
BYUR
Tubuh Rudi di siram air, seketika dia kembali bangun. Bisa bernapas lega sebab ular menghilang dari tubuhnya. Tapi para buaya mulai bergerak, bahkan Rudi melihat mata seekor reptil yang menatap padanya. “Sampai hari ini kah nyawaku?” batin Rudi, tidak bisa mengelus dada sama sekali.
“Aksa. Aku mohon maaf, aku salah. Aku sengaja menggunakanmu, karena kamu mendapat perlakuan istimewa dari manager. Ampun Aksa, tolong lepaskan aku.” Wajah Rudi mengiba, tapi tidak semudah itu. Bisa-bisanya, Aksa menanggung beban dan hinaan karena ulah Rudi dan teman kencannya.
“Aku bukan malaikat baik hati Rud, aku manusia biasa yang memiliki rasa marah.” Jawab Aksa dengan tegas, ingat sekali kejadian hari itu, tidak ada seorang pun yang membantunya. Mereka kompak mengusir Aksa dari restoran.
“Kasihanilah Aku, Aksa. Aku pasti bersujud sekarang juga.” Tatapan memohon Rudi, kepalanya mengangguk cepat, sesekali mata terpejam dengan wajah mengkerut. Buaya di bawah kursinya mulai menyundul besi penghalang. Otot pada kerongkongan bergerak, siap menyambut daging segar.
PROK
PROK
Aksa menepuk tangan, menjentikkan jari telunjuk yang bergerak ke kiri dan kanan, diikuti kepalanya. “Bersujud? Aku bukan Tuhan yang harus kau sembah, Rud.” Aksa masih menikmati rasa takut mantan temannya ini.
“Aku mohon Aksa, apapun. Aku janji, semua aku lakukan, janji. Kau bebas menyerahkan ku ke penjara.” Rudi menangis histeris, dia menyesal tapi hanya sedikit, uang hasil curiannya juga dia nikmati sampai habis bersama wanita lain.
“Bagaimana ya? Kau tidak tahu kan rasanya hidup hanya mengandalkan penghasilan istri, ya untung istriku ini sedikit murah hati jadi memberi suaminya uang membeli pulsa.” Ekor mata Aksa melirik Ajeng yang menegang di sisinya.
GLEK
Ajeng menelan saliva. “Apa maksud Aksa, apa aku akan duduk di sana juga?” hati Ajeng menjerit, dia tidak akan sanggup bertahan lebih dari sepuluh menit. Pasti mati ketakutan.
“Aksa maaf, Ajeng maaf. Aku benar-benar menyesal. Aku sangat bersalah tapi kasihanilah aku, anak dan istriku di rumah Aksa.” Tiba-tiba Rudi mengingat istri yang selalu dipukulinya ketika kehabisan uang.
Kepala Aksa menengadah ke atas, berpikir sesuatu, seperti mempertimbangkan semua perkataan Rudi. Kemudian manggut-manggut tanda setuju, memang anak dan istri Rudi sangat membutuhkan perhatian. Aksa diam, lalu memerintahkan anak buahnya melepas rantai.
Seringai Rudi tampak jelas. “Ternyata Aksa masih sangat lemah, dia selalu terperdaya. Untunglah aku sudah menikah dan memiliki anak.” Celetuk Rudi dalam hati, bernapas tenang. Sekarang hanya tinggal menunjukkan sikap bersalahnya saja.
“Tapi … istri yang mana? Memang kamu punya istri lebih dari satu? Setahuku, lama sekali seorang Rudi tidak pulang ke rumah, bahkan anak, istrimu dibiarkan hidup kekurangan, terlantar. Pria macam apa kau, hah?” bentak Aksa. Sebelumnya telah menyelidiki semua tentang Rudi. Ya, mantan teman itu, 4 bulan tidak kembali ke istrinya, lebih memilih menjadi benalu pada kekasih gelapnya.
“Kalian!” Aksa menunjuk pada tiga pengawal di depan. “Pastikan dia naik pesawat dan sampai tujuan dengan selamat, tenaganya dibutuhkan di sana.” Ucap Aksa begitu ambigu, menimbulkan pertanyaan pada kepala Rudi.
“Maksudmu, a-apa?” Rudi heran, setelah berhasil lepas dari rantai sekarang kedua tangannya di borgol, kakinya juga. Tidak mengerti tujuan Aksara, lalu seorang pengawal mengalungkan identitas khusus di leher Rudi.
Aksara mengirim Rudi pada daerah konflik, di sana kekurangan tenaga untuk mengatur konsumsi para tentara. Sementara istri dan anak Rudi, akan mendapat kiriman uang untuk biaya hidup, tanpa diketahui pria itu. Prihatin akan kondisi balita yang keluar masuk rumah sakit, istri Rudi yang masih sangat muda merawat putranya sendirian sembari bekerja.
Sedangkan untuk staf keuangan yang bekerja sama, Aksa melimpahkan kasusnya pada kepolisian. Mungkin besok atau hari ini mulai di tahan di kantor polisi terdekat.
“Kita pulang sayang.” Aksa merangkul bahu Ajeng yang gemetaran sejak tadi, takut nasibnya berakhir seperti pelayan restoran. “Kamu kenapa Ajeng? Kamu sakit?” perhatiannya Aksa, menyentuh pipi dan kening istrinya.
“Aku … aku takut Aksa. Kamu melakukan hal yang sama, aku pasti mati ketakutan.” Cicit Ajeng, suaranya sangat lemah, wajahnya pucat seakan tidak dialiri oleh darah merah.
Menyadari ketakutan istrinya, Aksa tidak berniat jahil. Jujur kasihan sekali Ajeng harus menyaksikan hal mengerikan seperti ini. Tapi, Aksa lakukan demi kebaikan semua, tidak membuang waktu melepaskan Rudi bebas begitu saja.
“Hukuman mu kan jelas, jangan menggunakan alat pencegah kehamilan apapun. Maaf Ajeng, sekalipun kamu menolak, aku akan tetap melakukannya, aku pria normal yang menginginkan keluarga utuh.” Ucap Aksa, tak ada nada kehangatan pada setiap kata yang keluar.
“Lupakan! Itu masa lalu. Bila perlu kita konsultasi dengan dokter kandungan. Aku mau Aksa atau Ajeng kecil ada di sini. Cukup lama kita menunda kehadirannya, Sayang.” Aksa menyentuh perut istrinya sembari tersenyum kecil.
**
Di rumah sakit, Elang memegangi perut yang nyeri akibat tertawa terus menerus. Melihat rekaman Rudi mengompol sangat menghibur.
“Kenapa dengan betina penakut? Padahal aku sengaja memilih ketiganya perempuan, heh seharusnya dia senang.” Monolog Elang masih setia memandangi layar iPad.
Elang menyambut baik rencana Aksa untuk membuat Rudi ketakutan. Pria ini bersemangat mencari reptil betina sampai ke pelosok desa.
Tapi Elang geram, seandainya dia ikut, pasti Rudi akan babak belur merasakan kepalan tangannya. Berani sekali dia melakukan penipuan, pemalsuan sekaligus pencurian yang dituduhkan pada Aksa.
“Sudahlah, misi kedua tuntas. Aku membayangkan, pasti dia tidak bisa tidur nyenyak tinggal di sana, setiap hari harus mendengar letupan senjata, mungkin juga bom.” Seringai Elang, memberi sedikit pemanasan pada Rudi sebelum dirinya menyusul ke balik jeruji besi.
Ting
Telunjuknya menyentuh layar dan mendapat pemberitahuan mengenai Rudi. Elang berinisiatif menghubungi bosnya, menyampaikan bahwa Rudi telah diangkut menggunakan pesawat logistik menuju lokasi.
“Kemana Tuan Muda Caldwell? Seharusnya dia sudah sampai di hotel. Kenapa lama sekali menerima teleponnya.” Keluh Elang, panik. Ketika sakit pun tidak bisa istirahat tenang, sebab keamanan Aksara menjadi prioritas utama.
Elang masih sibuk menekan ponsel mengirim pesan pada pengawal yang jumlahnya tidak sedikit, beruntunglah ada grup jadi mengurangi pekerjaan ibu jarinya.
Dia tidak menyerah, masih tetap berusaha mencari tahu di mana Aksa sekarang. Akhirnya panggilan ke sepuluh diterima, tepat setelah dering ke dua.
“Ada apa?”
Suara Aksa, terengah-engah seperti dikejar sesuatu. Tidak mungkin kalau bertengkar dengan Rudi. "Atau para reptil mengejarnya, bukan kah Aksa menyukai ular juga?" pikir Elang.
“Syukurlah, maaf Bos aku terlalu mengkhawatirkan-mu.” Tutur Elang, menghela napas panjang.
“Aksa, mau mandi bareng? Jangan tidur dalam keadaan berkeringat nanti gatal.”
Suara Ajeng dari balik telepon, membuat Elang sadar akan sesuatu, jangan-jangan dirinya mengganggu Tuan Muda Caldwell.
“Istirahat Elang jangan begadang, apalagi terus melihat video Rudi.”
Elang terpaku memandangi ponsel, teganya Aksa memutus sambungan telepon secara sepihak.
TBC
***
ditunggu dukungannya kakak🙏🙏 terima kasih