
Tin … tin
Suara klakson dari Rolls Royce mengganggu seluruh penghuni rumah, penjaga pintu gerbang utama segera membuka. Sekilas tidak ada yang ganjal, semua aman terkendali. Pengawal masih lalu lalang di sekitar rumah, mobil asing juga tak nampak, baik di dalam area parkir atau jarak belasan meter.
Kepala pengawal bisa dihubungi setelah Aksara tiba di perumahan, seluruh petugas menyisir satu persatu. Memastikan hanya ada warga sekitar dan Andres tidak mendekati istri dari Bosnya.
Setelah pintu terbuka lebar, Aksa berlari memasuki kamar utama dan ruang baca, memanggil nma istrinya, “Ajeng … sayang, Rahajeng, kamu di mana? Ajeng.” Membuka setiap pintu, bahkan walk in closet pun tak luput dari pencarian Aksa.
“Sial, di mana dia?” Aksa terus berusaha mencari, tersisa saru ruangan lagi, kamar Catlin.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, pria dengan five o’clok shadow itu membuka keras pintu, hingga dua wanita di dalamnya terlonjak. Catlin hampir terjungkal dari atas ranjang.
“Apa yang kamu lakukan sih Aksa? Bisa mengetuk pintu kan?” Catlin sadar ini rumah temannya, tapi masuk kamar wanita lain sembarangan sangat tidak tahu tata karma.
“Syukurlah kalian berdua baik-baik saja.” Aksara bisa bernapas, paru-parunya kini dipenuhi oksigen yang semula sangat irit dan pelit, sebab paling penting mengetaui Ajeng dalam keadaan aman.
“Maksudmu apa hah? Aku dan Ajeng sehat.” Catlin merampas pop corn dari tangan teman wanitanya.
“Aksa, kamu pulang lagi? Ada barang yang tertinggal? Aku rasa semua sudah masuk tas, kamu lihat sendiri kan tadi malam aku …” Ajeng yang penasaran, berpikir sendiri, manik hitamnya menerawang pada catatan barang yang diserahkan Aksa semalam.
Aksa sengaja menyela kalimat istrinya, dia meraih tangan Rahajeng lalu memeluk erat. “Terima kasih sudah menurut. Andres ada di sini, jam enam pagi pesawatnya tiba di bandara. Menurut informasi dia mengunjungi seseorang yang memiliki hubungan denganku.” Tutur Aksa menangkup kedua pipi Ajeng, menciumi kening, kedua pipi, hidung, bibir dan dagu.
“Kalian itu, hargailah kaum jomblo. Sebaiknya pindah ke kamar, lupakan Andres sementara waktu!” seru Catlin mendorong Aksa dan Ajeng keluar dari kamar. Jengah rasanya, setiap hari disuguhkan pemandangan dua orang yang saling bercumbu.
“Cat, keluar! Aku yakin sepupu mengincar kalian berdua, tidak mungkin kalau dia datang ke sini hanya untuk liburan.” Aksa menatap lekat pada Ajeng dan Catlin, dua wanita yang harus dilindungi sekarang.
“Andres berhasil meretas data pribadi, sekarang dia tahu pasanganku Ajeng bukan kamu, Cat.” Wajah serius Aksa tidak pernah setegang ini. Dulu, saat melarikan diri Aksa ketakutan nyawanya dalam bahaya tapi berbeda, sekarang ada banyak orang yang harus diperhatikan terutama Ajeng.
Aksara beralih menghadap jendela, memandangi puluhan pengawal yang masih berdiri di tempat. Otaknya berputar, kemana Andres, apa tujuannya saat ini? Antara bingung dan bersyukur, Aksa sendiri tidak tahu apa yang akan sepupu angkatnya itu lakukan kepada istrinya.
Sedangkan Elang mendadak hilang setelah tiba di rumah, alasan yang diberikan tidak berbelit. Hanya memeriksa keadaan kantor cabang Cwell Group.
**
Di pedesaan jauh dari hiruk pikuk polusi dan bisingnya kendaraan. Rayana kebingungan mendapat tamu asing, secara mendadak bersikap sangat baik dan menawarkan bantuan.
“Kenapa melamun cantik? Aku sengaja datang ke sini menjemput, kamu mau pulang kan? Ah maaf calon suami mu ini datang terlambat.” Tawa Andres, mengikis jarak semakin tipis dengan Rayana.
“Jangan mendekat, aku tidak menjalin hubungan apapun dengan pria. Anda salah orang, silakan pergi. Permisi.” Rayana memilih menjauh, dia tidak mau terlena pada wajah dan penampilan pria yang sangat menyita perhatian. Jujur Andres memiliki pesona tersendiri, tapi matanya itu sangat menyeramkan.
“Miss … jangan galak dan menolakku, kau tahu, kesempatan tidak datang dua kali. Will you marry me?” Andres merendahkan diri, bersimpuh di atas lumpur, mengotori celana serta mantelnya. Dia yakin wanita mana yang sanggup mengabaikan seorang Andres.
Rayana akui sangat menyukai uang, benda berkilau dan status tinggi. Namun menikahi orang asing sama sekali tak terlintas dalam pikirannya. Dia meneguhkan hati, tidak menjawab apapun, langsung berlari cepat memasuki rumah gubuknya yang berjarak 500 meter.
“Ah aku ditolak wanita. Apa Bos mu ini jelek ya? Satu lagi, ya memang cincin ini lebih pantas diterima oleh Rahajeng.” Andres berdiri, memandangi celananya yang kotor dan basah. “Lakukan rencana kedua, malam ini aku tunggu. Jangan gagal!” tegas Andres, menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh. Dia pikir kakak ipar sepupunya, bisa mudah menerima lamaran dengan cincin bermata batu indah.
Andres pun bergegas bermalam di salah satu hotel terdekat, tubunya terlalu lelah melakukan perjalanan lintas benua. Usahanya sama sekali tidak dihargai oleh calon istri.
Tiba di penginapan, Andres semakin sibuk bertatap muka virtual dengan Elang. Dia lebih banyak berceloteh tidak jelas, sembari mendengarkan serangkaian pemaparan Elang.
“Oh bagaimana reaksinya? Dia terkejut? Terima kasih kawan atas bantuanmu.” Andres tergelak, memutar video kepanikan Aksara dari bandara hingga sampai di rumahnya.
“Tuan ke mana? Saya pikir mengunjungi Nyonya Muda Caldwell. Tuan Aksa mencari keberadaan Anda.” Tutur Elang sangat hati-hati, dia memperhatikan seisi ruangan Andres. Tapi tidak tahu di mana letak pasti pria ini.
“Tadinya, tapi aku takut kehilangan kuku lebih cepat. Bos mu itu menyeramkan juga ya, sayangnya dia masih Aksa yang sama, sangat takut kehilangan orang tersayang. Lemah.” Kedua sudut bibir Andres berkedut, matanya tetap fokus memperhatikan layar di depan.
Dia harus waspada, bagaiamanapun Elang bekerja untuk Aksa, ya tidak lama lagi. Karena asisten rupawan itu sudah menyatakan kesetiannya kepada Andres.
.
.
Malam semakin larut Andres masih berdiri , menyesap wine di botol. Dia menunggu kehadiran seseorang. Seharusnya tiga puluh menit yang lalu sudah terbaring di atas ranjang, tapi sekarang lebih dari satu jam, anak buahnya masih mengatasi perempuan liar bernama Rayana.
“Ck lama”
Andres duduk tepat menghadap ke arah pintu. Menghitung detik pada jarum jam di pergelangan tangan.
Ting … tong
Bel kamar mulai mengusik, yakin akan pesannya sudah tiba dan siap disajikan sesuai keinginan Andres.
‘Maaf Tuan menunggu, Nona Rayana melawan, satu anggota kami terluka parah di kepala.’
“Hem, gunakan itu!” tunjuk Andres pada tas berisi peralatan. Dia menyaksikan kedua tangan dan kaki Rayana terkunci pada borgol.
Cukup lama Andres menunggu Rayana siuman, beberapa pekerjaan ilegalnya pun telah ia selesaikan.
Menoleh lalu mendengus kesal, mengusik tidur Rayana menggunakan kaki. “Bangun, pemalas! Waktunya kerja, sayangnya kamu cantik, aku tidak tega melukai wajahmu Nona.” Andres mengeluarkan pisau lipat dari dalam laci, menggoresnya perlahan pada punggung kaki Rayana.
Sontak kedua mata yang terpejam erat, mengerjap dan terbelalak melihat pria bertelanjang dada tengah duduk di ujung ranjang.
TBC
**
selamat libur cuti bersama😁