa perasaan melangkah maju, walaupun kakak kandungnya itu jahat tapi darah yang mengalir di tubuh mereka tak terelakan lagi.


Dan ya inilah yang diinginkan Andres, mengandalkan ikatan persaudaraan, dengan menguasai Rayana, maka perlahan Ajeng juga turut jatuh ke tangannya. Hingga akhirnya menghancurkan Aksara.


Dengan tubuhnya yang terluka, Aksa menahan langkah kaki Ajeng. “Jangan sayang, ini permainan Andres. Sekarang dia tidak punya apa-apa lagi, semua sahamnya atas namaku.” Punggung Aksa melindungi Ajeng dan menghalangi jarak pandang.


“Aksa tapi Rayana itu kakakku. Aku … aku tidak tega, tolong bantu kakak, Aksa.” Ajeng terisak di balik punggung suaminya.


“Kenapa Nyonya Caldwell? Kau mau kakak mu kehilangan napasnya sekarang juga? Aku tidak membutuhkan wanita pengeruk harta seperti dia.” Andres semakin dalam menancapkan pisaunya, Rayana hanya bisa meringis kesakitan.


Andres Zotan Caldwell baru mengetahui bahwa Rayana mentransfer sejumlah data penting ke Elang. Dia murka sebab dikhianati dari dalam, oleh istrinya sendiri.


Piciknya Rayana telah mengubah sebagian fixed asset atas namanya. Wanita itu mengincar saham Andres di beberapa perusahaan, tapi sayang belum berhasil.


“Kau ingin kami menyelamatkan Rayana? Tidak, lakukan semau mu, lagi pula dia istrimu kan, Andres?” tantang Aksara, dia juga tidak mau menyerahkan Ajeng dan calon buah hatinya hanya untuk menukar dengan Rayana.


“Kurang ajar kamu Aksara setelah ku bantu mendapatkan data saham Cwell Group, dengan tega memerintah sepupu gilamu membunuhku.” Kata hati Rayana yang menjerit keras dan marah kepada adik ipar serta suaminya.


Diam-diam Andres memberi kode dengan gerakan tangan kepada pembunuh andalan di lantai atas, tanpa mengotori tangan secara langsung, peluru melesat cepat.


Aksa yang menyadari itu segera menggeser badan ke belakang, tapi karena terhambat oleh adanya Ajeng, membuatnya sedikit kesusahan sampai timah panas bersarang di punggung Aksa.


Para pengawal saling menyerang satu sama lain, melindungi Tuannya dari musuh.


Mengabaikan rasa sakit, Aksara membidik ke arah Andres. Sebisa mungkin dia lakukan agar tidak salah sasaran dan mengenai Rayana.


DOR


“Kakak” Ajeng terpekik menyaksikan Rayana jatuh dengan pisau di perut.


“Aksa, kemampuan mu buruk. Kau terlalu lemah, ya faktanya aku jauh lebih kuat.” Andres tertawa, dilihat dari fisik pun dia menang, sedangkan Aksa terkana dua tembakan.


Aksara yang tidak bisa lagi menahan amarah, melangkah maju melayangkan tinju di rahang Andres. Menendang pria itu sampai terpelanting membentur dinding.


“Dengar Andres, pemenangnya hanya ada satu. Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuh keluargaku lagi.” Aksara memukuli Andres tanpa ampun, seandainya kakak sepupu ini bersedia mundur dan tidak mencari masalah, pasti tak akan ada pertumpahan darah antara mereka.


Di tengah darah mengucur dari pelipis, mata, hidung dan bibir. Andres masih tertawa, mencemooh adik sepupunya. Dia tertutup oleh keserakahan dan balas dendam.


“Sekalipun aku sekarat, aku pastikan kau yang mati lebih dulu. Sejak kecil Henry lebih menyayangimu. Di depan hidungku pria tua itu mengatakan bahwa Cwell Group hanya milik pewaris utama, sedangkan aku hanya akan menjadi bayangan dan bawahanmu seumur hidup. Tapi sekarang tidak lagi, aku pastikan kau menyusul Henry, sekarang juga!” sepuluh jari Andres memegang erat kerah kemeja sepupunya, mengalihkan fokus Aksara agar tidak bergerak sedikitpun.


Detik berikutnya dua tembakan kembali terdengar.


Satu peluru berhasil mengenai sasaran, punggung kiri Aksara menjadi santapan utama, dengan harapan menembus ke dalam jantung.


Sniper di luar gedung berhasil menumbangkan pembunuh andalan Andres, pria itu jatuh dari ketinggian gedung. Kepalanya pecah dan tulangnya remuk menghantam kerasnya lobi.


Aksara semakin kehilangan kesadaran, cukup banyak keluar darah. Penglihatannya buram, kepala kunang-kunang, kedua kakinya pun tidak sanggup berdiri lagi. Tapi tidak semudah itu melumpuhkannya, dia melirik kepada Ajeng yang menangisi Rayana serta melihat kepadanya, menggelengkan kepala.


Pandangan Aksa turun ke perut buncit, dalam hati memanjatkan doa, agar istrinya dan anaknya hidup damai dan aman. Kalau ini hari terakhir, maka berlaku juga kepada Andres.


Aksa tidak akan mengizinkan Andres hidup, kemudian menganggu keluarga kecilnya.


“A-J-E-N-G” ucap Aksa terbata, suaranya begitu lemah tak terdengar siapapun.


Tidak mau memberi kesempatan kepada Andres, Aksa meraih senjata yang tergeletak di atas lantai. Menarik Andres berdiri, dan menempelkannya di dada, “Aku tidak akan pergi sendirian Andres.”


Andres yang sudah babak belur sulit untuk melawan, dia hanya bisa menepis tangan adik sepupunya.


DOR


“Ini untuk kakek dan semua perbuatan kejimu.” Desis Aksa, tersenyum tipis.


Tidak berlangsung lama satu suara lepasnya peluru terdengar dari belakang.


Aksara jatuh, kehilangan kesadaran.


TBC


***


Mohon maaf bila ada typo, tandai ya nanti aku revisi🙏😁


Masih di kampung halaman kah?