I'M A Billionaire

I'M A Billionaire
BAB 25 - Lancangnya



Ajeng tetap setia menunggu Rayana selesai praktik, bukan di dalam rumah sakit melainkan pinggir jalan. Membeli makanan untuk santap malam nanti, tidak banyak cukup dua box ayam geprek dan dua gelas jus alpukat.


“Kakak lama juga ya.” Ajeng duduk di bangku salah satu kios fotocopy.


‘Nunggu siapa, Mbak? Tumben lama, suami ya?’


“Oh Dokter Rayana.” Jawab Ajeng penuh senyum manis, bibirnya melengkung indah di mata seseorang, yang saat ini tengah mengamati dari jarak beberapa meter.


Hampir satu jam, kaki dan bokong kebas, serta kepala yang pusing ingin merebahkan diri. Rayana datang bersama seorang rekannya.


“Ajeng, ayo. Teman kakak mau ikut main, bukan masalah kan? Tidak sampai malam, tenang saja.” Rayana yang tidak tahu malu itu melenggang pergi berdua, sedangkan Ajeng mengekor dibelakang, membawa kantung berisi makanan.


“Br3n9*** Rayana. Harus ku apakan supaya kau jera, hah?” marah seseorang di balik helm biru. Kalau saja tidak ingat akan sesuatu pasti dia akan menyeret penyihir itu dan mendorongnya ke jalan.


Berjalan sejauh 500 meter ke belakang rumah sakit, Ajeng paling terakhir menutup pagar. Manik jernihnya sempat menatap pada motor merah di pinggir jalan, sangat mencurigakan.


“Mana mungkin penjahat.” Gumamnya dalam hati, tentu saja penjahat macam apa yang menggunakan Ducati Desmosedici. Belum lagi helm yang digunakan sama seperti pembalap pada MotoGP, ya setidaknya Ajeng pernah mengikuti acara tersebut di televisi bersama Aksa.


Seketika Ajeng semakin merindukan sosok suami sederhana yang begitu penyayang dan romantis. “Aksa … semoga kamu selalu dalam lindungan Sang Maha Kuasa.” Lirih Ajeng dalam hati.


Bersamaan dengan itu segenggam otot dalam rongga dada pengendara motor merah berdetak tak karuan, merasakan sesuatu.


Hingga malam hari tepatnya pukul delapan malam, Ajeng masih setia menjamu Rayana dan temannya di kamar kos. Dalam hati ingin sekali mengusir dua orang itu, tapi Ajeng tidak berdaya. Pertama, Rayana kakak kandungnya. Kedua, menjaga hubungan baik, ya mengesampingkan perasaannya sendiri.


“Ajeng, kakak boleh minta tolong sesuatu? Kamu bisa kan bantu antar teman kakak ke depan jalan? Bisa ya Ajeng.” Tatapan Rayana sangat mengiba, berharap adiknya patuh tanpa membantah.


Ajeng yang memang penurut, terpaksa melakukannya, ia pun keluar dari kamar masih tetap menggunakan seragam dinas.


Tatapan pria di atas motor merah tertuju pada Ajeng, tapi ada sesuatu yang lebih penting. Dia melihat Rayana di atas sana, menyembulkan kepala, melirik ke kanan dan kiri, kemudian menutup pintu. Merasa ada rencana tersembunyi, manusia berhelm ini segera turun dan masuk pagar, menyelinap ke samping bangunan mencari sesuatu.


“Dasar tikus kecil.” Geramnya mengeluarkan sebuah alat dari dalam jaket hitam. Seketika listrik di kos-kosan padam. Semua penghuninya menjerit terkejut, dan keluar. Mengajukan protes pada pemilik, karena dianggap belum membayar listrik.


Mengandalkan kondisi gelap gulita, sosok misterius melompati dinding, memutar jalan. Di depan pagar utama berpapasan dengan Ajeng. Degup jantung keduanya berdentum kuat, suaranya nyaris terdengar.


Ajeng bergeming di tempat, menyaksikan motor 1000 cc melaju cepat menuju jalan utama. Hatinya begitu kenal dan hapal akan postur tubuh, tapi otaknya berusaha menepis semua kecurigaan.


Mendengar suara protes penghuni lain, Ajeng terkejut kos-kosan gelap, senter dari ponsel digunakan sebagai sumber utama cahaya.


Rahajeng Prameswari tidak sengaja menginjak sesuatu di atas lantai. “Apa ini?” diambilnya sesuatu itu. Keningnya mengkerut. “Buku nikah ku dan Aksa kenapa ada di luar kamar? Perasaan aku simpan di dalam lemari.” Batin Ajeng langsung mencurigai Rayana.


Tapi keberadaan Rayana tidak diketahui, menghilang entah kemana.


Rupanya dokter cantik itu ikut protes sebab padamnya listrik secara mendadak.


**


Di Hotel


“Hah, kemana Tuan Muda? Kenapa kalian tidak tahu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?” panik Elang, bosnya sangat licin seperti belut. Pengawasan hotel sudah ketat, bagaimana Aksara bisa kabur dengan mudah? Tidak mungkin dia memiliki keahlian teleportasi.


Elang memerintahkan anak buah menyisir gedung tanpa terlewat satu celah pun.


“Aksa di mana kamu? Kenapa pergi tanpa memberi kabar?” Elang berjalan mondar mandir di lobi.


“Wah, refleksmu bagus. Aku yakin pelatihan selama enam tahun tidak akan sia-sia.” Tawa Aksa melewati Elang yang kebingungan.


“Tugas asisten pribadi memang sangat berat, Ayah tolonglah putramu ini.” Kedua tangan kekar Elang menengadah ke atas.


Aksara dan Elang tidak bisa terlalu lama di Indonesia, dua pria itu segera kembali ke Swiss. Namun dengan segudang rencana yang baru di mulai, Aksa memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Bagaimanapun dirinya tidak bisa bekerja sendirian, masalah bisnis selalu ada Elang yang setia mendampingi, sedangkan perihal masa lalu yang menyakitkan, Aksa memerlukan dukungan pihak lain.


.


.


Setiap hari selama dua bulan Aksa mendapat laporan secara detil tentang rencana Danang, bahkan ayah mertuanya itu nekat meniru konsep usaha milik Well Coffee.


Mengandalkan sisa uang penjualan tanah, Danang membayar mahal dua orang yang dia jadikan mata-mata.


Hahaha


Tawa renyah Danang, membaca satu per satu catatan dari anak buahnya. Dia yakin satu bulan lagi Well Coffee akan berubah menjadi hutan dan ladang rumput untuk pakan ternak.


“Kalian pikir bisa mengalahkan aku, hah?” mulai besok Danang pastikan coffee shopnya ramai dan laris manis.


Selain berhasil menjadi seorang peniru, dia juga bahagia karena Rayana menerima lamaran Aji. Sebentar lagi sayap usahanya semakin berkembang ke penjuru negeri.


“Pak makan dulu, jangan sampai masuk angin lagi.” Suara penuh kasih sayang dari Maya. Senang rasanya mendapat uang kembali, walaupun Danang memberi peringatan keras untuk berhemat. Tapi Maya mana bisa? Arisan sosialitanya tetap berjalan, sekalipun sesak napas dalam pembayaran tidak peduli.


“Iya bu. Nah begini bu, masak atau kalau tidak sempat ya beli! Jangan kosong melompong di atas meja.” Sindir Danang, melirik pakaian baru yang digunakan istrinya.


Maya tidak hanya menggunakan uang suami tetapi mengambil sedikit uang lamaran dari keluarga Aji. Dirinya tidak tahan melihat rekeningnya terisi dana.


“Ibu beli baju baru? Uang darimana?” selidik Danang menyentuh serat kain yang menutupi keindahan tubuh Maya.


“Ya … ya dari Bapak, ini baju sisa di toko sebelah. Harganya murah Pak.” Sahut Maya asal, menutupi kebohongannya. “Tenang saja Pak, jangan khawatir. Percayakan semua sama Ibu ya.” membelai punggung dan memberi pijatan di punggung Danang.


“Jangan sampai ibu pakai uang pernikahan Rayana, cari mati dengan keluarga Aji. Bisa malu nama Bapak di komplek ini.” Tegas Danang, mengacungkan satu jari tepat di depan hidung istrinya.


Maya hanya sanggup menelan ludah dengan susah payah. “Nanti ibu ganti Pak, kalau dapat arisan. Ibu jual berlian.” Batinnya begitu was-was akan gertakan sang suami.


TBC


***


selamat malam dan selamat istirahat


😁😁😁😁


terima kasih dukungannya


terima kasih atas waktu kakak semua


🙏