
Pertama kali coffee shop buka setelah renovasi, antusias pelanggan cukup baik di hari pertama dan kedua. Danang yakin usahanya akan kembali maju dan berjaya, ya minimal sama seperti sediakala.
“Baru dua hari pengunjungnya ramai, memang pintar kamu ini Danang.” Bangganya pada diri sendiri, berdiri gagah di rooftop, memandang rendah seberang jalan . “Kamu sekarang masih ramai. Besok dan seterusnya ku jamin bangkrut.” Licik Danang, upayanya tidak sia-sia membayar mahal mata-mata. Dia juga bisa menerapkan semua ide Well Coffee di Coffee Shop miliknya.
Danang berada di atas angin, sebentar lagi mimpinya tercapai. Lihat saja di bawah, antrian pengunjung memasuki coffee shop. Ditambah dua mesin kopi canggih, semakin menambah kepercayaan diri seorang Danang.
“Keberuntungan keluargaku memang bagus, sebentar Rayana dan Aji menikah, aku bisa kerja sama dengan besan.” Angan-angan Danang begitu kuat, menjadi orang yang paling dihormati di komplek perumahannya. “Untung menantu benalu itu pergi, memang dia pembawa sial.” Danang menyulut sebatang rokok yang terjepit diantara jari.
Danang benar-benar bahagia, hari-hari yang dilaluinya penuh uang dan uang. Mendapatkan barista baru memang tidak mudah, apalagi yang berpengalaman dan bersedia menerima upah rendah satu sampai tiga bulan.
Ayah dari Rahajeng mulai tergoda untuk bersantai di rumah, tidak lagi rutin mengunjungi coffee shop. Bahkan satu minggu yang lalu Danang dan istri pergi berlibur ke Bali, tanpa melakukan pengawasan dan hanya mempercayakan pengelolaan kopi pada karyawan.
Memang sebagai pemilik seharusnya hanya menikmati keuntungan, benar kan? Ya benar Danang tidak salah, tapi usahanya masih muda, sangat rawan goyah atau jatuh diterpa angin persaingan.
Tanpa sepengetahuan Danang satu orang kepercayaannya membawa kabur mesin kopi, mereka tidak puas menerima gaji kecil dengan beban kerja cukup berat. Lagi-lagi Danang mengulang kesalahan yang sama, barista merangkap sebagai marketing. Dia tidak belajar dari kejadian tempo lalu.
Akhirnya coffee shop itu hanya berjalan kurang dari dua bulan, tidak bisa bertahan lama. Biji kopi selalu datang terlambat, kualitas menurun karena Danang membeli dari pemasok lain. Pelanggan kecewa dan meninggalkan kedai kopi Danang.
“Kenapa bisa seperti ini lagi?” geramnya membanting buku laporan keuangan yang dicatat manual oleh seorang pegawai merangkap sebagai pelayan.
Danang belum sanggup membayar tenaga keuangan, sebab mereka semua harus lulusan sarjana, tidak berkenan di gaji kurang dari upah minimum.
“Rugi aku, mesin hilang. Biji kopi basah dan busuk. Dasar supplier murahan, ku cari kau ya. Dasar penipu, bilangnya kualitas terbaik, tapi jelek begini.” Menendang kemasan biji kopi, hingga berhamburan. Danang semakin menarik napas panjang mendapati cara penyimpanan yang salah, lihat saja beberapa kemasan sobek sehingga biji kopi teroksidasi dan memiliki umur singkat.
“Mau aku apakan biji kopi semua ini? Tidak bisa dibiarkan.” Teriaknya memunguti biji kopi dengan perasaan kesal.
Tentu saja percuma menjadi peniru yang baik, jika tidak memiliki ilmu untuk merubah konsep orang lain menjadi sangat luar biasa di tangan, hingga penerapannya tidak maksimal. Danang benar-benar menjiplak Well Coffee bahkan jenis minuman pun sama, tapi dia lupa akan kualitas barang. Terlalu mengandalkan konsep, gunakan modal sedikit untuk meraup untung besar.
Usahanya pun selalu ditinggal, tidak ada tenaga pengawas di coffee shop.. Membuat para pegawai hanya sebatas kerja tanpa peduli akan omset yang diterima.
Ayah dua orang putri itu pulang lebih awal dari biasanya, membawa banyak biji kopi di dalam mobil. Danang bingung mencari pinjaman dana segar kemana lagi, kini harta bendanya hanya mobil dan rumah.
Namun sertifikat rumah masih di bank, belum lunas. Menjual mobil, harga tidak seberapa, terlintas dalam otak liciknya untuk minta bantuan calon besan.
“Iya Aji, calon menantuku pasti bisa bantu, 500 juta mungkin cukup untuk pemulihan coffee shop.” Danang tersenyum mengingat masih ada tambang emas dalam genggamannya. Tapi sayang nomor telepon Aji tidak lagi aktif, sementara Danang tidak bisa menunggu .
Danang yang tiba di rumah segera membuka pagar, mendadak sekelompok ibu-ibu datang, yang jelas semua teman-teman arisan sosialita Maya.
“Silahkan masuk bu.” Ucap Danang ramah, ia pikir istrinya mengadakan perjamuan khusus di rumah.
Di luar dugaan suara nyaring seorang wanita menghina Maya.
‘Bu Maya penipu, sudah dua bulan arisan berliannya belum di bayar, saya rugi Bu. Sekarang bayar sisanya’
‘Kalau sudah tidak sanggup, jangan maksa bu. Dua tas belum lunas, semua anggota menagih saya. Memang tidak ada perhiasan atau benda yang bisa dijual? Bayar hutang Bu Maya’
“Jangan Ibu-ibu saya janji dicicil setiap bulan. Tolong jangan tambah beban bunga.” Isak tangis Maya, memang satu minggu ini bersembunyi dalam rumah. Ketakutan berlebihan pada semua tunggakan arisan.
‘Saya juga pinjam dari Bank Bu, enak saja mau gratisan.’
“Ada apa ini Bu?” tanya Danang begitu polos, dia sama sekali tidak tahu masalah Maya, ternyata istrinya tengah terlilit arisan barang mewah.
Para ibu ketua kelompok menagih pada Danang yang baru saja masuk rumah, bukannya mendapat uang pelunasan, ketiga wanita seumuran Maya malah di usir dari dalam rumah.
‘Dasar budget pas-pasan jiwa sosialita, mereka itu pura-pura kaya padahal gembel’
Rayana yang baru saja datang termangu di pekarangan rumah, hatinya sakit mendengar keluarga tersayang mendapat kata-kata buruk dari tetangga.
‘Oh ini anak kesayangannya pulang. Buah jatuh tidak jauh dari pohon’
Salah satu dari mereka memperhatikan penampilan Rayana begitu modis bak aktris terkenal padahal seorang dokter umum.
“Jaga mulut kalian, masuk rumah orang hanya untuk menghina, itu namanya kekerasan verbal. Bisa dilaporkan sebagai tindak kejahatan.” Rayana terpancing emosi, darahnya mendidih, seumur hidup belum pernah menerima hinaan dan perbuatan tidak menyenangkan.
‘Bapak kamu yang buka pagar, salah kami? Dasar kamu Rayana, sama penjilatnya dengan Maya.’
Wanita cantik itu berusaha melawan, tapi tumbuh kecilnya kalah dari ketiga wanta bertubuh subur, sampai terjatuh di atas kerasnya lantai.
“Aww sakit, kalian lihat nanti kalau aku sudah menikah dengan Aji. Ku habisi kalian satu per satu.” Ancam Rayana mengacungkan satu jarinya.
‘Biar saja Bu dia mimpi, ayo kita pergi. Rumah ini auranya buruk’
Setelah perusuh pergi, Rayana menutup pagar rumah dan menguncinya. Ia tidak menyangka, kenapa semua berbalik menyerang mereka dan merusak tas miliknya yang baru saja lunas satu bulan lalu. Gadis cantik berambut panjang dan bergelombang menangis, memeluk tas brandednya , berjongkok di depan pintu utama.
“Tas ku rusak, dasar ibu-ibu tidak tahu tata krama.” Keterkejutan Rayana belum selesai, sebab dari dalam mendengar sesuatu terbanting keras ke atas lantai, disertai suara telapak tangan yang memukul kulit.
TBC
***
terima kasih kaka atas dukungannya 🙏 tetap sehat ya bulan puasa pertengahan nih mudah tumbang
hari ini up dua ya
😁😁